Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Mela berkunjung



Mela benar-benar muncul di rumah Biema. Mobil Nissan Juke miliknya terparkir dengan rapi di pelataran depan rumah. Lalu wanita ini mengetuk pintu. Pembantu rumah membukakan pintu. Lalu mempersilakan duduk sementara pembantu memanggil mama Biema.


"Mela." Muncul mama Biema dari belakang.


"Tante." Mereka pun berpelukan.


"Lama enggak ketemu. Semakin cantik saja," puji mama Biema.


"Ah, Tante bisa aja. Tante sehat?"


"Sehaaattt ... Seperti yang kamu lihat."


"Om juga sehat, kan?"


"Sama. Om Bisma juga sehat."


"Kata Fikar, Biema ada di sini?" tanya Mela celingukan ke dalam rumah. "Kok aku telepon sama kirim pesan enggak di balas?"


"Iya. Sekarang dia masih nganterin Sandra sekolah."


"Bukannya ini sudah siang?" Mela melihat ke arah arloji di pergelangan tangannya.


"Mungkin masih mampir. Memangnya ada janji sama Biema?"


"Enggak, tapi aku ada perlu. Tadi juga sudah kasih tahu lewat pesan. Ternyata enggak di bales." Mela menjelaskan.


"Ayo duduk dulu. Bibi masih buatin minum di dapur." Mama Biema mempersilakan.


"Tante ini ... Kayak Mela tamu dari jauh."


"Sekarang kan memang jauh. Bukan tetangga tante lagi."


"Eh, iya ... ya ...." Mela tergelak. "Mela ikut Tante aja ke belakang. Di sini sepi. Biema mungkin lama," kata Mela seraya menyentuh lengan mama Biema.


"Ke belakang?" tanya mama Biema seraya melirik ke dalam rumah.


"Iya. Tante pasti sudah masak. Mela mau mencicipi masakan Tante yang melegenda."


"Legenda apanya?" Mama Biema tersenyum. Sebenarnya beliau enggan mengajak Mela ke belakang, tapi karena Mela begitu pandai mengambil hati, beliau akhirnya mengajak Mela ke belakang juga.


Saat mereka berdua sedang berjalan, bola mata Mela tidak sengaja melihat seseorang melintas. Bola matanya terpaku sejenak melihat sosok itu. Namun tangannya masih memeluk lengan mama Biema.


"Tante, sepertinya aku melihat seseorang yang aku kenal," ujar Mela sambil melihat mama Biema. Namun bola matanya sesekali melihat ke arah yang sama. Ke arah Paris yang melintas.


"Kamu kan memang kenal sama keluarga tante semua," jawab mama Biema dengan tetap melihat ke arah yang sama.


"Memang iya, tapi aku melihat ..."


"Eh, Paris," panggil mama Biema saat kini sudah bisa melihat gadis itu. Paris yang baru saja keluar dari kamar Biema menoleh. Deg! Dua pasang mata saling memandang. Pandangan mereka beradu.


Paris yang sudah tahu Mela akan muncul di rumah ini, memilih menyahuti mertuanya terlebih dahulu daripada berlama-lama dengan keterkejutan bertemu wanita masa lalu Biema. Sebenarnya Paris deg-degan melihat Mela muncul. Dia berusaha tampil baik-baik saja.


"Ya, Ma," sahut Paris yang entah kenapa kali ini lebih terasa tegas dan akrab. Ekor mata Paris tertuju pada tangan Mela yang bergelayut pada lengan mertuanya. Namun Paris segera melihat lurus ke depan. Ke arah Wanita yang sedang kebingungan itu.


Mama?! pekik Mela bertanya di dalam hati. Rasa terkejutnya bertambah besar daripada tadi.


"Enggak apa-apa, Ma. Paris juga ingin bercengkrama di bawah." Bola mata Mela tidak lepas dari Paris.


"Begitu ya ..." Tangan mama Biema menyentuh lengan menantunya.


"Tante ... kenal sama Paris?" tanya Mela tersendat-sendat. Kepala mama Biema menoleh pada Mela.


"Iya. Tentu saja."


"Dia ... Emm ... Karena dia teman Sandra jadi Tante juga pasti kenal." Mela menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Bibirnya tersenyum puas karena merasa jawabannya adalah benar.


"Paris memang temannya Sandra sekolah, tapi Tante kenal Paris bukan hanya karena itu. Benar kan Paris?" tanya mama Biema tersenyum pada menantunya.


"Iya, Ma." Paris sengaja mengiyakan dengan tegas. Seperti mengejek wanita ini. Sesaat setelah Paris menjawab, Mela sadar satu hal. Paris menyebut mama Biema dengan sebutan 'Ma'. Dia lupa akan itu.


"Paris memanggil Tante, mama?" Mela seakan tidak percaya.


"Tentu saja. Karena dia adalah ..."


"Dia istriku, Mela." Suara Biema yang muncul di belakang mereka membuat bola mata ketiga perempuan ini menoleh. Karena keasyikan bertanya jawab, kedatangan Biema tidak di sadari mereka. "Sudah aku katakan padamu waktu itu. Paris bukan hanya sekedar teman Sandra. Dia adalah istriku." Biema berjalan melewati Mela yang masih menggandeng lengan mamanya dan menghampiri Paris. Berdiri tepat di samping gadis itu.


"Istrimu?" Mela selalu saja terkejut soal ini.


"Iya, Mela. Kamu pasti tidak tahu. Karena keluarga kita sengaja mengadakan pesta pernikahan mereka secara pribadi. Tidak banyak yang di undang. Hanya kerabat dekat saja." Mama Biema menjelaskan. "Ayo, Paris kamu ikut mama. Mela katanya ada perlu sama Biema ..." Mama Biema seperti sengaja mendekati Paris untuk di perlihatkan pada Mela.


"Sebentar, aku mau ganti baju dulu. Paris, ikut denganku," pinta Biema.


"Ganti baju?" tanya Mama Biema seraya menaikkan dua alisnya.


"Ya," sahut Biema dan menarik lengan Paris. Lalu mengajaknya menuju ke kamar mereka. Paris kebingungan. Dia seperti jadi bahan rebutan.


"Ya, sudah. Sana ganti baju dulu sama Paris." Mama Biema justru menambahkan kalimat yang sebenarnya tidak di perlukan. Mela sudah cukup terkejut dengan kenyataan bahwa Paris adalah istri Biema. Dan itu bukan hanya akal-akalan Biema saja untuk menutupi sakit hatinya sudah di tolak dirinya saat mengajak menikah.


Perkataan Biema soal Paris adalah istrinya di pertegas oleh orangtuanya sendiri. Itu berarti gadis itu benar-benar istri Biema yang sah!


"Ganti baju? Tidak salah, kamu mau ganti baju harus mengajakku?" tanya Paris yang kali ini meskipun tahu bahwa tangannya di tarik oleh Biema, dia cukup diam saja.


"Tidak. Kenapa?" tanya Biema tanpa menoleh pada Paris yang berjalan lambat satu langkah di belakangnya.


"Aku yakin kamu hanya ingin membuat Mela cemburu atau sebagainya." Mendengar ini langkah Biema berhenti tanpa aba-aba. Tangannya yang menarik tangan Paris juga terlepas. Hingga Paris terkejut dan menabrak dada Biema yang sudah menghadapnya. Paris meringis dan mendongak. "Kenapa mendadak berhenti jalan, sih?"


"Paris. Perlu aku tegaskan di sini. Aku memang pernah mencintai Mela. Aku pernah mengajaknya menikah. Itu memang keinginanku waktu itu. Namun, saat aku memutuskan menikahimu, itulah waktu terakhir Mela jadi orang yang pernah aku cintai. Jadi jangan berpikir apapun yang aku lakukan ada hubungannya dengan masa laluku dengan Mela."


Paris yang tadi mengkerucutkan bibir karena perhentian mendadak tubuh Biema, kini perlahan menunduk. Raut wajah Biema memang sedikit kesal walaupun di sembunyikan.


"Memangnya salah ... Jika aku, suamimu, mengajakmu untuk menemaniku ganti baju?" tanya Biema kembali menutup rasa kesal soal Mela.


Paris tidak menjawab. Dia diam. Biema yang melihat ini menghela napas.


"Jika kamu mau, aku juga bisa menemanimu untuk ganti baju." Tiba-tiba Biema membuat tawaran yang menghebohkan.


"Apa? Jangan mengatakan tawaran seperti itu, Biem. Aku tidak mau." Paris langsung menggerutu. Biema tersenyum. Paris kembali normal.


Melihat Paris terdiam dan menunduk, dia jadi iba. Gadis yang seharusnya masih memakai seragam sekolah itu terjebak di sini. Paris yang bisa punya bermacam jawaban untuk perdebatan mereka berdua, kini diam. Itu berarti Paris memang sedang berpikir soal dia dan Mela. Gadis ini hanya berpura-pura tidak peduli pada masa lalunya dan Mela. Sebenarnya dia peduli.