
"Dia hanya ingin membuatku enggak ngambek lagi. Jadi sengaja bikin makan siang kemarin agak mewah. Dia sedang mengaku salah dan meminta maaf." Paris berusaha menjelaskan tujuan mereka di hotel kemarin.
"Ngambek soal bekas ciuman itu?" tebak Sandra sengaja.
"Enggak perlu di perjelas juga, San ...," desis Paris. Sandra cekikikan. Paris masih malu membahas soal itu. Meskipun dia sudah kelas tiga SMA, tapi membahas ciuman sedikit tidak nyaman. Apalagi pelakunya adalah dia sendiri. Itu pertama kalinya bagi Paris. Bahkan langsung dengan bonus cap merah di leher.
"Iya ... " Sandra mengangguk mendengarkan penjelasan Paris setelah cekikikan tadi. Namun dari mata dan bibirnya, gadis itu tidak percaya.
"Terserah kamu. Sepertinya kamu enggak akan percaya. Oh, ya. Aku sempat melihat seseorang yang mengikutiku saat itu."
Sandra menghentikan tawanya. Kini dia mulai serius. "Penguntit?"
"Ya. Saat kita berdua makan siang, aku melihat seorang pria yang aku rasa dia sudah mengikuti kita sejak tadi."
"Mungkin itu benar suruhan si Priski. Karena sekarang beredar foto kamu yang sedang berada di depan hotel. Pasti orang itu yang memotretmu diam-diam. Lalu gimana selanjutnya? Kalian berhasil menangkap mereka?" tanya Sandra antusias.
"Enggak," jawab Paris datar.
"Yahhh ... Kenapa enggak di tangkap Paris? Dengan kekuatan kalian berdua sih, itu pasti berhasil." Sandra kecewa.
"Karena saat aku bilang ke Biema kalau ada yang ngikutin kita, dia bilang itu mungkin saja mata-mata dari lawan bisnisnya. Jadi dia menyuruh membiarkannya. Ya, sudah. Aku juga enggak peduli dan memilih fokus sama makananku. Lagi pula aku memang kelaparan waktu itu," lanjut Paris bercerita.
"Bisa jadi, tapi jika begitu ... waktu itu pasti ada orang lain yang jadi penguntit kalian sebenarnya. Di sekitar sana. Kamu tidak memeriksa?" kejar Sandra. Ia ingin tahu.
"Aku enggak mikirin apa-apa lagi setelah Biema ngomong begitu. lagipula Aku lapar, San." Paris tergelak. Sandra menipiskan bibir. Mereka akhirnya sampai di kantin. Hampir semua melihat ke arah Paris saat tiba di ambang pintu.
"Mereka menyorotimu," bisik Sandra.
"Aku tahu. Jangan melihat, jika tidak ingin tahu ekspresi menyebalkan mereka," nasehat Paris dengan santai.
"Di tindak lanjuti dong, Paris. Kalau masih enggak mampu lawan nenek sihir, bilang ke kak Biema-lah ... Pasti dia akan membereskan semuanya. Sampai ke akar-akarnya pula," usul Sandra karena geregetan.
"Iya aku akan bilang. Menurutku sih ini tidak begitu genting hingga membutuhkan Biema muncul." Mereka pun memesan makanan dan minuman. Tentu dengan di ikuti mata semua orang di kantin.
"Enggak perlu gengsi kalau memang butuh." Sandra mengingatkan.
"Hmmmm ...," sahut Paris.
Tidak jauh dari tempat mereka berdua, Priski dan dua temannya kebetulan berada di sana terlebih dahulu. Mendengar suara Paris di sekitar kantin, mereka ikut menoleh.
"Lihatlah dia, Pris. Ini gosip sudah merebak dan melebar kemana-mana, tapi dia tetap bisa berjalan dengan santainya." Priski menaikkan sudut bibirnya mendengar ocehan temannya.
"Sebenarnya hati dia terbuat dari apa? Kenapa gosip ini tidak berpengaruh padanya?" Priski menggeram.
"Benar. Biasanya orang yang kena gosip seperti itu akan frustasi dan memilih diam di dalam kelas. Ini anak justru memilih keluar tanpa menundukkan kepala." Mereka bertiga terpinga-pinga melihat kelakuan Paris.
"Wah, itu cowok oke juga candaannya," ujar Priski senang. Merasa mendapatkan asisten baru. Tanpa perlu campur tangannya sekarang, ada yang berbaik hati menyerang gadis itu.
Sementara itu di bangku Paris, Sandra langsung menoleh ke samping. Melihat cowok-cowok itu dengan pandangan tidak suka.
"Kamu bisa tutup mulut enggak, sih?" semprot Sandra tidak terima.
"Bisa, tapi aku enggak mau. Hahaha ..." jawab cowok itu di sambut dengan tawa lagi oleh yang lainnya. Sandra menekuk bibirnya mendapat jawaban itu. Dia kesal. Priski jadi ikut menyumbang ketawa di bangkunya. Dia bangga.
"Mereka boleh juga." Priski mengambil gelas minuman kemasan di meja. Mendekatkan sedotan ke bibir dan menyeruput minuman dengan senyum merekah. Pertanda dia sedang bahagia.
"Mereka nyebelin banget, sih," gerutu Sandra. Paris melirik. Dia yang tadi masih diam, kini menoleh ke bangku cowok-cowok tadi.
"Ya. Aku sedang open BO siang ini. Kalian punya uang berapa untuk masuk list BO? 100 juta? 60 juta? 40 juta? Berapa?" tantang Paris seraya menatap mereka dingin.
"100 juta? Dasar cewek gila. Kamu siapa, pasang harga mahal ...," cibir cowok itu.
"Kenapa? Kamu enggak sanggup? Jangan bilang kalau kalian seratus ribu saja enggak punya."
"Cih, apaan ... Masuk hotel sana! Bookingan kamu banyak tuh."
"Benar. Orderan hari ini banyak sekali. Aku memang enggak biasa open BO di area sekolah begini. Karena aku tahu, orang-orang di sini enggak akan sanggup bayar aku. Soal bookingan, kamu enggak perlu khawatir. Aku cukup mampu mengatur jadwal untuk setiap pelangganku. Jadi aku enggak butuh di ingatin. Terima kasih."
Cowok-cowok itu meringis mendengar kalimat savage dari mulut Paris. Bukan mengelak, gadis ini justru mengiyakan dan menantang. Tangan Paris mengepal. Rupanya ia berlagak sabar. Sandra tersenyum. Dia yang awalnya geram, mendengar Paris menjawab pertanyaan mereka, Sandra tenang.
"Paris itu cewek gila. Makanya gosip yang kita bikin enggak mempan ke dia," ujar Priski menyadari. Geng-nya si Priski ikutan heboh seperti yang lain. Mereka juga takjub dengan ketenangan gadis itu.
"Aku harus bisa membuatnya malu. Aku harus mencari kelemahan dia," ujar Priski geram.
"Bukannya ini sudah keterlaluan? Mau yang gimana lagi?" Salah satu dari mereka tiba-tiba protes.
"Kamu ngomong apaan, sih?" tanya temen yang lain menyadarkan. Namun Priski sudah menoleh dengan wajah juteknya.
"Maksud kamu?" tanya Priski gusar.
"Kamu enggak takut kena marah sama papamu kalau ada apa-apa nantinya? Mungkin kamu enggak bakal kena marah, karena kamu bilang papamu sangat menyayangimu. Terus kita berdua gimana, dong?"
"Hei ... Ngomong apaan sih?" temannya masih mengingatkan.
"Benar kan? Kita yang status sosialnya di bawah dia, tentu harus khawatir. Apalagi ini waktu ujian. Bisa berbahaya sama kelulusan kalau kita bertingkah sembrono." Mendengar ini temannya diam. Mungkin ada benarnya juga.
"Kalau kalian enggak mau, ya sudah. Aku akan bertindak sendiri. Lagipula semuanya selalu aku yang mengerjakan. Silakan pergi." Priski makin kesal dengan tingkah dua temannya. Kebahagiaan tadi rupanya hanya sesaat. Kini dia kesal karena dua temannya mulai bertingkah merasa dirinya keterlaluan. Dua temannya ternyata memilih pergi daripada mengikutinya yang terus saja ingin membuat Paris menderita.