Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Kehebohan tidak terduga



Setelah kepala sekolah memberi keputusan bahwa Paris bisa mengikuti ujian lagi, tiba-tiba gadis ini berdiri. Biema yang duduk di sampingnya ikut terkejut. Begitu juga dengan yang lain. Fikar melirik Biema ingin bertanya, mau apa gadis itu?


Karena sepertinya ini tidak ada di rencana skenario yang di rancang dia dan Biema. Namun melihat pria itu juga heran dan terkejut, Fikar diam dan hanya memperhatikan. Apalagi pria itu juga tidak bertindak. Dia memilih mendengarkan apa yang akan di katakan Paris.


"Terima kasih sudah memberi saya kesempatan untuk mengikuti ujian. Maaf sudah melakukan pelanggaran peraturan sekolah. Saya minta maaf," ujar Paris sambil membungkukkan badannya. Biema tersenyum senang melihat sikap istrinya yang masih bocah ini. Ternyata Paris tidak melupakan bahwa di sini dia juga termasuk orang yang keliru.


"Ya. Saya maafkan. Tidak ada larangan untuk menikah bukan? Hanya saja waktunya yang tidak tepat," ujar kepala sekolah bijak. Semua tersenyum.


Kemenangan Biema pada hal ini membuat raut wajah wakil kepala sekolah masam. Setelah orang dari Komisi Perlindungan Anak sudah pulang, Fikar juga meminta ijin pulang. Dia tidak jadi mengungkap soal Priski karena Biema memberi kode untuk berhenti.


Di luar ruangan, makin ramai. Pembicaraan soal Paris ini sepertinya memakan banyak waktu. Itu dimulai dari jam istirahat, kemudian di lanjut dengan jam ujian yang sepertinya kini juga sudah usai. Banyak dari mereka yang ikut bergerombol di depan ruang kepala sekolah. Ingin tahu bagaimana kisah seorang murid yang sudah di keluarkan itu.


Kesepakatan di dalam pun sudah usai. Keputusan wakil kepala sekolah di hanguskan. Berganti dengan keputusan dari kepala sekolah yang di gunakan untuk masalah kali ini.


Biema keluar dengan kemenangan sembari di temani Paris yang berdiri di sebelahnya. Pertemuan tadi di bubarkan. Bahagia dan lega terpancar dari wajah mereka.


Tidak bisa di bayangkan betapa bahagianya Paris. Masalahnya selesai dengan cepat dan tanpa banyak hambatan. Dia bisa mengikuti ujian lagi nanti.


Guru-guru yang tadi sempat bergerombol tidak tampak. Namun dari dalam ruang guru, mata mereka tidak lepas dari Biema dan Paris.  Pasangan muda yang akhirnya terkuak.


Semua mata di luar ruangan memandangi Paris dengan rasa aneh. Bukan menyipitkan mata karena jijik dan heran gadis ini memilih menikah diam-diam, tapi lebih kepada takjub. Terutama pada Biema.


Sepertinya gosip di awal, juga perkara menikah sembunyi-sembunyi mulai lenyap. Kini mereka sedang asik ingin tahu lebih soal pria yang sudah menjadi suami Paris. Pandangan mereka adalah kekaguman. Dalam sekejap siswi siswi itu menjadikan Biema layaknya seorang idola.


"Benar. Pria itu memang tampan seperti yang di katakan. Paris beruntung."


"Jadi demi pria itu, Paris rela harus menghadapi semua ini? Aku mah juga rela jika harus menikah dengan pria seperti itu," ungkap seseorang dengan rasa takjub yang kentara. Yang lain ketawa. Gosip soal Paris yang menjadi cewek panggilan mereda. Berganti dengan kekaguman mereka pada Biema.


Mereka berebut ingin melihat bagaimana wajah pria yang di sebut sebagai suami Paris itu.


"Benar, benar. Dia tampan. Enggak salah dia rela menikah saat masih sekolah jika penampakannya ganteng begitu." Gadis gadis itu tersenyum saat mendengarnya.


Paris menoleh cepat ke arah cewek-cewek yang bicara barusan. Terkejut. Apalagi saat mereka memandangi Biema dengan takjub.


"Ada apa ini?" tanya Paris penuh keheranan.


"Bukannya mereka selalu memandangi kamu dengan menyebalkan, Paris?" tanya Fikar. Ini mengherankan. Darimana Fikar tahu bahwa semua cewek melihatnya dengan menyebalkan?


"Aku tidak tahu," jawab Paris. Dia mengubur pertanyaan soal itu.


Sepanjang perjalanan Biema, Paris dan Fikar melewati lorong sekolah untuk menuju pintu gerbang, semua mata memandang ke arah mereka. Berita kemunculan pria yang mengaku sebagai suami Paris beredar dengan sangat cepat.


"Mereka semua melihatmu, Biem ...," ujar Fikar yang melihat ke arah mereka. Biema hanya menanggapi kalimat Fikar dengan senyuman tipis.



Setelah berdebat dengan Priski tadi, Sandra sebenarnya ingin mengejar Paris dan kakaknya. Namun percuma karena mereka memasuki ruang kepala sekolah. Kakinya pun berhenti melangkah cepat. Melihat kedatangan Biema, gadis ini lega. Itu artinya Paris tidak sendirian.


Semoga masalah cepat bisa di bereskan. Jadi Paris bisa ikut ujian dan lulus dengan membawa ijazah. Tidak menyenangkan jika hanya aku yang lulus nantinya. Bereskan masalah ini dengan cepat, ya Kak ... Sandra berdoa di dalam hati.


"San!" Seseorang menyebut namanya. Snadra menoleh ke asal suara. Ternyata itu teman satu kelas dengannya.


"Eh, barusan itu kakak kamu kan?" tanya seorang gadis. Sandra mengangguk. "Itu kakakmu yang pernah kenalan sama kita di mall bukan?" imbuhnya lagi.


Rupanya itu teman Paris dan Sandra yang tidak sengaja bertemu dengan Biema di mall. Waktu Paris tidak masuk sekolah perkara menikah. Karena ijinnya ke sekolah dengan alasan sakit, Paris yang pada waktu itu datang bersama Biema, memunggungi mereka tatkala mereka meminta di kenalkan pada Biema ke Sandra.


"Ya. Dia memang kakakku," jawab Sandra.


"Jadi suami Paris itu kakak kamu?" tanya mereka terkejut.


"Iya. Benar," sahut Sandra santai.


"Ha?!!!" Tiba-tiba mereka histeris. Sandra diam keheranan melihat mereka seperti itu.


"Beruntung sekali jadi Paris dapat suami kakak kamu. Dia kan ganteng banget," ujar teman Sandra gemas. Sandra mengerjapkan mata Mendengar kata-kata mereka.


"Ya. Paris memang beruntung." Sandra setuju pada akhirnya.


"San, yang barusan itu suaminya si Paris? Pria tampan tadi beneran kakakmu?" seru salah satu murid yang mendengar teman satu kelas. Omongan seperti ini ternyata bukan hanya dari mulut siswi ini, yang lain juga mendengungkan kalimat yang serupa. Mereka tiba-tiba mulai penasaran dengan kisah suami istri ini.


"Pria yang jadi suami Paris ternyata sangat tampan," ujar mereka terus saja takjub. Maka dari itu sepanjang lorong mata mereka menatap dengan kagum. Gosip cewek panggilan lenyap menjadi Paris menikah karena hamil. Namun cibiran soal menikah demi menutupi aib hamil ikut lenyap dengan munculnya pemikiran baru, suami Paris sangat tampan!


Pemikiran baru itu mematahkan gosip-gosip Paris terdahulu. Kini mereka berbondong-bondong ingin tahu lebih dekat siapa pria tampan yang menjadi suami Paris. Mereka juga ingin lihat lebih dekat wajah favorit kaum hawa itu. Decak kagum terus saja menggema mengikuti langkah Paris dan Biema menuju gerbang sekolah. Fikar sampai tersenyum geli melihat reaksi mereka.


Manusia itu unik. Tadi saja mereka mencibir gadis ini, tapi sekarang mereka mengubahnya sndiri menjadi kekaguman dan iri hati.