Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Berdamai


"Harap tenang dulu. Saya akan mencoba menelusuri masalah ini." Wakil kepala sekolah melirik ke arah Priski. Gadis itu mendengkus kesal.


"Juga ... lebih baik setiap pendidik di beri pengarahan yang baik agar tidak mengeluarkan kalimat-kalimat buruk pada muridnya." Biema melontarkan kilat mata dingin pada guru BP.


"Akan saya perhatikan."


"Jadi ... Paris sudah bisa keluar dari ruangan ini?" tanya Biema.


"Ya, ya ... Paris boleh kembali ke kelasnya. Terima kasih atas waktunya." Wakil kepala sekolah memberi hormat. "Antar tamu kita," perintah wakil kepala sekolah kepada guru BP itu. "Lalu Bu Aya, Anda bisa kembali ke ruang guru." Sebenarnya masih ada yang ingin di tanyakan perempuan ini, tapi sorot mata wakil kepala sekolah begitu menusuk. Hingga dia terpaksa mundur dan mengikuti apa yang di perintahkan.


"Baik, Pak."



Bola mata wakil kepala sekolah menatap Priski tajam. Kedua kawannya juga tidak berkutik. "Kalian berdua kembali ke kelas. Sementara Priski tetap di sini." Mereka berdua mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian berdiri dan beranjak pergi. Meninggalkan Priski yang mengkerucutkan bibir. "Ada apa ini?" tanya pria ini. Priski diam. "Jawab Priski," desisnya marah.


"Dia menemukanku memberi hukuman pada seorang siswi."


"Hukuman? Hukuman apa?"


"Seorang siswi menemukanku merokok di sebuah koridor. Aku mengancamnya untuk tidak menyebarkan pada yang lain."


"Bodoh! Kenapa kamu melakukannya di sekolah, hah?!" Wakil kepala sekolah mendorong kepala Priski hingga mengayun ke belakang. Priski diam. "Kamu tahu siapa dia?"


"Tidak. Dia hanya anak baru yang datang setahun yang lalu."


"Dia bukan hanya anak baru. Sepertinya dia keluarga orang kaya. Pria yang datang tadi adalah direktur perusahaan textil yang terkenal itu, Priski. Kamu tahu apa akibatnya jika bermain-main dengan orang kaya semacam dia?!" Wakil kepala sekolah sangat marah.


"Bukannya papa juga kaya?" tanya Priski sambil menunjukkan wajah bangga.


"Kamu itu. Jika di bandingkan dia, papa kalah telak." Priski bersidekap. "Kenapa juga berulah dengan meminta bantuan guru BP? Dia juga bodoh. Hanya mengiyakan semua yang kamu suruh tanpa tahu akibatnya."


"Dia itu setia, Pa. Orang kepercayaan papa."


"Diam! Berhenti terlibat dengan anak tadi. Siapa namanya?"


"Paris."


"Ya. Jangan membuat masalah dengannya. Jika pria tadi sungguh-sungguh ingin menghancurkanmu, celakalah kamu. Papa juga mungkin tidak bisa menolongmu. Kamu bukan lawan anak itu. Dia jauh di atasmu." Kalimat papanya begitu meremehkannya. Priski tidak suka. Namun dia hanya bisa diam sambil berdecih dalam hati.


Paris ... Aku bukan lawannya? Huh!


Sementara itu Sandra yang menunggu Paris di dekat ruang BP dengan cemas, terbelalak senang saat melihat gadis itu kembali.


"Paris!" Gadis ini berlari menyambut kedatangan Paris. Sandra langsung memeluk sahabatnya itu.


"Peluk-peluk segala. Memangnya aku keluar dari penjara?" Paris merasa Sandra berlebihan.


"Kata anak-anak, jika berurusan dengan Priski, kamu tidak akan selamat. Dia putri wakil kepala sekolah."


"Oh ... itu yang membuat dia tampak sangat percaya diri dengan membuat tuduhan palsu." Paris manggut-manggut.


"Eh, Kakak datang?" tanya Sandra yang melihat kakaknya juga muncul. Dia yang terfokus pada Paris karena sangat cemas, baru menyadari ada kakaknya di belakang gadis itu.


"Tidak mungkin aku harus menyuruh bunda ke sini hanya karena masalah tadi. Menyuruhmu ke sini lebih efektif daripada memanggil bunda," kata Paris.


"Betul. Meminta bantuan Biema adalah tindakan tepat." Fikar memberi Paris jempol. Paris menaikkan kedua alisnya merespon jempol yang di berikan bawahan Biema itu.


"Jadi aku di butuhkan hanya karena hal-hal semacam ini?" tanya Biema sedikit kesal.


"Memangnya kamu ingin aku butuhkan dalam hal apa?" tanya Paris heran. Sandra dan Fikar melirik Biema.


"Sudahlah. Sepertinya sudah jam pulang sekolah," ujar Biema yang melihat banyak murid berhamburan keluar dari kelas masing-masing.


"Ayo. Kita sekalian ikut kak Biema pulang," ajak Sandra. Paris mengangguk.


Sandra memilih duduk di depan bersama Fikar. Membiarkan pasangan di belakang duduk berdua.


"Terima kasih," ucap Paris lirih. Biema yang melihat ke ponselnya menoleh ke samping. Sebenarnya dia tidak mengharapkan terima kasih dari gadis ini, tapi saat Paris mengucapkannya dengan malu-malu, Biema senang.


"Terima kasih karena apa?" tanya Biema sengaja memperkeras suaranya. Dua orang di depan langsung melihat ke kaca spion di atas mereka. Sandra dan Fikar penasaran dengan dua orang di belakang.


Paris membeliakkan mata mendengar suara Biema. Dia bermaksud mengatakan terima kasih tanpa di ketahui dua orang di depan. Namun rupanya Biema mengajak bicara lantang kali ini. Hingga pria ini secara tidak sopan, berbicara dengan keras. Padahal Paris sudah memberi kode untuk bicara pelan dengan merendahkan suaranya.


"Hmm? Kamu sedang berterima kasih karena apa?" ulang Biema. Masih dengan volume suara yang sama. Bibir Paris berkedut kesal mendengarnya. Dua orang di depan juga semakin pe


"Soal yang tadi."


"Apa itu? Bicaralah yang jelas, Paris." Paris semakin yakin bahwa Biema memang sedang mempermainkannya.


"Aku berterima kasih karena kamu mau datang ke sekolah sebagai wali ku. Itu suasana yang sangat genting. Jika kamu tidak datang, kemungkinan aku akan terus di pojokkan sebagai orang yang bersalah oleh mereka. Sekali lagi terima kasih, Biem ..." Paris sengaja berkata dengan volume keras juga. Bahkan di tambah dengan membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan.


"Anak pintar ..." Biema mengelus kepala Paris. Membuat gadis ini menipiskan bibir. Paris menggerakkan kepalanya ingin lepas dari tangan Biema.


Paris terkesiap saat tangan Biema terulur menyentuh pipi kanannya. Tubuhnya menegang. Apalagi saat bola mata Biema seperti menancap pada bibirnya. Paris hendak bergeser agar menjauh dari Biema, tapi tidak bisa. Tubuhnya ikut membeku.


B-bima akan menciumku? tanya Paris dalam hati. Bahkan bicara di dalam hati pun Paris gugup.


Dua orang yang berada di depan jadi salah tingkah. Melihat atmosfir di sekitar Biema, kemungkinan memang pria itu akan mencium Paris. Meskipun malu-malu, dua orang ini ternyata menunggu momen itu. Sandra sih dengan bebas melihat dari spion. Sementara Fikar harus berhati-hati karena dia sedang di belakang kemudi. Sesekali dia melirik, lalu kembali melihat jalan.


Biema masih menatap Paris dengan lekat. Ini membuat jantung Paris berdebar tidak karuan.


"B-biem?" Akhirnya setelah membeku tadi, Paris bisa mengeluarkan suara. Walaupun itu tersendat.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Biema yang langsung mencairkan ketegangan di dalam mobil. "Kamu belum membalas pesanku." Paris ingat ada pesan masuk ke ponselnya, tapi dia belum sempat melihat itu dari siapa. Ternyata pria ini.


"Maaf. Aku belum membuka ponselku sama sekali. Ya. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Paris bisa menjawab dengan lancar setelah Biema melepaskan tanganya dari pipi Paris.


"Lain kali meski tidak ada keadaan genting, kamu bisa memanggilku. Aku bersedia datang meski kamu hanya ingin bertemu bukan membutuhkanku," ucap Biema lirih.


"Tadi itu aku membutuhkanmu. Kalau tidak, aku pasti memilih menelepon kak Arga daripada kamu," balas Paris lirih juga, sambil melihat keluar jendela. Biema mendengar itu. Bibirnya tersenyum. Tangannya terulur lagi untuk mengelus kepala Paris. Kali ini tanpa menoleh. Paris pun hanya membiarkan. Masih tetap melihat ke arah jalanan.