Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Tempat itu



"Awalnya enggak. Karena kak Arga ngikutin kak Asha yang biasa main basket di sini, jadi aku ikutan seperti mereka. Suka juga main ke sini." Paris menjelaskan.


"Jadi kakak iparmu suka sekali main basket ya ... Keren juga." Biema memuji.


"Ya. Dia memang keren," sahut Paris dengan mengingat kembali kenangan waktu itu. Biema menoleh ke kanan ke kiri. "Belum pernah ya, main ke sini?" tanya Paris melihat Biema merasa asing. "Kelihatan banget polosnya," imbuh Paris. Bola mata Biema yang awalnya melihat ke arah keramaian alun-alun kota, kini berganti melihat ke arah Paris yang mendongak ke dirinya.


"Iya, belum. Baru kali ini," jawab Biema. Setelah menjawab, ia kembali berjalan sambil melihat-lihat ke sekeliling. Mereka tiba di area makanan pilihan Paris.


"Kita akan makan disana," tunjuk Paris pada warung yang sebenarnya ia tahu dari kakaknya. Saat mereka, Asha dan Arga makan bareng waktu itu. Tidak ada jawaban dari Biema. Paris menoleh ke samping. Rupanya pria ini sedang memperhatikan ke sekeliling. "Kalau tidak nyaman, kita bisa ganti tempat. Aku tidak harus memaksamu," kata Paris sambil menghentikan langkah ingin kembali. Biema menoleh pada Paris dengan cepat.


"Kenapa? Aku tidak apa-apa. Memang aku belum pernah ke sini, jadi sedikit merasa asing. Kalau ternyata ini tempatmu dulu main, aku juga harus tahu. Karena aku juga ingin mengerti semua hal tentang istriku," kata Biema.


"Jangan melakukan itu dengan terpaksa. Kalau tidak nyaman, bisa cari tempat lain." Paris mengibaskan tangannya.


"Kenapa jadi kamu yang memaksaku pergi? Aku mau kesana," rengek Biema tiba-tiba. Pria ini mendadak bersikap agak manja.


"Oke. Kita tetap kesana." Paris mengangguk. "Ayo jalan lagi," ajak Paris. Biema ikut melangkahkan kakinya lagi.


"Kamu harus bahagia," ujar Biema lirih saat mereka berjalan beriringan. Paris melirik seraya menipiskan bibir.


"Aku memang harus bahagia," sahut Paris. "Kamu juga harus bahagia, Biem. Jangan hanya sebelah pihak," lanjut Paris sambil jalan. Biema tersenyum seraya melingkarkan tangannya di bahu gadis ini.


"Kamu juga peduli, ya ... kalau aku tidak bahagia?" goda Biema.


"Tentu saja." Paris berucap pongah. Biema kembali tersenyum.


"Kemana aja kalau bareng kamu aku pasti bahagia," ujar Biema mengaku. Paris mendengus. Sebenarnya ia bahagia mendengar gombalan Biema. Padahal dulu, dia sangat anti acara gombal menggombal. Namun saat pria ini mengatakannya, dia justru senang.


Setelah duduk dan memesan nasi jagung yang katanya kak Arga enak sekali, Paris mulai makan.


"Jadi ingat kata kak Arga," kata Paris di tengah makan.


"Kunyah dulu, baru ngomong," kata Biema memberi nasehat.


"Terus?"


"Namun menurutku, Kak Arga bilang ini nasi jagung paling enak karena tempat ini favorit kak Asha," ungkap Paris.


"Begitu ... Lalu menurut kamu, nasi ini gimana?" Biema malah balik tanya.


Paris menelan makanannya dulu baru menjawab. "Enak. Karena harga segini sudah dapat nasi jagung lengkap." Paris menunjukkan nasi jagungnya yang beralaskan daun pisang. Biema tergelak.


"Jadi ini termasuk dalam tempat makan favorit kamu sekarang?" tanya Biema. Paris mengangguk. Bola mata Paris menemukan Biema yang sepertinya kesulitan makan dengan memegang daun pisang yang di jadikan alas buat nasi.


"Kenapa enggak bilang kalau sudah makan pakai alas daun begini ..." Karena terlalu fokus dengan makanannya, Paris memang tidak terlalu memperhatikan. Paris meletakkan nasinya di alas lesehan mereka lalu mendekat ke Biema.


"Enggak apa-apa," kata Biema menolak bantuan istrinya.


"Enggak apa-apa gimana. Aku akan pinjam piring ke ibu itu." Paris berdiri dengan membawa nasi Biema. Berbincang sebentar, kemudian kembali. Ternyata dia kembali tanpa membawa piring. "Ibu itu tidak menyediakan piring," kata Paris kecewa.


"Siapin aja," kata Biema membuat Paris mendelik karena terkejut. Ia segera mendekat ke arah Biema. Duduk lesehan sangat dekat sekali.


"Minta disuapin di keramaian seperti ini?" desis Paris di dekat telinga pria ini.


"Ya," jawab Biema yakin. Paris meringis. Dia kebingungan. Setelah itu Biema tergelak. "Tentu saja enggak. Walaupun sebenarnya aku sangat ingin. Aku masih perlu mikir lagi soal keramaian ini," kata Biema yang rupanya sedang ingin menggoda istrinya.


"Ih," keluh Paris memukul lengan Biema dengan gemas. Rupanya gadis ini benar-benar sedang memikirkan cara bagaimana menyuapi suaminya di tengah keramaian ini. Dia tidak Ingin menolak keinginan Biema.


"Kamu benar-benar berpikir aku minta disuapin kamu disini?" seloroh Biema.


"Tentu saja. Entah kenapa sejak di rumah mama, kamu suka sekali minta siapin," gerutu Paris sambil menjauh dari tubuh Biema.


"Jadi kalian ada di sini?" tegur seseorang yang berdiri di depan lesehan mereka.