Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Sarapan bersama


"Kita kemana?" tanya Paris yang heran melihat gerbang pintu rumah keluarga Biema di depannya. "Kenapa kesini?" tanya Paris panik.


"Kita akan sarapan pagi di sini," ujar Biema seraya mengemudikan mobil memasuki area halaman rumah karena pintu gerbang sudah di buka.


"Mama akan tahu soal aku yang di keluarkan dari sekolah, Biem."


"Mama sudah tahu."


"Hah?!" Paris terkejut.


Benar saja. Melihat kedatangan gadis ini, mama Biema langsung datang menghampiri dengan wajah cemas.


"Paris ... Kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Mama Biema panik dan khawatir. Beliau langsung memeluk menantunya dengan erat. Paris melebarkan bola matanya karena mama terlalu erat memeluknya.


"Tidak apa-apa, Ma," sahut Paris sambil meminta tolong pada Biema untuk menolongnya. Biema tersenyum.


"Jangan memeluknya terlalu erat, Ma. Kasihan Paris enggak bisa napas," ujar Biema.


"Aduh maaf." Mama Biema langsung melepaskan pelukan itu. "Mama terkejut mendengar berita itu dari Biema. Padahal Sandra satu kelas sama kamu, tapi enggak kasih tahu mama. Jadi kan mama enggak bantu kamu buat menyelesaikan masalah itu ...."


"Masalahnya sudah selesai kok, Ma. Paris sudah bisa ikut ujian susulan." Paris mencoba menenangkan.


"Mama enggak bisa bayangin kamu sendirian menghadapi masalah itu. Lain kali jangan begitu. Disini banyak orang yang bisa bantu kamu. Mama pasti tidak akan tinggal diam jika Paris kesusahan." Mama Biema berulang kali mengusap lengan gadis ini.


"Iya, Ma. Maafin Paris." Paris melirik ke arah Biema yang masih di sana memperhatikan mereka berdua. Tersenyum melihat kekhawatiran mamanya pada Paris.


"Enggak perlu minta maaf. Kamu juga pasti menderita saat Biema enggak ada di samping kamu. Mama enggak bisa bayangin itu." Mama Biema menggelengkan kepala memikirkan keadaan hati menantunya saat di keluarkan dari sekolah tanpa ada satupun keluarganya yang tahu. "Ayo. Kalian berdua segera sarapan. Mumpung masih pagi." Mama menggandeng lengan menantunya. Menggiring mereka berdua menuju ruang makan.


"Papa sudah sarapan, Ma?" tanya Biema.


"Belum." Saat mereka sedang menuju ruang makan, papa Biema muncul.


"Kalian datang?" tanya beliau dengan suara berat.


"Iya, Pa." Paris mengangguk memberi salam.


"Kamu baik-baik saja, Paris?" tanya beliau perhatian.


"Iya, Pa." Paris mengira yang di maksud adalah soal dirinya yang di keluarkan dari sekolah. Pasti Papa Biema juga sudah tahu akan hal itu.


"Syukurlah. Papa lega mendengarnya. Kalau begitu ayo kita sarapan bersama." Berbeda dengan mama yang sedikit heboh, papa Biema memilih bersikap tenang.


"Ya Pa," ujar Paris dan Biema hampir bersamaan.


"Sandra sudah berangkat, Ma?" tanya Biema.


"Iya. Adikmu kesal karena enggak bisa ikut sarapan bareng tadi," sahut mama. Biema tergelak. Mereka berempat menuju ruang makan untuk sarapan bersama.


Kenapa sarapan pagi jadi sarapan keluarga? Biema ini ...


"Makan yang banyak Paris," tegur mama.


"Iya Ma," jawab Paris sambil tersenyum. Terdengar suara blender di meja dapur.


"Itu bibi sedang buat jus alpukat. Kata Biema kamu sangat suka buah alpukat seperti dia." Mama menunjuk pembantu rumah ini yang sedang membuat jus untuknya. Paris mengangguk membenarkan. Tidak lama kemudian jus itu di antarkan ke meja.


"Hari ini papa ada jadwal ke perusahaan?" tanya Biema.


"Ada. Kamu akan menemani papa?"


"Siapa yang sakit?" tanya papa terlihat mengerutkan kening. Mama ikut menoleh ke putranya.


"Ayah mertua. Beliau di rawat di rumah sakit," jelas Biema. Sontak saja keduanya terkejut mendengar berita ini.


"Ayah kamu sakit, Paris?" tanya Mama bertanya lagi.


"Iya."


"Sudah berapa hari?" tanya Mama pada menantunya dengan mimik cemas.


"Mungkin satu minggu," jawab Paris.


"Aduuhh ... kenapa baru bilang sekarang? Itu sudah lama, sayang." Mama langsung panik.


"Paris juga barusan dengar karena bunda tidak memberi tahu soal itu lebih cepat. Takut Paris khawatir." Biema memberi penjelasan. Paris hanya mengangguk saja.


"Gimana Pa? Kita harus segera menjenguk." Mama minta pendapat suaminya.


"Baiklah. Papa mungkin sore bisa kesana, Paris." Papa langsung membuat jadwal.


"Iya, Pa enggak apa-apa." Paris menanggapi.



Sandra kesal, karena tidak bisa bertemu dengan Paris. Mereka berselisih jalan lagi. Saat Sandra tiba di rumah, lima belas menit yang lalu mereka berdua berangkat ke rumah sakit. Kaki Paris dan Biema berjalan menuju kamar tempat ayah di rawat dengan segera.


"Halo semua," ujar Paris setelah membuka pintu kamar. Orang-orang yang ada di dalam kamar menoleh.


"Paris!" seru bunda terlihat bahagia melihat putrinya datang. Sebelum Paris jauh melangkah mendekat ke ranjang, bunda sudah berjalan lebih dulu untuk mendekat. Hingga suasana menjadi haru karena bunda memeluk Paris dengan begitu erat. Biema mengangguk kepada Asha yang ada di dalam kamar. Asha tersenyum melihat bundanya terlihat senang.


"Duduklah," pinta Asha pada Biema.


"Ya." Biema mendekat ke kakak iparnya. Bola matanya tertuju pada Arash yang tengah diam memperhatikan dirinya. Hatinya tergelitik untuk menggoda bayi gembul menggemaskan itu. Seperti setiap orang yang melihat Arash, Biema juga mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Arash yang tembem.


"Halo Arash," sapa Biema lembut. Bayi itu masih diam sambil mendongak memperhatikan dari kereta dorongnya. "Kita belum pernah kenalan dengan baik," ujar Biema selanjutnya. Asha melirik. Bibirnya tersenyum mendengar Biema menyapa putranya dengan lucu. Arash masih diam memperhatikan. Dia masih belum begitu yakin bahwa dirinya mengenal pria tampan yang menyapanya.


"Dia pasti kebingungan melihat ada pria tampan lainnya selain ayahnya," ujar Asha jenaka. Biema mengerjap lalu tersenyum pelan. Merasa tersanjung dengan pujian kakak iparnya. Tubuh Asha merunduk dan membisiki bayi itu. "Arash ... " Bayi itu menoleh ke bundanya. Mendengarkan apa yang di katakan bunda padanya. "Dia suaminya aunty kamu. Aunty Paris," kata Asha memberitahu putranya. Seolah mengerti apa yang di bicarakan Asha, baby Arash menoleh pada Biema. Tangan Arash mulai bergerak. Mulai tertarik untuk bergerak menyambut pria yang menyapanya dengan lembut dan lucu.


"Salam kenal dari aku, om kamu," ujar Biema memperkenalkan diri. Baby Arash tiba-tiba tersenyum. Kemudian menggerak-gerakkan tangan dan tubuhnya dengan semangat.


"Sepertinya dia mulai mengenal kamu dengan baik. Dia yakin bahwa kamu adalah suami aunty-nya." Asha menerjemahkan bahasa bayi itu. Biema tersenyum pada bayi itu. Paris yang sudah selesai melepas rindu dengan bunda, ikut menoleh. Memperhatikan interaksi Biema dengan bayi yang menggemaskan itu.


"Biema ternyata di sukai sama Arash," ujar nyonya Wardah berpendapat. "Mungkin dia paham siapa dia."


"Benar, Bun. Tadinya dia bingung melihat Biema menyapanya, tapi sekarang dia yakin bahwa dia memang mengenal Biema." Asha ikut bicara. Paris mendekati kereta bayi itu.


"Hai Arash. Kamu lagi kenalan sama pria ini, ya?" tanya Paris bagai bicara pada temannya. "Kamu harus mengenal dia baik-baik. Awas saja kalau kamu nakal sama dia," ancam Paris jenaka sambil menyentil gemas pipi Arash. Bocah itu sepertinya tidak terima pipinya di sentil, jadi tangannya mengibas-ngibaskan tangannya menghalau tangan Paris dari pipinya. Paris terkekeh melihatnya.


"Ternyata aunty kamu jahil ya?" ujar Biema menemukan sisi Paris yang satu ini. Paris menoleh lalu meringis.


"Ya. Dia memang aunty yang usil dan jahil, Biem," ujar Asha membenarkan. Nyonya Wardah tersenyum melihat mereka.


"Dia menggemaskan. Jadi aku geregetan." Paris membela diri.


"Ya. Bayi itu menggemaskan," ujar Biema sambil menatap baby Arash lekat.