TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Ajakan Mamer


“Zain??? Dari mana aja kamu???” tanyaku pada Zain yang baru saja datang, dengan wajah penuh keringat, badan bau dan baju kotornya.


“Aku abis pulang latihan main bola Kak“ jawabnya sambil tersenyum.


“Zain, kamu gak ada kegiatan lain lagi selain main bola??” tanyaku, kesel aja sih, liat badan udah kayak pisang dibungkus coklat. Warnanya lecek tapi tetep manis, eeaaakkk.


“Gak ada Kak, apalagi sekarang aku lagi latihan buat pertandingan antar sekolah, jadi waktu aku bakalan banyak dihabisin buat latihan main bola Kak“ jelasnya.


“Ya udahlah Zain, gimana kamu aja“ jawabku sambil berlalu masuk kedalam kamar, lalu kukunci, kutinggalkan Zain yang sedang melongo menatapku.


Kkkrriinngg ... kkkrrriinngg ... kkrriinngg ...


Suara telpon yang tengah aku genggam berbunyi, kulihat layarnya dan muncul disana nama Mamah mertua.


“Hallo Assalamu’alaikum Mamah“ sapaku.


“Wa’alaikumsalam Yas, lagi apa??” tanya Mamah.


“Aku lagi ada aja mah dirumah“ jawabku ngasal.


“Zain ada dirumah Yas??”


“Ada mah, kenapa??”


“Kalian bisa kesini gak?? soalnya Mamah nanti malam mau ada acara, syukuran kecil-kecilan, yah kita makan-makan aja Yas, sambil Mamah mau minta anter kepasar, bisa kan??” Tanya Mamah, aku bingung, aku aja baru sembuh dari sakit, tapi sekarang Mamah mertua udah ngajak jalan aja, gimana ya??.


“Ya udah Mah, nanti Yas kesana sama Zain“ Akhirnya aku mengalah.


“Ya sudah Mamah tunggu ya Yas“ Mamah menutup telponnya setelah mengucapkan salam dan dijawab olehku.


Hhhhuuuuuhhh ... kerumah Mamah mertua, harus bantuin belanja, sama masak juga, u la la, niat mau rebahan aja, kuurungkan, aku segera berganti pakaian, dan menemui Zain.


“Zain, kata Mamah kamu, kita disuruh kerumah, soalnya Mamah mau ada acara“ kataku sambil membuka pintu kamar Zain, tapi seketika aku kaget dengan pemandangan yang kulihat.


“Ya ampun Zain, itu kaki sama tangan kamu kenapa?? kok biru lebam kayak gitu sih??” Aku menghampiri Zain, duduk di sampingnya yang tengah meringis.


“Kamu itu, makanya hati hati“ tanpa sadar aku telah menunjukkan rasa khawatirku.


“Iya Kak, tadi gak sengaja“ jawabnya menunduk.


“Ya udah, sini aku obatin dulu“ Aku berjongkok, meraih kotak P3K dan mulai mengelap luka Zain dengan antiseptik.


“Kakak,“ Zain memanggilku.


“Hmmhh??” jawabku sambil tetap fokus pada luka Zain.


“Kakak cantik,“ katanya sambil malu-malu.


Aku berhenti mengelap lukanya, kutatap wajahnya lekat, tapi yang di tatap malah malu-malu, aku menggelengkan kepala kemudian kembali fokus pada luka Zain.


“O ya??” jawabku asal.


“Iya, apalagi kalau lagi gak ngomel“ Zain menunduk kemudian menggigit bibir bagian bawahnya, come on, inikah suamiku???.


“Aku gak bakalan ngomel, kalau kamu jadi anak yang penurut" Jawabku sambil menekankan kapas pada luka Zain.


“Addddaaaauuuu Kakak, pelan-pelan dong, aku ini suami Kakak yah, bukan anak-anak“ Dia terlihat marah, dengan wajah imutnya, udah mulai so dewasa dia,


“Iya, su a mi“ jawabku sambil berdiri,


“Ya udah suami ayo kita siap-siap berangkat keburu sore” Aku berlalu dari ruangan kamar Zain, aku mengurut dadaku sendiri.


"Oooohhh ... jadi seperti ini rasanya di puji suami sendiri“ Aku tersenyum sendiri menuju dapur, untuk cuci tangan.


Bersambung...............


Hay readers, jangan lupa cuci tangan pake sabun di air mengalir yaaa.....dan jangan lupa juga dukung author terus, bantu dukung like, koment, rating, dan vote sebanyak banyaknya yaaaaa.....author tunggu lhooo...makasiihh....