
Wahai istriku, pesona dirimu tetap menjadi daya tarik tersendiri bagiku, di saat kamu marah-marah, di saat kamu mengomel, di saat kamu ngambek, sungguh itu adalah keindahan tersendiri bagiku. Memilikimu adalah anugrah yang teramat besar bagi hidupku. Ah ... aku ingin mengucapkan jutaan kata terimakasih padamu, karena sudah mau menerimaku apa adanya, kamu terlalu baik, kamu sabar, kamu pengertian. Aku harus apa coba?? Bagaimana caraku mengungkapkan kata sebagai tanda, jika kamulah wanita kedua setelah Mamah di hidupku.
Senyummu, ceriamu adalah hiburan tersendiri bagiku. Maafkan aku, jika kadang lantunan ucapan cinta yang bertubi-tubi selalu kau dengar, terasa lebih dalam dan panjang, serta terlalu lebar mengisi telingamu, padahal hanya karena aku melihatmu memainkan ponselmu, aku tau, kamu tidak akan pernah berpaling dariku. Tapi rasanya, apa ya??? Sepertinya aku tidak rela di duakan, meski kamu hanya berpaling pada benda pipih itu, tapi rasanya aku tak ingin berbagi, meski itu hanya ponsel sekalipun. Putri kita?? Biar aku saja yang merawatnya, fokusmu seratus persen tetaplah padaku. Aku egois bukan?? Yah ... kadang cinta memang begitu. Ck, maafkan sayang.
Istriku, tahukah kamu??? Lagi-lagi pesonamu membuatku menggila, rasanya setiap malam aku selalu ingin mematikan lampu itu, lagi dan lagi, maafkan aku yang kadang ketika kamu mendapatkan tamu bulananmu, aku seringnya tidak memelukmu, dan malah menjadikan bantal guling sebagai penggantimu. Ah ... aku sungguh menggila jika itu tentang dirimu.
Seringkali, jika aku yang melakukan kesalahan, tapi akulah yang meminta hadiah darimu, maka dengan mengerucutkan bibir, kamu akan bilang “Bagus yah, yang salah siapa? Yang dapet hadiah siapa?” ah ... suaramu itu, yang selalu aku rindukan, dimanapun aku berada.
Istriku sayang, Mommynya Pelangi putriku, aku tahu cintamu padaku sudah terpatri sejak lama, aku tak pernah meragukanmu, dan kamupun jangan pernah ragu, tenang saja sayang. Kamu telah memilih pria yang tepat sebagai suami idamanmu.
Istriku, aku menerimamu apa adanya, beserta cerewetnya kamu, beserta pemarahnya kamu, beserta perbedaan usia kita, manjanya kamu, dan rentetan minus dan plusnya dirimu yang kadang tidak kamu sadari. Pun seperti kamu yang siap menerimaku, kekanakanku, rasa cemburuku, kenakalanku, rumahku, kendaraanku, perusahaan warisan orangtuaku, dan seluruh isi dompetku. Uuuhhhuuu ....
“Daddy??? Kenapa bengong??” pertanyaan itu berhasil membuyarkan lamunanku, yang kala itu, aku tengah memperhatikan istri cantikku yang sedang mengganti popok Pelangi, setelah kepegian Imam sahabatku.
Aku mengerjap “Ah, tidak apa-apa Mommy” Aku menggeleng pelan, lalu tersenyum padanya.
“O ya? Tadi Imam ngomongin apaan sih?? Kok pake bisik bisik segala??” tanyanya dengan nada menyelidik.
“Ah, gak apa-apa, itu urusan para pria Mommy” jawabku ragu, aku?? Mana mungkin bisa menyembunyikan sesuatu darinya. Apa aja tentang aku dia mesti tau. Dari mulai hal kecil, remeh temeh, hingga hal besar sekalipun. Jika kedapatan ada hal kecil yang belum di ketahuinya, tau kan?? Perempuan bakalan ngapain?? Ya bakalan nyanyi sepanjang hari sambil mukulin panci. Iiihhh ... serem pokoknya.
“Oh, jadi sekarang kamu udah mulai main rahasia rahasiaan??” tanyanya dengan nada kecewa, pandangannya kembali tertuju pada Pelangi, yang sedang minum susu dari botol minumnya.
“Eeemmhh ... percaya deh, ini bukan apa-apa” Aku berusaha meyakinkannya, lagian Imam kenapa sih?? Minta tolong hal kayak begituan sama aku?? Ini namanya mematik api di pom bensin.
“Iya, percaya kok” jawabnya, duh ... bagiku, jika istriku sudah mengatakan hal itu, artinya dia ragu, gak percaya aku, aku yang menyepelekan keberadaannya. Gimana dong?? Tapi ini amanah dari Imam. Aku gak boleh bilang siapa-siapa.
“Mommy, kita jalan-jalan aja yuk” Ajakku akhirnya, mencoba mengalihkan perhatiannya, selama masa pandemi covid-19, kita sekeluarga mengikuti anjuran pemerintah untuk stay at home. Aku tau, dia pasti jenuh sekali terus dikurung di rumah, karena mengurus bayi itu tidak mudah, kadang aku sering mendapatinya bergadang sepanjang malam hanya untuk menjaga putriku, istriku memang perempuan luar biasa. Dan sekarang anjuran terbaru dari pemerintah sudah kembali keluar. New normal, itu istilahnya untuk saat ini, kita boleh keluar rumah, asal harus tetap menjalankan peraturan yang sudah di tentukan, salah satunya dengan tetap menggunakan masker, jaga jarak, dan cuci tangan sesering mungkin.
“Ayo!” Tuh kan ... matanya langsung berbinar kala aku mengajaknya untuk keluar rumah, dia udah rindu suasana emol pasti.
“Ya udah kita siap siap aja yuk” ajakku, sambil mendekati boks tidurnya putriku, sementara istriku segera bergegas, bersiap untuk mengganti pakaiannya.
Tak lama ...
“Ayo!!” serunya, aku meliriknya, anehnya istriku selalu terlihat cantik, apapun yang dia pakai, hingga aku sering sekali merasa takut, takut jika dia di lirik pria lain.
“Mommy, jangan pakai hijab yang itu, itu terlalu pendek” peringatku.
“Apanya yang pendek?? Ini udah nutupin dada kok, belakangnya juga nutupin bokong” Dia berkilah, ya memang benar sih, tapi aku gak suka dia terlihat cantik di mata orang lain.
“Ya pokoknya ganti aja” Aku masih keukeuh.
“Ish ...” Dia kembali masuk kedalam ruang ganti.
Tak lama ...
“Ini gimana??” tanyanya dengan lemas, mungkin takut jika aku kembali tak menyetujuinya.
“Eeeemmmhhh ... ganti lagi, aku gak suka” Aku membentikkan telunjukku.
“Apa??? Ish ...” Istriku kembali masuk kedalam ruang ganti, untuk mengganti bajunya lagi.
“Ini gimana??”
“Ganti”
“Ini??”
“Ini??”
“Gak bagus”
“Ini??”
“Aku gak suka”
“Daddy!!!!!!!!!!”
Aku mengerjap kaget, bahkan Pelangi pun sempat mengerjap, karena suara lengkingan Mommynya.
“Kenapa aku gak kamu suruh pake karung goni sekalian????!!!” teriaknya prustasi.
“Eeehhheee ... Maaf, ya udah, pakai yang itu aja” jawabku akhirnya, males juga daripada dengerin dia nyanyi seharian, terus kalo tidur di punggungin?? Kan gak enak, itu horor banget.
“Ya udah, yuk kita berangkat” eeeehhh ... dia senyum lagi, meraih tasnya, lalu berjalan mendahuluiku. Sementara aku di belakang menggendong Pelangi.
Sepanjang jalan menuju emol, kami habiskan dengan obrolan-obrolan yang sederhana, sesederhana aku mencintainya, eh?
“Daddy?? Kenapa sih?? Kamu mau di panggil Daddy? Dan aku harus Mommy? Kita tuh bukan bule, yang harus di panggil kayak gituh” tuh kan ... dia mulai lagi mempertanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang, cewek tuh kenapa sih kayak gituh?? Sukanya bertanya dengan pertanyaan yang jelas dia udah tau jawabannya.
“Ya ... biar kekinian aja” jawabku ngasal.
“Idih, nanti sepuluh tahun kedepan, mungkin aja akan ada nama panggilan lain yang lebih kekinian, terus? Kamu mau ngikutin juga??” tanyanya dengan pandangan lurus kedepan.
“Ya enggak, aduuhhh repot banget sih? Gitu aja di permasalahin” Aku sih, udah males banget harus jelasin semuanya, penjelasannya udah di jelasin berulang-ulang lho. Aku aja sampe bosen banget jelasinnya.
“Masalah anak, harus mau di repotin” jawabnya enteng.
“Kalau gituh, mau gak??” Aku bercandain aaaahhh ...
“Mau apa??” tanyanya melirikku.
“Mau di repotin lagi” jawabku tersenyum penuh arti padanya, ya semoga aja dia faham.
“Maksudnya??” Ya elah, pura-pura gak ngerti lagi, cewek mah gituh ...
“Mau gak Mommy ngasih adik Pelangi buat aku??” Aku perjelas deh, biar urusannya gak jadi panjang.
Dia menatapku tajam “Daddy mau gak??” tanyanya tiba-tiba, dengan senyum tertahan.
“Mau apa??” tanyaku bingung.
“Mau pingsan lagi, waktu lihat aku lahiran???!!!!!”.
Jleb ...
Gini nih, kalau punya istri lebih perkasa dari suami ...
Nasib nasib ...