
Setibanya dirumah Mamah mertua, kami langsung disambut dengan hangat oleh mereka, memiliki mertua sebaik Mamah dan Papahnya Zain, membuat aku merasa memiliki keluarga yang utuh, aku merasa ada sosok pengganti Mamah dan Papahku yang sibuknya melebihi presiden.
“Yas, kalian udah nyampe?? sini Mamah kangen banget sama kalian“ Mamah memelukku erat.
“Iya Mamah“ jawabku sambil tersenyum, meraih tangannya, kemudian menciumnya.
“Ya udah, ayo sini masuk, Mamah mau siap siap dulu ya“ kemudian Mamah beranjak pergi kedalam kamar meninggalkan kami yang masih berdiri, kehebohan Emak kalau mau belanja yah begitulah, sama saja, he.
“Kak, mau lihat dulu kamar aku gak??” Zain menuntun tanganku memasuki zona pribadinya.
“Boleh,“ jawabku sambil mengikuti langkahnya.
“Ttttaaaarrraaaa ...” Zain membuka kamarnya dengan antusias.
“Allahuakbar, Zain ini kamar atau kapal pecah??” Aku menganga tak percaya, melihat penampakan kamar Zain.
“Eeehhheeee ...” Zain tertawa sambil garuk-garuk.
“Kalau ini sih, bukan kamar Zain, lebih tepatnya gudang“ Aku berkeliling di kamar Zain, kemudian memperhatikan setiap benda yang menghuni kamar Zain, ring basket, gitar, bola basket, sepatu, baju, dkk semuanya tidak pada tempatnya.
“Zain gak sekalian aja kamu taruh katel sama panci di kamar kamu??” tanyaku sambil memperhatikan berbagai macam foster yang tidak aku mengerti, yang kebanyakan adalah foster pemain sepak bola, yang bahkan namanya saja aku susah untuk menyebutkannya.
“Padahal itu udah Mamah beresin sebagian lho Yas“ tiba-tiba Mamah muncul dari belakang kami.
“Eh oya??” tanyaku agak kaget dengan kemunculan Mamah yang tiba-tiba.
Sementara Zain hanya terdiam, seperti tidak suka jika hobinya banyak di tentang keluarganya sendiri.
“Tapi gak apa-apa Mah, apapun cita-cita Zain aku pasti bakalan dukung kok“ jawabku akhirnya.
“Yah, kalau Mamah sih, maunya Zain itu sekolah, kuliah, yang bener, Mamah harap Zain bisa meneruskan usaha Papahnya“ Mamer mengutarakan keinginannya terhadap putranya.
“Iya sih Mah, tapi kalau Zainnya gak nyaman kan nantinya bakalan jadi lebih kacau“ Aku tersenyum kala melihat Zain sekilas yang juga tersenyum, mungkin dia merasa ada yang membela.
“Mamah salut lho sama kamu, kamu bisa mendukung keinginan anak yang susah di atur ini“ Mamer mengacak rambut Zain sambil tersenyum.
“Mamah, aku bukan anak-anak, tapi aku adalah suaminya Kak Yas" dengan bangganya Zain menjawab omelan sang bunda.
“Ya ampuunnn Zain kami sekarang sudah mulai dewasa ya“ Mamah kembali mengacak rambut putranya, sementara aku hanya memperhatikan tingkah mereka, rasanya iri sekali melihat pemandangan ini .
“Ya udah ayo kita berangkat dulu kepasar, nanti pasarnya keburu tutup lagi“ Mamer berdiri kemudian berjalan keluar rumah diikuti aku dan Zain.
Beberapa menit menempuh perjalanan yang lumayan penuh perjuangan, karena udara panas, dan macet yang tak berkesudahan, akhirnya kami tiba di sebuah pasar tradisional, agak sedikit bingung, orang kaya sekaya Mamer, kenapa juga rela masuk pasar yang becek dan bau, beradu tawar dengan si Mamang pedagang sayur, entahlah mungkin Mamah sedang mengajariku tentang sebuah kesederhanaan, yah ku akui, aku harus banyak belajar dari Mamer.
Bersambung......
Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa.... like, komentar, bintang lima dan votenya juga. terimakasih.