
Aku mencintai Zain dengan sangat sederhana, sesederhana cinta yang selalu di definisikan orang-orang. Awal pernikahan kami, kalian semua tau betul seperti apa rempongnya awal pernikahanku dengan Zain. Zain yang anak SMA, masih remaja, ABG labil, dan susah di kendalikan, sementara aku?? Aku perempuan dewasa yang juga memiliki keinginan lebih untuk membina sebuah rumah tangga.
Awalnya semua begitu terasa sulit, tapi, mereka bilang cinta bisa hadir karena terbiasa, iya mereka benar, karena aku dan Zain sudah terbiasa satu sama lain, jadilah cinta itu tiba-tiba muncul, yang entah di mulai dari kapan??.
Ada yang bilang juga cinta itu adalah sabar, iyah itu juga benar adanya, jika dulu aku yang setengah mati harus sabar menghadapi tingkah Zain, maka sekarang giliran Zain yang harus sabar menghadapi tingkahku. Sungguh, aku tidak sengaja memanfaatkan keadaan ini. Zain yang tiba-tiba jadi baik, pengertian, dan so dewasa ini sama sekali di luar kendaliku. Yang kutahu Zain hanya sangat bahagia dengan kehamilanku. Mungkin itu sebabnya semua hal yang kuinginkan selalu dipenuhinya.
Semenjak hamil, selain dari tubuhku yang berubah, ada banyak sifatku yang berubah juga, aku jadi agak manja, sensitif dan baperan. Itu sungguh bukan aku. Dulu aku adalah perempuan yang tegar, mandiri, dan kuat.
Selain itu, kadang aku merasa kehamilan di trisemester pertama ini sangat menyiksaku. Aku yang awalnya suka masak, tidak pemilih pada makanan, sekarang malah jadi sebaliknya.
Selain itu juga ada keanehan lainnya yang menjadi fakta. Semenjak hamil, aku juga jadi enggan tidur berdua dengan Zain. Padahal sebelumnya mana bisa aku tidur terpisah dengan Zain begitupun sebaliknya.
Berkali-kali Zain memberiku kode-kode yang hanya bisa di fahami oleh emak-emak yang sudah menikah. He ... tapi aku tidak mau meresponnya. Seperti malam ini.
“Kakak ... “ panggilnya, sudah mandi, wangi, dan tersenyum imut di pinggiran ranjang. Dia menggunakan sarung lengkap dengan baju kokonya. Imut banget pokoknya.
“Apa??” Aku mengedikkan wajah sambil melepas mukena selepas shalat isya.
“Sinih” Dia menepuk kasur di sampingnya.
“Haduh, aku lagi males deket-deket dia, rasanya lemes banget, pengennya tidur atau gak rebahan aja” hatiku bergumam. Yah ... tau sendirikan?? Zain mana bisa membiarkan aku nganggur sendirian??.
Tapi, aku tetep mengikuti keinginannya, duduk di sampingnya.
“Kakak, kok malam ini cantik banget sih??” ting! ting! ting! ... dia mengedipkan matanya berkali-kali. Kode ini mah. Tapi gimana caranya aku menghindarinya?.
“Zain, sebentar ya, aku mau cuci muka dulu” Aku berdiri, berniat beranjak menuju kamar mandi.
“Kakak ...” Zain menahan tanganku, aku memutar tubuh menatapnya.
“Jangan lama-lama” rajuknya.
“Iya” Aku memanggutkan kepala.
Di kamar mandi, sengaja aku cuci muka dan sikat gigi di lama-lamain, berkali-kali aku mengintip dari pintu kamar mandi, Zain masih setia menungguku.
“Haduh gimana ini??” Aku mondar-mandir di kamar mandi, Kira-kira alasan apalagi yang bisa kugunakan untuk menghindari terkaman Zain malam ini??.
Lama, akhirnya aku keluar dari kamar mandi, aku berjalan, Zain memperhatikan aku.
“Kakak, ayo sini” Dia kembali menepuk kasur disebelahnya.
“Emmhh ... Zain, aku mau makan mie, masak mie yuk” ajakku.
“Kakak, ini udah malem, ayo bobok” Dia merajuk, ish .... harus gimana lagi ini??.
“Aku mau mie Zain, kamu mau anak kamu ngeces gara-gara keinginannya tak dipenuhi??” akhirnya jurus pamungkasku aku keluarkan.
“Iya, iya“ tuh kan ... kalau untuk urusan anaknya, dia pasti langsung ngalah.
“Tapi janji ya, abis ini kita bobo” Zain merajuk ( Iieeeww ... author geli membayangkannya)
Kami berjalan beriringan menuju dapur, sambil memikirkan kembali, apa yang akan aku jadikan alasan setelah masak mie nanti.
Dua puluh menit, Zain selesai masak mie dan aku telah menghabiskan mienya.
“Kakak, ayo” Zain menuntun tanganku.
“Emmhh ... oya Zain, ini dapur berantakan, kamu beresin dulu yah,” tiba-tiba aku mendapat ide, setelah melihat panci mie yang tergeletak di atas wastafel.
“Apa?? Itu besok aja Kakak” Zain cemberut.
“Zain,“ Aku menatapnya tajam, Zain langsung menuruti keinginanku, dia mencuci panci dan mangkuk bekas aku makan.
Sementara aku, perlahan aku memasuki kamar, sambil mondar mandir, kira-kira alasan apa yang akan kukatakan untuk menghindarinya malam ini?.
“Ah, iya” Aku langsung menjatuhkan tubuhku di atas kasur, menarik selimut, lalu menutupkannya ke seluruh tubuhku.
Beberapa menit kemudian ...
“Kakak ...” terdengar suara imut itu memanggilku.
Aku tak bergeming, pura-pura tidur.
“Kakak, udah tidur??” Dia menyentuh bahuku, aku tetap pura-pura pulas dalam tidurku.
“Ish ...” terdengar dia mendengus kesal.
Lama, tapi mataku jadi sulit terpejam, masih kurasakan ada tanda-tanda kehidupan dari orang di sampingku, dia tidur dengan membanting tubuhnya kekiri dan kekanan. Seperti orang yang sedang gelisah. Kubiarkan dia.
Kurasakan dia menyambar ponselnya, lalu membukanya, entah apa yang dia lakukan dengan ponselnya, tapi lambat kudengar dia terkikik sendiri. Aku mengernyitkan dahi, penasaran dengan apa yang dia lakukan, tapi biarlah. Kalau aku bangun dan nanya dia pasti langsung .... ya gitu lah.
Pagi hari ....
Aku terbangun, aku meraba kasur disebelahku, sudah kosong. Zain sudah tidak ada di tempat.
“Kemana dia??” Aku menggumam.
Aku menoleh jam bekker, baru pukul lima pagi, tapi Zain sudah menghilang. Kuputuskan untuk menunaikan shalat subuh dulu, baru setelah selesai nanti aku akan mencarinya kembali.
“Zain,” panggilku sambil membuka pintu kamar.
“Kemana dia??” Aku celingukan.
“Satu!! dua!! satu!! dua!!” terdengar ada teriakan kecil dari taman belakang.
“Zain??” Aku berjalan menuju arah sumber suara.
Terlihat Zain sedang berolahraga berat, dia mengangkat barbel lanjut melakukan push up. Tidak biasanya dia seperti itu. Aku menggeleng lalu menghampirinya.
“Zain?? Kamu lagi olahraga?? Tumben??” tanyaku, sambil menatap wajahnya yang sudah bercucuran dengan keringat.
Yang di tanya malah diem. Aku bingung lagi, kenapa dia? Gak biasanya.
“Zain??” panggilku lagi.
Yang ditanya malah memalingkan wajah. Menyambar handuk kecil lalu berlalu mendiamkan aku. Wajahnya di tekuk mak, dia cemberut. Asli ini agak horor.
“Zain” Aku mengekorinya dari belakang, tapi Zain masih tetap berlalu menuju kamar, masuk kedalamnya, menyambar handuk, lalu masuk kedalam kamar mandi.
“Ck, dia pasti marah ini, karena semalam aku gak kasih dia jatah. Huh ... dasar bocah” Aku ngedumel sendiri.
Aku memilih untuk menunggu Zain selesai mandi, nanti aku akan meminta maaf padanya.
“Zain, ini baju kamu udah aku siapin” Aku menyodorkan baju kerja untuk Zain, tersenyum semanis mungkin, sebagai sogokan biar dia gak ngambek lagi.
Dia menerima baju yang kusodorkan tanpa bicara.
“Zain, kamu marah??”
“Tau lah, Kakak tukang PHP” Dia memalingkan wajahnya.
Jleb ....
Aku merasa sangat bersalah mak. Tapi, aku harus gimana dong?? Aku tuh capek, males juga.
“Maafin aku yah, aku ketiduran semalem” Aku mencoba merajuk.
“Tau ah, aku kesel” jawabnya sambil berlalu.
“Gitu aja marah” Aku mengikutinya dari belakang.
“Jangan marah-marah Zain, nanti kamu cepet tua” Aku merayunya.
“Biarin” jawabnya acuh, sambil menggunakan sepatunya.
“Aku janji nanti malam double” rayuku lagi.
“PHP mulu” Dia melengos, terlihat jelas dia masih sangat kesal.
“Ya ampun, kamu Zain, aku gak sengaja, aku ketiduran” Aku masih beralasan.
“Ya udah aku berangkat kerja dulu” Zain meraih kepalaku, mencium keningku seperti biasanya, hanya saja yang tidak biasa wajahnya di tekuk. Manyun. Cemberut. Ngambek.
Ampun deh. Aku harus gimana coba????.
Bersambung .....................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers................ yang sukanya cuman ngehujat, dan komentar buruk, boleh
tinggalkan likenya juga ya.
Terimakasih banyak untuk Kakak readers yang masih setia dengan cerita Dede Zain dan Kakak yas, terimakasih untuk Kakak2 yang mau memberikan komentar positif memberikan dukungan sepenuhnya untuk author, like, bintang lima, dan memberikan votenya tanpa neko neko, dan untuk yang memberikan tips koinnya juga, terimakasih banyak Kakak. Semua itu sangat berharga dan berarti bagi author. Sekali lagi terimakasih banyak.