
Setelah meletakkan piring di bak cuci, Paris berdiri sembari menoleh ke kiri dan ke kanan karena kebingungan. Sepertinya ada sesuatu yang dicarinya.
"Nyari apa?" tanya Asha.
"Aku ingin minum air dingin," sahut Paris sambil menoleh.
"Tuh, di sebelah kanan kamu," tuding Asha pada kulkas yang ada di pojok. Tidak jauh dari Paris. Namun anehnya gadis itu tidak melihat.
"Ah, iya. Aku lupa." Paris menggaruk pelipisnya pelan. Lalu mengangkat kaki menuju ke sana. Membuka kulkas dan membungkukkan badan untuk mengambil botol. Namun hanya beberapa detik, Paris menegakkan punggung lagi. "Gelasnya?" tanya Paris dengan wajah polos. Bukan lagi mengusili Asha, gadis itu memang sedang kacau.
Asha segera bangkit dari duduk dan menghampiri Paris yang sungguh-sungguh butuh bantuan. Tangan Asha mengambil gelas di atas meja dapur. Dekat dengan kulkas.
"Ini."
"Terima kasih." Paris mendengkus. Dia sedang mencela dirinya sendiri. Asha tidak kembali duduk. Dia menemani Paris yang masih berdiri sambil minum. Asha melihat gadis ini sangat tidak fokus. Tubuhnya di sini, pikirannya kemana-mana.
"Sebaiknya kita segera duduk. Bawa saja botol itu ke sana." Asha mendorong tubuh Paris untuk segera kembali duduk. Tanpa perlawanan Paris menurut. "Sekarang ceritakan apa yang terjadi," kata Asha tanpa jeda saat mereka baru saja duduk.
"Aku bertengkar dengan Biema," kata Paris mengaku. Asha sudah mengira ada hal yang lebih penting dari sekedar perkara antar-jemput itu.
"Jika kamu sudah tidak peduli soal alasan Biema menikahimu, lalu apalagi?"
"Lei. Biema marah soal dia."
"Oh, dia ... Tunggu. Lei? Mantanmu? Keponakan Chelsea?" tanya Asha beruntun. Dia sedikit terkejut muncul nama ini dalam perbincangan mereka. Karena sekarang pembahasan mereka adalah Biema. Lei dan Biema sungguh tidak ada hubungannya. Itu yang di ketahui Asha selama ini.
"Ya. Dia," jawab Paris meringis.
"Kenapa Biema bisa mengenal Lei?" tanya Asha masih tidak percaya. Paris pun menceritakan soal Lei yang magang di kantor Biema. Juga soal pesta perusahaan dan akhirnya tentang Biema yang menariknya keluar ruangan. Lalu menceritakan Biema yang merasa dirinya tidak terbuka soal siapa Lei. Puncaknya adalah pertanyaan Biema soal kebenaran isi hatinya.
"Dia bertanya apa aku mencintainya." Cerita Paris yang menunjukkan dia sendiri tidak punya jawaban.
"Apa jawabanmu?" tanya Asha penasaran. Dia ikut berdebar mendengar pertanyaan itu. Layaknya gadis yang menanti sang pujaan hati menyatakan cinta.
"Tentu saja aku enggak tahu." Sepersekian detik wajah Asha langsung syok di buatnya. Jawaban Paris tidak di duganya.
"Enggak tahu? Kamu enggak tahu?" Asha tidak percaya. Keningnya mengerut. "Setelah kamu resah, cemburu karena si ... Mela itu, kamu bilang enggak tahu?"
"Ya," jawab Paris yakin. Asha melebarkan mata merasa lelah. Wajar saja Biema pusing kepala di buatnya.
"Begitu ya ...." Asha merubah raut wajahnya secepat mungkin. Dia mencoba mengerti. "Lalu soal kamu bersedih itu ..."
"Itulah, Kak. Aku heran kenapa aku bersedih. Bukannya aku memang ingin Biema tidak terlalu peduli ke aku." Paris merendahkan tubuhnya untuk meletakkan dagu pada meja. Lalu mengetuk ujung jari ke atas meja perlahan dan berulang-ulang.
Dia lelah. Lelah sama perasaannya yang tidak paham sama apa yang dirasakannya sekarang.
Paris enggak paham perasaannya atau dia sedang .... Asha mengerti sesuatu.
"Kadang kala seseorang tidak paham sama perasaannya sendiri. Seperti cerita aku dan kakakmu. Arga," lanjut Asha. Kali ini Paris tidak hanya melirik, tapi dia sepenuhnya melihat ke arah Asha. Tanpa menegakkan tubuhnya. Masih bermalas-malasan meletakkan kepalanya di atas meja.
"Sebenarnya aku mungkin sudah tertarik saat dia menyatakan cinta. Hanya saja aku ragu. Bukan takut dia tidak mencintaiku, tapi lebih ke rasa takut di tinggalkannya. Aku takut jika aku mengaku mencintainya, kenyataan memaksa kita untuk berpisah. Kamu tahu aku dan Arga berbeda dari bermacam segi. Akhirnya aku memilih tetap tampil cool walau bagaimanapun keadaannya. Bahkan saat Arga di jodohkan, aku berusaha bersikap biasa saja. Itu hanya usahaku untuk tidak terluka. Aku menekankan pada diri sendiri bahwa aku akan biasa saja walaupun akan di tinggalkan Arga." Bola mata Asha menerawang.
"Itu panjang. Sa-ngat panjang." Paris mengejek cerita Asha dengan wajah datar. Asha tersenyum. Tidak terasa dia terbawa suasana. Bola matanya meremang karena sesuatu menggenang di sana. Asha mengkerjap-kerjapkan bola matanya agar genangan itu mengering.
Dia tidak tersinggung dengan ejekan Paris. Gadis itu bahkan mendengarkan dengan baik. Makanya dia berucap, "Apakah aku seperti itu?"
"Kemungkinan iya. Aku pikir, kamu bersikap seolah kamu tidak mencintainya karena takut sesuatu," ujar Asha menghakimi. Sepertinya Asha tepat sasaran.
"Sepertinya ... Ya." Mengatakan ini terasa sangat berat bagi Paris. Karena dia juga punya alasan. "Aku takut dia tidak punya perasaan yang sama denganku. Takut dia hanya bermain-main." Paris bergerak dari pose malasnya.
"Kamu mengakuinya." Asha tersenyum menang mengetahui adik iparnya mengakui perasaannya. Tidak sia-sia dia mendongengkan cerita lama. Sampai-sampai matanya jadi basah sedikit karena teringat lagi saat itu.
"Salah?" Paris nyolot.
"Enggakkk ... Enggak salah." Asha mengelus pucuk kepala Paris.
"Kenapa aku jadi seperti ini ya? Sialan. Pria tua itu sudah menjebakku," ujar Paris dengan memukul meja.
"Dia bukan pria tua. Biema itu pria tampan," ujar Asha membela. Paris mencebik. Namun di dalam hatinya, Paris mengakui ketampanan itu. Banyak dari segala sisi, Biema terlihat menawan. " ... tapi tetap Arga yang terbaik. Dia yang paling tampan diantara yang lain." Alis Asha naik turun menyatakan pria-nyalah yang nomor satu.
"Cih." Paris berdecih. Kali ini serius mencela. Dan Asha serius tidak peduli. Baginya Arga adalah segala-galanya.
"Jadi kangen Arga, nih."
Karena Fikar tidak segera menjawab telepon darinya, Paris mencoba video call. Namun gagal juga. Paris sudah akan menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan karena kesal menunggu, tapi ternyata Fikar menerima panggilan video-nya.
"Ya. Halo," jawab Fikar.
"Hei, kenapa kamu sudah seperti selebriti enggak bisa di hubungi?" sembur Paris. Fikar sedikit terperangah dengan energi yang meluap ini. Bukan apa, Fikar sudah melihat gadis ini yang lunglai lesu tadi.
"Maaf, maaf. Ada apa?"
"Aku mau pulang. Kamu bilang, aku suruh nelpon kamu jika mau pulang? Sekarang aku mau pulang. Jadi cepat jemput aku."
"Oh, ya. Aku akan jemput kamu, tapi sebentar ya. Aku masih sibuk," mohon Fikar.
"Sibuk beneran?" tanya Paris. Memang Fikar tampak di suatu ruangan dengan setumpuk berkas. Ruangan yang sepertinya tidak asing baginya. Tampak seperti ruangannya Biema.
Belum selesai Paris berpikir soal ruangan yang tidak asing itu_ Fikar menggeser ponselnya, hingga Paris bisa menemukan sosok yang amat sangat di rindukannya. Biema!