Baby Sister Cantik Untuk Anak Ku

Baby Sister Cantik Untuk Anak Ku
episode 62


Dia tidak ingin Sarah tau kalau Andre mengikuti nya.


Andre memerhatikan dari jauh.


"Martin aku sangat mencintai kamu, kenapa kamu sangat tega melakukan ini kepada ku?" tanya Sarah.


Dia mengingat betapa lelah nya dia memperjuangkan hubungan. Dia bahkan rela memberikan semua gaji nya kepada Martin karena Martin pada saat itu tidak memiliki uang.


Namun sekarang dia menyesali semua kebaikan yang dia lakukan kepada Martin.


Tidak terasa sudah gelap. Andre menunggu Sarah tidak jauh dari tempat nya berbaring sambil menangis.


Andre khawatir karena sudah magrib.


"Pak Boleh minta tolong perempuan itu pulang?" ucap Andre.


"Perempuan itu teman kamu yah? Kasian dari tadi menangis terus, namun saya tidak berani'menegur nya." ucap bapak nelayan.


"Ya sudah kalau begitu saya akan mencoba meminta nya pulang." ucap bapak itu.


"Mbak! Mbak! Bangun mbak, sebaiknya mbak pulang ini sudah gelap." ucap bapak itu membangun kan Sarah.


Sarah duduk dia melihat ke sekeliling nya sudah sangat gelap dan sangat sepi sekali. "Iyah pak." ucap Sarah.


"di sini rawan kalau sudah gelap, alangkah mbak pulang. Tidak baik perempuan sendiri di sini." ucap bapak itu. Sarah mengangguk dia meraba saku nya tidak ada handphone nya, tas nya tidak ada.


Alas kaki pun tidak ada, dia bingung harus bagaimana.


Tidak ada pilihan lain dia harus pulang, walaupun badan lemas, kepala pusing, hati sakit pikiran kacau.


Dia meninggal kan danau itu. Tidak beberapa lama berjalan dia mendapat kan tumpangan.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.


"Ini sudah jam berapa yah? Pak Andre pasti Akan sangat marah kepada ku." ucap nya, takut masuk ke dalam dia melihat pintu terbuka.


"Sarah! Kamu baru pulang jam segini?" tanya Bu Rosa. Sarah langsung masuk.


"Saya minta maaf Bu." ucap Sarah. Bu Rosa memerhatikan penampilan Sarah.


"Kamu habis dari mana? kenapa penampilan mu seperti ini?" tanya Bu Rosa. Sarah hanya diam.


"Kamu segera mandi sana. Dari tadi kina sudah menanyakan kamu." ucap Bu Rosa. Sarah Masuk ke kamar.


"Tante Sarah.." ucap kina langsung memeluk Sarah. Sarah sama sekali tidak merespon dia hanya diam.


"Tante kenapa? Kok mata Tante bengkak?" tanya Kina.


Sarah menggeleng kan kepala nya. "Gak apa-apa kok, Tante mandi dulu yah." ucap Sarah. Kina mengangguk. Setelah selesai mandi Sarah duduk di pinggir kasur.


Kina memerhatikan Sarah. "Tante sakit yah? Kok Tante dari tadi diam saja?" tanya kina.


Sarah Tersenyum. "Enggak kok, Tante Hanya banyak pikiran saja. Kamu sudah makan?" tanya Sarah.


Kina menggeleng kan kepala nya. "Aku mau nunggu Tante." ucap Kina.


"Ya udah kalau begitu kita makan dulu setelah itu langsung istirahat." ucap Sarah, Kina mengangguk.


Mereka turun ke bawah.


"Kalian mau makan?" tanya Bu Rosa. Sarah mengangguk.


"Tidak ada yang memasak hari ini, jadi saya memesan makanan dari luar." ucap Bu Rosa.


"Maaf kan saya Bu, karena saya keluar jadi tidak memasak di rumah." ucap Sarah. "Berhenti minta maaf! Saya tidak suka pada perempuan yang terlihat sangat lemah." ucap Bu Rosa.


"Dan apa yang terjadi kepada kamu? Keadaan kamu terlihat sangat kacau sekali!" ucap Bu Rosa.


"Tentang laki-laki? Perempuan yang sangat bodoh mau bertahan dan menangisi laki-laki yang sudah membuat nya menangis." ucap Bu Rosa.


Sarah langsung terdiam.


"Jangan pernah berharap kepada pria yang sudah meninggal kan dan tidak menghargai kamu." ucap Bu Rosa.


Sarah tersenyum tipis. "Baik Bu, terimakasih saran nya." ucap Sarah.


Mereka pun berjalan ke meja makan.


"Bagaimana Sarah tidak di sakiti oleh Laki-laki kalau dia sangat lemah seperti itu!" ucap Bu Rosa.


"Di katain dia hanya diam, sudah di caci dia juga diam, dia orang yang sabar. Selama ini saya sudah salah menilai dia." ucap Bu Rosa.


"Tante kenapa tidak makan?" tanya kina. Sarah menggeleng kan kepala nya.


"Tante tadi sudah makan dari luar, kamu makan saja yang banyak yah." ucap Sarah.


"Aku tidak boleh membuat Tante Sarah semakin lelah, aku harus mengikuti semua kata-kata Tante Sarah." ucap kina.


"Oh iya Tante, apa Tante tau papah kemana? Setelah Tante pergi, Papah juga pergi entah kemana." ucap Kina.


"Mungkin papah ketemu sama teman-teman nya." ucap Sarah. "Oohh gitu yah Tante." ucap Kina. Sarah mengangguk.


Sarah melihat ke arah pintu.


"Apa pak Andre tidak pulang? Bagus deh Kalau begitu. Dia tidak Akan tau kalau aku pulang telat." ucap Sarah dalam hati.


Namun baru saja dia mengatakan itu Andre sudah pulang.


"Mamah masih di sini?" tanya Andre. Bu Rosa melihat Andre.


"Kamu dari mana saja?" tanya Bu Rosa. "Aku dari luar mah, biasa lah." ucap Andre sambil duduk di samping Mamah nya.


Andre melihat ke arah Meja makan ada kina dan juga Sarah.


"Kamu lihat tuh si Sarah. Seperti nya dia lagi ada masalah, apa kamu tau apa?" tanya Bu Rosa.


Andre menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak tau mah, itu urusan dia, sebaiknya kita tidak perlu ikut campur." ucap Andre.


"Mamah Hanya mau ngomong kalau kamu jangan marah-marah atau mengatakan hal yang membuat dia sedih." ucap Bu Rosa.


Andre menatap Mamah nya seperti tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut mamah nya.


"Ada apa dengan Mamah? Sejak kapan Mamah perduli kepada Sarah?" tanya Andre.


"Sebenernya Mamah Hanya ingin tau sifat asli nya. Dari awal Mamah sudah yakin dia adalah perempuan yang baik." ucap Bu Rosa.


Andre terdiam sejenak. "Ya udah deh Mamah gak bisa lama-lama, papah kamu pasti menunggu papah, sebaiknya mamah pulang dulu." ucap Bu Rosa.


"Ya sudah kalau begitu, Mamah hati-hati yah." ucap Andre. "Terimakasih sudah menemani kina tadi." ucap Andre memeluk Mamah nya.


"Kina nenek pulang dulu yah." ucap Bu Rosa kepada Kina. "Iyah Nek, hati-hati yah." ucap Kina memeluk Nenek nya.


Bu Rosa menepuk pundak Sarah dengan pelan.


"Apapun masalah kamu, jangan berlarut-larut memikirkan tentang itu yah." ucap Bu Rosa. Sarah menatap wajah Bu Rosa.


"Kalau memang masalah nya dengan kekasih mu, sudah lupakan dia! Banyak yang mau pada kamu, kamu cantik, kamu baik dan juga kamu jujur." ucap Bu Rosa.


Sarah mengeluarkan air mata nya.


Tidak pernah lagi dia mendengar nasehat orang tua yang begitu lembut.


"Jangan terlalu lama sedih, jangan menyiksa badan kamu sendiri hanya karena pria yang tidak bersyukur memiliki kamu." ucap Bu Rosa mengelus rambut Sarah.