
Paris dan Sandra kali ini datang ke rumah keluarga besar Hendarto bersama. Paris sedang ingin bertemu bundanya. Dan Sandra sedang ingin bersama, jadi ia juga ikut.
"Aku belum menelepon kakakmu," seru Paris sambil mengambil ponsel dengan terburu-buru. Mereka pulang lebih awal. Dan Biema baru menjemput satu jam lagi. "Dia akan kebingungan jika tidak di kabari."
Saat itu, Biema melonggarkan dasinya setelah menyelesaikan pekerjaan hari ini. Saat itu ponselnya berdering. Melihat nama istrinya di layar ponsel, tangannya dengan cekatan segera mengambil ponsel.
"Ya, sayang," ujar Biema.
"Aku akan pulang ke rumah bunda. Apa boleh?"
"Sama siapa?" tanya Biema langsung menegakkan tubuh karena khawatir.
"Di antar Sandra. Dia akan ikut juga ke rumah bunda," kata Paris di seberang.
"Baiklah. Hati-hati. Aku akan menyusul ke rumah bunda setelah selesai semua pekerjaanku."
"Oke. Jangan terburu-buru. Aku bersama Sandra dan sopir mama, kok," kata Paris tahu Biema terdengar khawatir.
"Ya, aku tahu."
"Sudah. Aku tutup ya ...," ujar Paris terdengar gembira.
Mobil milik keluarga mama Biema meluncur melewati jalan dengan lancar. Jadi mereka tiba di rumah bunda Wardah dengan cepat. Bik Sumi yang barusan saja memberikan gorengan yang di goreng pada pak kebun.
"Non, Paris!" seru Bik Sumi senang. Paris yang sudah turun dari mobil tersenyum. Bik Sumi mendekat. Mereka saling berpelukan. Bunda yang saat itu tidak sengaja lihat ke luar jendela terkejut.
"Apa itu Paris, Sha?" tanya beliau pada menantunya. Asha yang tengah menyuapi putranya, ikut menoleh.
"Ya. Itu Paris dan ... Sandra. Adik Biema." Tidak lama mereka muncul di dalam rumah.
"Paris datang, Ma ..." Nyonya Wardah segera berdiri dan memeluk putrinya.
"Kamu sehat, kan?" tanya bunda sambil mengamatinya putrinya. Asha mempersilakan Sandra yang berada di belakang Paris untuk duduk lebih dulu. Gadis itu mengangguk. Lalu ia mendekati Arash yang sedang mengunyah makanan dan belepotan.
"Sehat kok," sahut Paris. Bunda mengamati lagi putrinya dan mengerutkan kening.
"Kamu belum makan? Kok pucat?"
"Makan siangnya belum, Bun. Kan barusan datang sekolah," sahut Paris geli. Bunda mengangguk-anggukkan kepala. "Aku sama Sandra." Paris memberitahu karena bunda sepertinya lupa kalau dia tidak sendirian. Kepala bunda menoleh ke belakang.
"Aduh ... bunda sampai tidak sadar." Bunda berjalan menjauh dari Paris dan mendekat ke gadis itu. Memijat lengan gadis itu karena beliau gemas. Sandra tersenyum.
**
Saat makan siang ini, bunda terlihat heran dengan nafsu makan putrinya. Tidak biasanya bocah ini makan dengan lahap. Bahkan begitu bersemangat.
"Kamu seperti tidak makan beberapa hari saja, Paris ..." ujar bunda.
"Itu juga karena dia lagi hamil itu, Bun," ungkap Sandra yang langsung disambut tatapan terpana mereka berdua. Bunda dan Asha.
"Benarkah?" tanya bunda tidak percaya. Sandra mengangguk. Lalu bunda ganti menoleh pada Paris.
"Benar tentang ini Paris?" tanya bunda ingin kejelasan.
"Benar. Aku memang sedang hamil." Mendengar pengakuan dari bibir Paris, bunda langsung berdiri dan mendekat ke putrinya. Memeluk erat dan menciumi pipi dan dahinya.
"Ih, Bunda. Paris lagi makan nih ..." rengek Paris pura-pura. Ia pun senang di ciumi bunda seperti itu.
"Akhirnya lengkap sudah. Bunda akan punya cucu dari dua anak bunda. Arga dan kamu." Setelah mengatakan ini beliau kembali mencium pipi putrinya. Sandra dan Asha tergelak melihat keseruan nyonya Wardah yang begitu gemas pada putrinya. "Kamu enggak apa-apa?" tanya beliau khawatir.
"Enggak. Kenapa, Bun?" tanya Paris heran. Bunda duduk di kursi yang di seret beliau barusan.
"Apa kamu enggak mual dan muntah gitu?" Bunda yang sudah berpengalaman mulai menginterogasi putrinya.
"Emm ... sempat mual dan muntah sih ..." Paris ingat pernah mual dan muntah.
"Tapi itu karena parfum Sandra yang menyengat Bunda," ujar Sandra memberi tahu. Nyonya Wardah menoleh pada gadis itu. Asha yang mulai berdiri untuk menidurkan Arash ikut menoleh.
"Jadi dia enggak kuat sama baunya?" tanya Bunda.
"Ya. Muntahnya dia memang paling parah waktu itu aja, Bun," kata Sandra.
"Kalau pagi-pagi apa enggak muntah dan mual?" tanya Bunda memastikan.
"Iya ... tapi enggak parah sih. Dikit aja mualnya. Pas waktu kena air dingin gitu. Setelahnya ya enggak," jelas Paris.
"Kamu mandi pakai air hangat saja. Jangan pakai air dingin." Bunda mengusap rambut putrinya.
"Iya kok. Biema selalu mengisi bak mandi dengan air hangat dulu buat aku. Jadi aku enggak terlalu bikin pusing karena muntah dan mual." Paris tersenyum sebentar karena jadi ingat pria itu. Bunda mengangguk
"Ya syukurlah kalau begitu," kata Bunda lega.
"Itu melegakan. Karena mual muntah di pagi hari itu yang biasanya parah," ujar Asha yang ingat pas hamil dulu. Paris mengangguk.
"Biema itu memang pria paling hebat," puji bunda. Asha tersenyum mendengar pujian itu. Karena setelah itu wajah Paris jadi merona senang.
.......
.......
...B E R S A M B U N G...