
Berjalan-jalan bergandengan tangan, merasakan semilir angin malam, berdesak-desakan di antara pengunjung pasar malam lainnya, aku menikmati semuanya.
Jeduk!!
“Aduh, hati-hati dong Mbak!!” teriak seorang pria, yang tak sengaja tubuhnya tersenggol oleh permen kapas berbentuk guling yang ku tenteng.
“Ah iya, maaf pak, saya gak sengaja“ Aku membungkukkan tubuhku, tanda meminta maaf.
Setelahnya aku berjalan kembali, tak lama kemudian ...
“Aduh Mbak, maaf itu permen kapasnya menghalangi jalan saya!!“ teriak seorang Ibu paruh baya, yang menuntun anaknya, disini jalannya memang sempit, di tambah banyaknya pengunjung, membuat suasana menjadi semakin hiruk-pikuk.
“Ah, iya maafkan saya bu“ Aku kembali memeluk hadiah penyiksaan yang di berikan Zain.
Aku melanjutkan perjalanan, Zain masih menggandeng tanganku, dengan susah payah, aku melewati orang-orang, sambil memeluk benda yang sangat merepotkan ini.
Jedukkk!!!
“Awwww ... “
“Kakak, Kakak gak apa-apa??” Zain menghentikan langkahnya, berjongkok untuk merengkuh badanku, yang tak sengaja menabrak tukang gorengan, karena aku tidak bisa melihat jalan dengan benar. Karena terhalang oleh benda yang ku peluk dari tadi.
“Ish, Zain?? tidakkah ini seperti hadiah penyiksaan?” Aku mencoba berdiri, tak lupa permen kapas, rasa guling, kembali aku peluk.
“Ini, sebagai tanda kasih sayang dari aku Kakak," Zain merajuk, tak terima dengan pernyataanku.
“Tapi aku susah bawanya Zain, ini terlalu besar, dari tadi aku nubrukin orang terus“ Aku merajuk.
“Gak apa-apa, atau, sebentar ... Kakak, tunggu di sini“ Zain kembali meninggalkan aku.
“Apa lagi ini?? Ya Allah, tolonglah hambamu ini“ Aku meratap.
“Tarrraaaa.... “ Zain kembali datang, dengan permen kapas, tapi kali ini ukurannya lebih kecil, karena berbentuk LOVE.
“Ya ampun Zain, kamu mau nambah hadiahnya??” Aku terperanjat tak percaya.
“Kakak, jangan di tolak, ini pemberian dari suami Kakak, ayo jalan lagi,“ Zain kembali menarik tanganku.
“Zain, apa sebaiknya kita pulang saja?? ini sudah malam“ ajakku, mulai jengah, Zain sih enak, karena dia hanya berjalan sambil menggandeng tanganku, lah aku?? Aku harus menenteng dua buah hadiah penyiksaan yang di berikan Zain, lagi pula, sebelum Zain memberikan aku hadiah aneh lainnya, aku sebaiknya mengamankan diriku sendiri.
“Kakak, aku masih ingin jalan-jalan“ rajuknya.
“Zain, ayo pulang“ nadaku mulai tegas.
“Tapi kak,“
“Zain“ Aku menatapnya dengan tatapan yang menakutkan.
“Ish, ya udah, ayo pulang“ Zain memutar arah, menuntun tanganku, lalu berjalan menuju parkiran.
“Ayo naik, pegangan yang kuat ya“ Zain menaik turunkan alisnya.
“Iya,“ Aku memutar kedua bola mataku ‘Dasar Modus‘.
“Kakak, suka jalan jalannya??” Zain bertanya padaku, sambil memakaikan helm pada kepalaku.
“Suka,“ jawabku semangat,
Yah, aku memang menginginkan jalan-jalan yang romantis, ala-ala drama korea, tapi apalah daya, punya suami bocah, memang agak menyulitkan.
Ish, bahkan tadi aku sudah latihan berdansa, tapi ternyata Zain malah mengajakku menaiki biang lala. Aku sudah berkhayal Zain akan memberiku seikat bunga, tapi nyatanya Zain malah memberiku hadiah penyiksaan, yang sekarang harus aku tenteng di belakang tubuh Zain.
Tapi, aku akan tetap bersyukur, memiliki suami imut seperti Zain, tak pernah ada dalam bayanganku sebelumnya. Aku bahagia.
Bersambung.....................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers.................
like, komentar positif dan membangun, tekan bintang lima, dan juga vote sebanyak banyaknya ya ... aku tunggu, terimakasiihhh ...