
"Kalau memang masalah nya dengan kekasih mu, sudah lupakan dia! Banyak yang mau pada kamu, kamu cantik, kamu baik dan juga kamu jujur." ucap Bu Rosa.
Sarah mengeluarkan air mata nya.
Tidak pernah lagi dia mendengar nasehat orang tua yang begitu lembut.
"Jangan terlalu lama sedih, jangan menyiksa badan kamu sendiri hanya karena pria yang tidak bersyukur memiliki kamu." ucap Bu Rosa mengelus rambut Sarah.
Bu Rosa membawa Sarah ke pelukan nya. Sarah menangis di pelukan Bu Rosa.
"Sudah-sudah, jangan menangis, apa kamu tidak malu di lihat oleh Kina?" ucap Bu Rosa. Sarah menghapus air mata nya.
"Ibu harus pulang karena papah nya Andre di rumah sendirian." ucap Bu Rosa. Sarah mengangguk.
"Jangan sedih-sedih lagi! Jangan biarkan Tante Sarah sedih yah Kina." ucap Bu Rosa kepada Kina. "Iyah Nek." ucap kina.
Andre yang melihat itu dia sangat senang, karena Mamah nya sudah bisa menerima Sarah tidak seperti sebelumnya.
"Ingat jangan memarahi Sarah dulu, kalau bisa kamu selalu ada untuk nya, jangan membiarkan dia kesepian." ucap Bu Rosa kepada Andre.
"Iyah mah." ucap Andre. Bu Rosa pun pergi.
Andre masuk ke dalam dia melihat Kina dan Sarah.
"Bapak tidak makan?" tanya Sarah. Andre menggeleng kan kepala nya. "Saya sudah makan dari luar." ucap Andre.
"kenapa saya tidak tega melihat Sarah seperti ini? Martin benar-benar pria yang tidak tau terimakasih!" ucap Andre dalam hati.
Andre masuk ke kamar nya mau bersih-bersih dulu. Dia sebenarnya sengaja pulang lebih lambat dari pada Sarah.
Dia tau kalau Sarah melihat dia sudah di rumah duluan dia pasti akan takut. Itu sebabnya dia memilih untuk nongkrong dan makan di luar terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
Tidak beberapa lama akhirnya dia selesai mandi dia berbaring di kasur. Sementara di kamar. Kina baru saja selesai bermain dia mau tidur namun heran melihat Sarah yang menggunakan selimut sangat tebal sekali.
"Tante... Apa Tante sudah tidur?" tanya Kina. Namun Sarah tidak menjawab. Kina memegang tangan Sarah mau membangun kan nya namun dia terkejut karena badan Sarah terasa sangat hangat sekali.
"Tante! Tante! apa Tante sakit?" tanya Kina. Karena Sarah tidak mau di bangun kan akhirnya kina keluar mencari Papahnya.
"Papah.. Papah.." ucap Kina mengetuk pintu kamar Andre.
Andre yang sedang mengatur pekerjaan nya di ruangan kerja nya mendengar suara kina.
"ada apa nak? Papah ada di sini." ucap Andre.
"Papah.. Tante Sarah, Tante Sarah sangat panas." ucap Kina.
"Maksud kamu?" tanya Andre.
"Tante Sarah dari tadi hanya tidur dia tidak mau bangun, badan nya sangat panas, aku yakin Tante Sarah sedang sakit." ucap Kina.
Andre langsung berlari ke kamar Kina dan Sarah. Dia melihat Sarah sudah mengigau. "Sarah.. Sarah.. bangun. heyyy." Andre mencoba membangun kan Sarah.
Namun Sarah sangat lemas. Andre menelpon dokter. Tidak beberapa lama dokter datang menyuntikkan obat.
"Papah ngantar dokter ke depan dulu yah nak, kamu jaga Tante Sarah di sini." ucap Andre. Andre mengantarkan dokter keluar.
"Ini adalah kedua kali nya saya memeriksa Sarah. Dia mengalami masalah yang mengingat kan dia ke masa lalu nya." ucap Dokter.
"Sarah memiliki trauma yang sangat berat, dia memiliki trauma yang membuat dia sering sakit dan sering mengigau seperti itu. Seperti orang ketakutan." ucap dokter.
"Kalau boleh tau, apa sebelum nya Sarah pernah cerita tentang trauma nya? mungkin bisa di bawa ke psikiater agar segera sembuh." ucap Dokter.
"Kalau kata anak saya karena Paman nya, saya tidak ingin bertanya karena takut dia mengingat lagi dan ujung-ujungnya sakit." ucap Andre.
"Sebaiknya Bapak mencoba mengungkit sedikit demi sedikit agar Sarah mau cerita, kalau seperti ini, trauma nya akan semakin menjadi-jadi, itu akan berefek buruk kepada dia." ucap dokter.
Andre mengangguk.
"Kalau bisa malam ini jangan di biarkan Sarah tidur sendiri yah pak, mungkin obat nya akan bereaksi sehingga membuat tidur Sarah tidak nyenyak." ucap dokter.
"Baik dokter, terimakasih banyak." ucap Andre. Dokter itu pun pergi.
Andre masuk ke kamar dia melihat kina sudah tidur sambil memeluk Sarah yang di tutupi dengan selimut.
"Kamu tidak boleh tidur di sini dulu nak, sangat tidak baik dengan kesehatan kamu." ucap Andre mengangkat Kina ke tempat tidur nya.
Andre memeriksa suhu badan Sarah. Karena tidak kunjung turun dia mengambil Air untuk mengompres badan Sarah.
ketika kain di letakkan di kening Sarah tiba-tiba dia terbangun. Dia melihat Andre. "Badan kamu sangat panas. saya akan mencoba membantu menurunkan nya." ucap Andre.
Sarah melihat air. Andre langsung me berikan air minum kepada Sarah.
"Kamu tidur lah lagi." ucap Andre. Sarah menggeleng kan kepala nya dia bersandar di Sandaran kasur sambil termenung.
"Saya tau kalau kamu sudah putus dengan Martin." ucap Andre. Sarah langsung menatap Andre. "Dari mana bapak tau?" tanya Sarah.
"Saya sengaja mengikuti kamu, saya juga mengikuti kamu ke danau. Ini barang-barang kamu yang jatuh di dekat Danau." ucap Andre.
Sarah tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya dia sangat malu sekali.
"Kamu Kenapa?" tanya Andre. "Saya sangat malu pak, saya minta maaf sudah merepotkan bapak." ucap Sarah.
Andre menghela nafas panjang. "Kamu tidak perlu menutupi perasaan kamu saat ini, kamu tidak perlu malu atau gengsi." ucap Andre.
"Saya tau sakit nya ketika di hianati tapi percayalah kamu akan mendapatkan pria yang lebih baik dari pada Martin." ucap Andre.
Sarah menunduk kan kepala nya dia langsung menangis. "Aku sudah sangat mencintai Martin, aku sudah memutuskan untuk mencintai Martin untuk yang terakhir kalinya, aku sudah lelah." ucap Sarah.
"Aku tidak pernah berfikir kalau Martin seperti ini kepada ku, karena dulu dia lah yang membantu ku, dia yang selalu ada dia juga yang menemani aku." ucap Sarah.
Andre mengelus kepala Sarah.
"Mau secinta apapun kamu kepada dia, kalau bukan jodoh tetap lah ber pisah, mungkin dengan cara seperti ini kamu akan bisa menemukan pria yang lebih baik dari pada dia." ucap Andre.
Sarah menangis. Andre memeluk Sarah. "Sudahlah jangan menangis, kalau kamu menangis dan memikirkan nya seperti ini tidak akan membuat nya kembali..Kamu hanya membuat diri kamu sendiri tersiksa." ucap Andre.
Sarah langsung diam ketika Andre mengelus punggung nya, memeluk nya dengan erat.
"Dulu.. Saya selalu di siksa oleh paman saya, orang satu-satunya yang datang menolong saya dan membela saya hanya Martin." ucap Sarah.