
Andre terdiam sejenak. "Aku sudah menduga dari awal kalau itu tidak lah mungkin, orang seperti ku tidak mungkin di sukai orang seperti bapak, bahkan kekasih ku sendiri memilih perempuan lain karena aku seorang pembantu." ucap Sarah.
"Sialan Vito! Bisa-bisa nya dia menjebak ku." batin Andre. Sarah berbaring. "Sebaik nya bapak tidak perlu bersikap berlebihan kepada ku agar aku juga tidak berfikir yang aneh-aneh yang itu pasti tidak mungkin." ucap Sarah.
"Yang di katakan Vito benar." ucap Andre, Sarah langsung menatap Andre. "Maksud Bapak?" tanya Sarah.
"Yang di katakan Vito kalau saya menyukai kamu itu benar." ucap Andre. Sarah menggeleng kan kepala nya.
"Tidak mungkin, bapak pasti berbohong." ucap Sarah. Andre mendekati Sarah, "Apa kamu melihat tanda-tanda kebohongan di wajah saya?" tanya Andre.
Sarah segera memalingkan wajahnya. "Kenapa? Apa kamu tidak percaya dengan yang saya katakan?" tanya Andre.
Sarah menggeleng kan kepala nya. "Tidak mungkin pak, Bapak pasti hanya mau mempermainkan saya, tidak mungkin pak Andre menyukai saya." ucap Sarah.
"Kalau saya tidak menyukai kamu untuk apa saya mengakui demikian? Saya tidak mungkin memperlakukan kamu dengan baik, saya mau menemani kamu tidur, mengurus kamu layaknya seperti kekasih saya sendiri." ucap Andre.
Sarah menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak Percaya! Bapak jangan membuat saya jadi berfikir yang aneh-aneh tentang Bapak." ucap Sarah.
"Saya sudah berfikir ke sana, kamu tidak akan pernah percaya, kamu akan berfikir negatif dengan kejujuran saya, tapi saya akan membuktikan kalau saya menyukai kamu itu sungguh-sungguh." ucap Andre. Sarah diam.
Keesokan harinya...
"Tante Sarah..." ucap kina memanggil Sarah yang sedang istirahat di meja makan. "Iyah kenapa?" tanya Sarah.
"Aku mau makan sosis goreng." ucap Kina. "Tapi stok di dalam kulkas sudah habis, bagaimana dong?" tanya Sarah.
"Yahh, aku pengen itu Tante." ucap Kina.
"Tante Sarah masih kurang enak badan, sebaik nya kamu makan yang ada dulu." ucap Andre kepada Kina.
"Tapi papah..."
"Sudah makan saja, Tante Sarah sudah lelah memasak ini." ucap Andre. Kina akhirnya makan.
"Selamat pagi semua nya, lihat nih Nenek bawa apa." ucap Nenek nya menunjukkan sosis yang sangat banyak.
"Wahhh terima kasih yah nek." ucap Kina. "Ya sudah kalau begitu, Tante goreng sebentar yah." ucap Sarah.
"Kamu duduk saja, makan dan setelah itu minum obat, ibu Akan menggoreng nya." ucap Bu Rosa menahan Sarah.
"Tapi Bu!"
"sudah! duduk saja, lihat wajah kamu masih pucat, kamu seperti nya kurang vitamin, sebaiknya kamu memerhatikan Sarah." ucap Bu Rosa kepada Andre.
Sarah melihat ibu nya bos memasak. Setelah masak Bu Rosa ikut bergabung makan.
"Apa semua ini kamu yang memasak?" tanya Bu Rosa. Sarah mengangguk.
"Mamah sudah bilang kalau Sarah seperti nya masih kurang sehat jangan di biarkan masak sendiri." ucap Bu Rosa.
"Kalau Hari ini Sarah belum sembuh, bagaimana kamu berangkat ke AS besok?" tanya Bu Rosa.
"AS?" ucap Sarah pelan tapi terkejut.
"Sarah keras kepala mah, dia tidak bisa di bilangin." ucap Andre. "Saya sudah sehat Bu, tidak apa-apa kok." ucap Sarah.
Bu Rosa menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu hari ini Mamah yang akan bantu-bantu kamu beres-beres merapikan pakaian ke koper." ucap Bu Rosa.
"Biar Sarah saja mah, Mamah cukup urus Kina saja, sudah ada Sarah dia bisa mengurus semua nya." ucap Andre.
"Apa kamu bisa Sarah? Dari dulu ibu tidak pernah di ijinkan untuk Masuk atau memegang barang pribadi Andre." ucap Bu Rosa.
"Bisa kok Bu." ucap Sarah. "Bagus deh kalau begitu, biar ibu melihat kina." ucap Bu Rosa.
Setelah selesai makan Sarah mengetuk pintu kamar Andre. "Masuk saja! pintu tidak di kunci." ucap Andre dari dalam.
Sarah masuk dia melihat Andre mulai mengelus pakaian nya ke kasur.
"kenapa Bapak tidak mengatakan kepada say sebelum nya kalau bapak Akan keluar negeri?" tanya Andre.
"Saya mendadak. Saya rasa ini tidak penting kamu ketahui, bukan nya kamu senang saya jauh?" ucap Andre.
Sarah terdiam sejenak. "Apa kina sudah tau?" tanya Sarah. Andre mengangguk.
"Kina tidak pernah mempermasalahkan saya pergi kemana pun." ucap Andre.
Sarah terdiam. "Kenapa kamu hanya diam? Tolong rapikan pakaian ini di dalam koper." ucap Andre.
Sarah melihat pakaian Andre yang sangat banyak.
"kenapa begitu banyak pak? Bapak berapa lama di sana?" tanya Sarah.
"Bisa jadi dua bulan, bisa jadi lebih tergantung pekerjaan saya." ucap Andre.
"Kenapa sangat lama pak?" tanya Sarah.
"Kenapa? Kamu takut kalau kamu tidak bisa bertemu saya? apa kamu merindukan saya?" tanya Andre.
Sarah menghela nafas panjang.
"Seharusnya bapak mengatakan kepada saya terlebih dahulu." ucap Sarah.
Andre menatap Sarah. "Kalau saya mengatakan ke kamu apa kamu perduli dengan itu?" tanya Andre.
Sarah langsung berdiri. "Semua nya sudah selesai, saya ijin keluar." ucap Sarah dia langsung keluar meninggalkan Kamar Andre.
Sarah menghela nafas panjang beberapa kali di kasur nya.
"Kenapa aku tidak terima dengan sifat pak Andre yang tidak mengatakan apapun untuk pergi? Aku tidak ingin dia pergi." batin Sarah.
"Kalau pak Andre pergi, lalu bagaimana dengan ku? Aku sudah terbiasa dengan pak Andre, apa aku harus bergadang setiap Malam nya?" ucap Sarah.
"Permisi..." Andre masuk ke kamar Sarah.
"Ada apa bapak ke sini?" tanya Sarah dengan wajah judes.
"Kenapa kamu marah kepada saya? Apa kamu tidak terima karena saya tidak ijin kepada kamu terlebih dahulu?" tanya Andre.
Sarah menggeleng kan kepala nya. "Kenapa saya harus marah? saya tidak marah, justru saya sangat senang Bapak pergi." ucap Sarah.
"Tidak ada yang memarahi saya setiap hari nya, saya bisa melakukan apapun yang saya mau lakukan tanpa ada larangan." ucap Sarah.
Andre tersenyum dia jongkok di depan Sarah.
"Apa yang Bapak lakukan?" tanya Sarah.
"Kamu bilang kamu bahagia, lalu kenapa saya melihat wajah kamu seperti sedih campur kesal?" tanya Andre.
Sarah menggeleng kan kepala nya. "Itu karena saya kurang sehat, saya tidak sedih." ucap Sarah.
"Yakin? Kamu tidak bisa membohongi saya." ucap Andre. "Siapa yang berbohong? Aku tidak berbohong!" ucap Sarah.
Andre tersenyum. Dia mendekati wajah Sarah, Sarah sangat gugup dia terus mundur dia menghindar namun Andre mendekati nya sampai hampir terbaring di kasur.
"Pergi lah dari saya pak." ucap Sarah sudah sangat gugup. "Jantung kamu berdetak begitu cepat, apa kamu sudah mulai jatuh cinta kepada saya?" tanya Andre.