Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Biema frustasi



Pulang kerja sore ini tampak berbeda dari kemarin. Karena sejak dua hari yang lalu, perang dingin sedang melanda dua pasangan ini. Namun sekarang, saat mereka sudah menuntaskan perasaan abu-abu dan samar yang menciptakan nuansa mendung, atmosfir di dalam mobil menjadi merah muda. Manis dan indah.


Berjalan di lorong apartemen berdua juga menyenangkan.


"Kamu pulang cepat hari ini," kata Paris di samping Biema. "Aku sempat berpikir akan tinggal sementara di kantormu karena akan lama menunggumu menyelesaikan pekerjaan." Paris mengatakan dengan sangat hiperbola.


"Aku membuatnya cepat. Aku tidak ingin berlama-lama di kantor," jawab Biema tegas.


"Mmm ... perubahan yang wow sejak dua hari lalu," ujar Paris.


"Siapa juga yang sudah membuat dua hari kemarin seperti neraka?" sindir Biema.


"Itu berlebihan," ejek Paris.


"Entah buat kamu, tapi aku merasakan itu. Sangat tersiksa enggak bisa bicara dengan leluasa ke kamu demi menjaga perasaanmu." Paris melirik. Biema masih melihat lurus ke depan.


"Terima kasih sudah berjuang menjaga perasaanku yang masih labil antara cinta dan tidak. Biema itu ternyata sehebat ini. Aku salut," ujar Paris sambil menepuk punggung Biema. Sedikit berjinjit karena tubuh menjulang Biema. Pria itu menoleh.


"Kamu jadi kagum padaku?" goda Biema sambil memiringkan kepala. Paris mencebik seraya melepas tangannya dari punggung Biema. Tangan Biema terulur untuk mengacak rambut gadisnya. Membalas tepukan pada punggungnya. "Teruslah melihat ke arahku, Paris. Aku yakin kamu akan semakin mencintaiku."


"Cih, percaya diri banget," ejek Paris. Biema tersenyum. Gadis ini mempercepat langkahnya menuju pintu apartemen. Membiarkan Biema berjalan sendiri di belakang.


Cekrek!


Terdengar suara kamera di nyalakan entah darimana. Karena suara itu hanya bisa di dengar oleh si pemegang kamera, Biema dan Paris tidak bisa mendengar suara itu. Ada yang sengaja mengikuti mereka berdua.



Setelah pengakuan cinta kedua belah pihak, suasana di dalam apartemen menjadi begitu damai dan tenang. Namun ada lagi permasalahan yang mereka debatkan. Yaitu soal kamar tidur mereka. Bukankah kamar tidur mereka selama ini terpisah?


"Harusnya kita satu kamar tidur, Paris." Biema mengawali pembicaraan soal kamar tidur terpisah saat dirinya berada di atas sofa. Duduk sambil nonton tv. Padahal acara tv malam ini di bawah rating. Biasanya Biema enggan menonton. Namun efek bahagia dari pengakuan cinta membuat semuanya indah. Bahkan tontonan yang jelek pun tetap menyenangkan.


Paris yang sedang membuat jus alpukat di pantry terkejut mendengar itu. Dia tidak menduga pengakuannya tentang cinta di hatinya, berbuntut pada soal penyatuan kamar mereka.


"K-kenapa?" tanya Paris yang tiba-tiba gugup tanpa menoleh.


"Suami istri itu bukannya satu kamar?" kata Biema masih duduk di atas sofa seraya menengok ke pantry dengan tenang. Padahal Paris sudah sangat gugup mendengar pria ini membicarakan soal kamar tidur. Gadis ini tidak segera menjawab. Dia kebingungan saat di tanya soal penyatuan kamar tidur ini, karena tidak terpikirkan sama sekali sebelumnya.


Sial. Kenapa membahas itu? Dadaku berdebar nih. Aku deg-degan.


"Sepertinya kamu sangat gugup," kata Biema lembut di dekat telinga Paris. Gadis ini berjingkat karena kaget. Tanpa suara, tahu-tahu Biem sudah berada di sampingnya.


"Kamu s-sudah di sini? Sejak kapan?"


"Barusan," jawab Biema sambil tersenyum. Paris merapikan rambutnya tanpa sadar.


Jika biasanya Biema menggoda Paris hanya lewat kata-kata, kali ini tubuh Biema berani mendekati gadis ini.


"A-apa? Kenapa mendekat?" tanya Paris tidak bisa menenangkan dirinya. Dia terus saja gugup dan berdebar. Apalagi Biema mendekatinya dengan sorot mata ingin melahapnya.


"Apa yang kamu pikirkan, hingga gugup sekali?" tanya Biema yang terus mendesak ke arah Paris. Gadis ini membiarkan blender itu menyala saat tubuhnya mundur menghindari desakan tubuh Biema. Tangan pria ini terulur dan menghentikan pergerakan blender sambil terus mendekati gadisnya.


"Benarkah?" tanya Biema yang tidak berhenti mendesak Paris untuk terus mundur.


Sial. Pria ini sengaja ingin mendesakku! Mau apa dia?


"Ya. Itu benar. Berhenti, Biema!" Akhirnya Paris kembali normal. Dia bisa berteriak lagi. "Berhenti, kalau tidak ..."


"Hati-hati." Dengan sigap, Biema langsung menarik lengan Paris karena hampir saja menabrak rak oven. Hingga membuat tubuh Paris terpelanting ke dadanya.


"Fyuh ... Hampir saja." Paris bisa bernapas lega. Namun saat ingin bergerak, Paris mulai merasakan tubuhnya terbelenggu. Ketika itu di depan matanya adalah dada bidang seseorang. Itu milik Biema. Dia sadar sekarang. Saat ini dia tengah dalam dekapan lengan Biema.


Ketika kepalanya mendongak, Gadis ini mendapati Biema tengah memandanginya sambil menyeringai.


Aku terjebak! teriak Paris dalam hati.


Benar saja firasat yang di rasakan Paris. Biema menundukkan wajah dan menciumnya. Paris pasrah saat bibirnya di ciumi pria ini. Ia menerima.


"Balas aku Paris," lirih Biema di sela-sela ciumannya. Paris tidak menduga Biema memintanya. Gadis ini sedikit ragu. Dia belum pernah berciuman bibir. Bahkan dengan Lei _ mantannya pun belum pernah. Lei hanya menciumnya di dahi. "Lakukanlah," pinta Biema. Paris pun berusaha membalas ciuman Biema sebisanya. Biema tersenyum puas, Paris mau melakukannya. Meskipun ketika gadis ini mencoba meniru menggerakkan lidahnya, dengan kikuk.


Ciuman ini rupanya bukan memuaskan, justru membuat Biema menginginkan lebih. Hingga dia harus menahan diri sekuat tenaga. Hasratnya sudah naik membuatnya kebingungan sendiri. Paris merasakan kegelisahan Biema. Akhirnya Biema memilih melepaskan ciumannya.


Napas Biema terengah bersama dengan geraman kesal menahan hasrat. Namun dia tetap melingkarkan lengan di pinggul Paris. Setelah berhasil mengatur napas, jari Biema terangkat untuk menyentuh lalu mengusap bibir Paris. Gadis ini diam diantara tatapan Biema yang memindainya.


"Masih lamakah saat tiba waktunya?" tanya Biema seakan bertanya pada dirinya sendiri. Paris hanya terdiam sambil mengerjap. Biema memeluknya lagi. Dia tidak mengerti Biema terlihat sangat frustasi.


"Anu, Biem ...."


"Hm?"


Krunyuk ...


Terdengar suara menyedihkan yang berasal dari perut Paris. Padahal gadis ini baru akan bilang pada Biema bahwa dia lapar, perut itu sudah membunyikan alarm terlebih dahulu. Hingga membuat Biema tersenyum geli mendengarnya. Membuyarkan keheningan yang tercipta karena dirinya frustasi tidak bisa menyalurkan hasrat.


Dasar perut enggak bisa di ajak kompromi, gerutu Paris dalam hati.


"Kamu lapar?" tanya Biema dengan senyum.


"Sangat."


"Mau makan apa? Aku akan buatkan untukmu," tanya Biema sambil tetap memegangi pinggul Paris.


"Apa sajalah. Mie instan juga boleh. Perutku tidak bisa menunggu lama."


"Oke. Aku akan membuatkan untukmu." Biema melepaskan tangannya dan berbalik menghadap meja pantry. "Duduklah dulu. Biar aku yang bekerja."


"Aku ingin minum jus alpukat." Paris menunjuk ke arah jus alpukat yang terabaikan tadi. Biema mengambil gelas dan menuangkan jus. Sebelum menyerahkan pada Paris, Biema meminumnya terlebih dahulu. "Hei, itu jus alpukatku."


"Berbagilah pada suami." Paris menipiskan bibir. Mereka berdua memang sama-sama gemar minum jus alpukat. Paris mulai menyukai sebutan suami dan istri. Itu terasa menyenangkan di telinga. Dia menatap Biema yang masih menyesap jus alpukat miliknya.


Jodoh memang tidak ada yang tahu. Rupanya dia yang jadi suamiku.