
Paris puas dengan masakan mertuanya. Apalagi yang bisa ia keluhkan? Ingin makan apa, mertua sudah siap memasakkan. Itu sebuah anugerah. Bahkan mama Biema membawakan untuk di makan di rumah. Itu sangat menyenangkan.
Setelah berjanji untuk mengajak istrinya jalan-jalan, Biema sudah memberi peringatan pada Fikar sejak ia berangkat pulang dari rumah keluarganya.
"Besok, aku mau mengajak istriku jalan-jalan. Jadi kosongkan jadwal apapun setelah jam kerja. Aku tidak mau janjiku pada Paris tidak pasti," kata Biema saat menelepon Fikar.
Bahkan pagi hari saat tiba di kantor pun, Biema langsung mengingatkan,
"Aku harus pulang tepat waktu, Fikar. Jangan sampai ada yang membuat semua rencana ku berantakan," kata Biema saat masuk lift.
"Ya, aku paham," sahut Fikar. Dia menghela napas. Ini sudah ke berapa kalinya Biema mengingatkan.
Tiba-tiba menutup hidungnya.
Fikar terkejut. Ia menengok ke arah ketiak kanannya. Mengendus pelan, dan tidak menemukan bau yang begitu mengganggu. Lalu ia melakukan hal yang sama pada ketiak kirinya. Tetap tidak ada sesuatu yang membuat harus menutup hidung.
"Ada apa? Bau apa?" tanya Fikar merasa tidak nyaman.
"Kamu memakai parfum?" tanya Biema menahan rasa tidak nyaman di perutnya.
"Oh, tentu. Apa kamu ingin ..."
"Ganti parfum kamu. Aku ingin mual dan muntah. Hidungku kacau karenanya." Biema mengatakannya dengan lugas.
"Kamu lebih sadis daripada saat Paris bicara," cibir Fikar. Biema tidak peduli. Dia sedang menenangkan keadaannya.
Entah kenapa penciumannya makin tajam saja. Seringkali itu membuatnya kewalahan. Seperti menemani Paris yang sering tidak nyaman perutnya.
"Oh, ya. Ada jamuan makan dengan orang dari mall pesaing keluarga Hendarto."
"Tuan Candika? Aku belum pernah bicara sama sekali dengan orang itu," tanya Biema sambil menengok ke samping.
"Ini bukan tuan Adiwangsa. Ini putra pertamanya."
"Oh, Aksa? Cassanova itu?" tebak Biema. Fikar mengangguk.
"Ada apa orang itu mengundang kita?"
"Tidak ada. Hanya jamuan makan biasa."
"Kamu benar. Mungkin dia berniat bekerja sama dengan perusahaan textil kita." Fikar setuju dengan pendapat Biema. "Namun untuk jamuan makannya tetap seperti biasa. Tidak ada banyak hal spesial."
"Sepertinya aku ingin mengajak Paris nanti siang." Rupanya, Biema tidak tahan ingin segera mengajak istrinya. "Aku akan menelepon istriku." Biema berjalan lebih cepat menuju ruangannya.
"Halo, sayang ...." Suara Paris terdengar ceria.
"Ada hal baik? Kenapa suaramu terdengar sangat bahagia?" tanya Biema heran.
"Ya. Hal baiknya adalah kamu telepon aku sekarang, di saat aku enggak terpikir bakal di telepon oleh kamu. Itu surprise banget rasanya." Paris mengatakan itu dengan sangat antusias.
Biema tergelak.
"Kangen nih?" ledek Biema.
"Ya. Aku kangen berat." Paris lebih jujur soal isi hatinya. Dan Biema suka itu. Dia tidak perlu banyak berpikir apa kemauan istrinya, karena Paris langsung mengungkapkannya.
"Aku akan pulang sebentar lagi."
"Pulang? Ini belum waktunya pulang kerja," kata Paris seraya melihat ke arah jam dinding.
"Aku tahu. Dandan yang manis, aku akan menjemputmu," kata Biema hangat.
"Kenapa? Apa jalan-jalan kita di lakukan sekarang?"
"Emmm ... Ini bukan jalan-jalan. Aku masih bekerja, tapi aku ingin mengajakmu."
"Bagaimana aku bisa ikut kamu saat bekerja, sayang? Apa kamu ingin aku memelukmu saat kamu mengerjakan sesuatu di laptop kerjamu?" tanya Paris berkelakar. "Aku bisa duduk di pangkuanmu."
"Emmm ... bisa. Idemu boleh juga, sayang. Apa boleh begitu?" tanya Biema yang tiba-tiba saja ingin ide istrinya terealisasikan.
"Aku hanya bercanda," kata Paris sambil tertawa.
"Sayang sekali, karena aku benar-benar memikirkan ide itu tadi," kata Biema kecewa. Paris terkejut. Dia tidak menduga bahwa pria ini benar-benar ingin melakukan ide gila yang terucap spontan barusan. Padahal itu bukan keinginannya.
"Apa kamu mau aku melakukannya?" tawar Paris ingin mengabulkan keinginan suaminya. Ia jadi membayangkannya. Tercetak gambaran jika ide itu terealisasikan.
"Tentu."
______