Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Masih belajar



"Enggak. Aku enggak butuh di temani," ujar Paris tegas dengan tiba-tiba setelah terdiam. Dia menolak mentah-mentah usulan Biema.


"Kenapa? Kamu mau berpura-pura belajar, tapi main PS?" tebak Biema sembari mengejek.


"Eng ... gak, kok. Bukan itu," sahut Paris sambil menggerakkan kelima jarinya di depan. Lalu ketawa masam karena ketahuan. Dia memang berniat begitu.


"Apapun itu, aku akan kembali untuk temani kamu," tunjuk Biema pada Paris. "Lebih baik kamu segera ambil buku kamu." Lalu pria itu masuk ke dalam kamarnya.


"Ihh," decak Paris kesal. Akhirnya dia menuju ke kamarnya juga untuk mengambil buku. Di dalam kamar dia menjejakkan kakinya ke lantai dengan hati yang kesal. Di saat tangannya mencari-cari buku paket, otaknya bekerja. Paris mendadak menyukai kata menemani itu.  "Ya. Dia memang harus tetap terjaga sementara aku belajar. Dia memang perhatian." Paris senyum-senyum sambil mencari buku di rak.


"Tapi .. aku enggak mau belajar," tegas Paris pada dirinya sendiri. "Untuk perhatian oke, tapi jika aku harus belajar, itu melelahkan dan bikin bosan." Menurut Paris, belajar itu membosankan. Jadi dia tidak ingin terjebak dengan hal yang membosankan.


Gadis ini keluar dari kamarnya.


"Biem!" panggil Paris sambil berjalan menuju ke kamar Biema. Belum sampai Paris di dekat pria itu, Biema sudah muncul.


"Apa?" tanya Biema sambil membawa ponselnya. "Mana buku kamu? Kenapa enggak bawa buku?" tanya Biema yang memperhatikan Paris datang dengan tangan yang kosong. "Kamu bukan enggak tahu besok pelajaran apa yang akan di ujikan, bukan?" selidik Biema tiba-tiba cemas.


"Tentu saja aku tahu." Biema menghela napas. "Aku tidak mau disini. Aku akan belajar di kamar." Paris sedang memperjuangkan hak-nya untuk protes.


"Jadi ... aku juga harus masuk ke kamarmu?" tanya Biema.


Paris terkejut dengan kalimat Biema. "Bukaaaannn!" ralat Pais segera. "Kamu enggak usah temani aku, oke?" Paris tersenyum sambil membentuk jarinya tanda oke.


"Jangan menawar-nawar Paris. Kamu boleh belajar di kamar kamu dan aku akan tetap mengawasimu." Pertahanan Biema tidak bisa di runtuhkan. Ini demi dirinya juga.


"Jadi kamu tetap akan menemaniku belajar, meskipun aku belajar di kamar?" selidik Paris.


"Ya. Tentu saja." Paris berdecih. Bola mata Biema melirik ke arah pintu kamar gadis ini. Kemudian memandangnya agak lama. Dia berpikir. Entah berpikir soal apa. Karena dia menyeringai kemudian. Hanya Biemalah yang tahu.


Paris berjalan menuju ke kamarnya dengan gerutuan yang panjang. Tangannya membuka pintu kamar dan membiarkan Biema masuk dengan tidak rela.


Biema melihat ke sekeliling. Ini adalah pertama kalinya pria ini masuk ke kamar Paris setelah terakhir mereka merenovasi kamar ini. Suasananya tidak jauh berbeda dengan pertama kali gadis ini ke sini. Lalu Biema duduk di atas ranjang. Paris yang hendak menarik kursi meja belajarnya menoleh dengan cepat.


"Kenapa duduk disana?" cegah Paris.


"Terus aku duduk dimana? Bukannya kursi di sini cuma satu? Dan Itu juga di pakai oleh kamu." Biema menunjuk ke arah kursi yang sedang di sentuhnya. Alasan Biema masuk akal. Paris melirik ke arah yang sama.


Benar juga.


"Baiklah. Aku ijinkan kamu duduk di sana sementara waktu." Kemudian Paris menarik kursi dan mulai duduk.


Paris melihat daftar mata pelajaran buat ujian besok. Setelah itu mengambil buku paket dan membukanya. Perlahan dia mulai membaca di dalam hati. Sesekali melirik ke arah ponsel di dekatnya. Menyentuh dan membuka kunci ponsel.


"Ehem," dehem Biema sengaja. Paris segera menjauhkan jarinya.


"Sial. Aku harus bisa mengusirnya." Gadis ini punya rencana. Biema tidak akan betah terus saja di dalam kamar dengan hanya memperhatikannya belajar. Kalau bisa, dia akan menyuruh Biema untuk membacakan pertanyaan, seakan sedang tanya jawab. Biar Biema kapok dan keluar dari kamar.


"Bantu apa?" Paris mendekat dengan tetap duduk di atas kursi, sambil membawa buku paketnya.


"Coba deh, kamu buat pertanyaan-pertanyaan dari sini. Biar aku yang menjawab. Seperti tanya jawab, gitu," ujar Paris memberitahu.


"Tanya jawab?" Biema menerima buku paket dari tangan Paris yang tidak turun dari kursi belajarnya. Hanya meluncur dengan kaki kursi yang memakai roda.


"Ya. Belajar jadi seru kalau begini," kilah Paris.


"Ini di mulai darimana?" Biema membuka halaman perhalaman. Mencoba melihat-lihat isi buku paket murid SMA sekarang.


"Dari awal sampai akhir dong." Paris menjawab dengan yakin. Biema langsung mendongak.


"Semua?" Paris mengangguk. Biema menaikkan alisnya berpikir bahwa ini merepotkan. Bibir Paris tersenyum saat Biema menunduk. Dia sudah berpikir bahwa Biema akan pergi.


Di luar dugaan, Biema justru semangat memberi Paris pertanyaan. Pria itu antusias sekali dalam membuat pertanyaan. Ini membuat Paris yang kelabakan.


"Aahh ... sudah sudah! Aku enggak mau tanya jawab. Mana buku ku?" Paris meminta bukunya di kembalikan.


"Sudah? Bukannya kamu ingin belajar lebih menarik. Kenapa ingin berhenti?"


"Enggak. Belajar sama kamu malah membuat aku capek. Cepat. Kembalikan bukuku," gerutu Paris.


"Tidak. Aku akan terus mendampingimu belajar. Kalau tidak, kamu akan fokus dengan handphone-mu." Ternyata Biema tahu Paris curi-curi pandang melihat ke ponselnya. Pria ini mendadak berdiri. Mendekat ke meja belajar dan menyita ponsel. "Aku sita dulu ponsel ini."


"Hei!" Paris secepatnya ingin berdiri, tapi membuat kursi belajarnya terjungkir. Dia yang masih duduk ikut terjungkir kesamping.


"Paris!" Biema terkejut. Kedua benda di tangannya terlempar tanpa di sengaja. Dia hanya ingin menolong gadis ini.


Bruk! Tubuh mereka berdua sama-sama jatuh di lantai.


Setelah tadi menutup mata karena ketakutan, kini Paris membuka mata. Kursi belajarnya terguling tak jauh di dekatnya. Dia merasakan di bawah kepalanya ada sesuatu. Paris menengok ke samping. Ternyata Biema ikut jatuh terbaring di sebelah tubuhnya. Sementara tangannya di bawah kepala gadis ini sebagai bantal. Makanya kepalanya tidak terbentur.


Namun berbeda dengan Biema yang meringis karena justru kepalanya yang berada di atas lantai. Pria ini meringis.


Paris terkejut dan bangkit. "Biema! Biema! Kamu enggak apa-apa?" tanya Paris panik. Tangannya menyentuh kepala Biema dan mengelusnya. "Kamu enggak apa-apa?" ulang Paris lagi. Dia khawatir.


Masih menutup mata, Biema mengangguk.


"Benarkah?" tanya Paris tidak percaya begitu saja. Biema membuka mata perlahan.


"Aku tidak apa-apa. Sedikit terbentur tapi semua baik-baik saja."


"Syukurlah." Paris tidak sadar posisi mereka yang tadi bersampingan kini semakin dekat. Karena khawatir, Paris mengangkat tubuhnya untuk miring dan menghadap Biema. Kesempatan ini membuat lengan Biema yang masih di tempat kepala Paris saat berbaring tadi, bergerak memaksa tubuh gadis ini.