
Hari ini, hari minggu Zain libur kerja, sementara itu, Mamah dan Papah sedang menginap dirumah Tante Meta.
Usia kehamilanku kini sudah menginjak usia dua bulan, rasa mual, pusing, masih seringkali mendominasi, malah kurasakan semakin parah dari sebelumnya. Rasanya morning sicknes itu sungguh tidak enak, pagi hari secara rutin aku masih mual muntah, ketika mencium bau bawang dan minyak aku juga kembali muntah, bahkan ketika Zain meminum susupun aku terus muntah. Huhh ... aku hanya bisa menikmati semua proses kehamilanku ini.
Tapi, aku ada senengnya juga hamil, semenjak aku hamil, Zain jadi ekstra perhatian padaku. Seringkali dia membantuku dalam urusan rumah. Seperti hari ini,
“Kakak, biar aku yang nyuci baju, Kakak diam aja ya” dengan sigap Zain menyambar pakaian kotor, memisahkan pakaian yang harus dicuci dengan mesin cuci, dan pakaian yang harus dicuci dengan manual. Setelah selesai menyortir pakaian, lalu Zain memasukkan pakaiannya kedalam mesin cuci. Kemudian mencuci sebagaian pakaian dengan manual. Aku tersenyum melihat tingkahnya, beruntungnya aku, punya suami yang mau peduli dengan segala urusan rumah, disaat aku sedang seperti ini.
“Kakak, jangan nyapu, sini biar aku aja yang nyapu” dengan sigap kembali Zain meraih sapu yang tengah aku pegang, kemudian melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat aku garap.
“Kakak, jangan pel, nanti aku aja yang pel” lagi dia berseru, aku kembali mengalah. Menyerahkan segala pekerjaan rumah padanya.
Jujurnya aku tidak senang, jika seluruh pekerjaan yang harusnya di kerjakan olehku, tapi harus di garap oleh Zain, tapi mau gimana lagi?? Punya suami terlanjur baik kayak gitu??.
“Kakak, hari ini aku yang masak, Kakak mau di masakin apa??” tanyanya antusias, setelah selesai mengerjakan semuanya.
“Apa aja Zain” jawabku, sambil menyelonjorkan kaki di atas karpet bulu-bulu di depan televisi.
“Aku masakin sop ayam ya?” tanyanya, menyembulkan kepalanya di pintu penghubung, antara dapur dan ruang televisi.
“Iya” jawabku singkat, sambil mengurut kaki yang terkadang terasa keram.
Zain kembali kedapur, mungkin sekarang dia sedang berkutat di depan kompor, sementara aku, meraih remote televisi, dan menyalakannya. Ku pijit secara acak nomor yang ada di remot TV. Hingga akhirnya kutemukan film kartoon dengan tokoh kesayangan Zain, Doraemon.
Lima belas menit berlalu, aku masih menonton. “Kakak, makan dulu” Zain membawa nampan yang berisi makanan hasil karyanya. Sop Ayam, nasi, dan susu Ibu hamil.
“Zain, aku gak mau minum susu Ibu hamil, rasanya enek” Aku merengek.
“Kakak, harus minum biar kuat” Zain mengacungkan bulatan tangannya.
“Gak, kamu aja yang minum” Aku merajuk.
“Kakak, ayo dong, minum susunya jangan manja” Zain menyodorkan segelas susu kehadapanku.
“Apa??? Kamu bilang aku manja??? Kamu yah, tega banget bilang aku manja, aku gak manja!!” tiba-tiba hatiku merasa sakit saat Zain mengatakan kata-kata itu. Entahlah ...
“Ah, iya maaf, aku gak sengaja” Zain menunduk, merasa bersalah.
Tapi, semenjak hamil, entahlah, rasanya egoku semakin tinggi dari Zain, berbeda dengan Zain yang kini kurasa dia semakin sabar menghadapiku.
“Minum yah” Zain kembali menyodorkan susu yang tengah dipegangnya.
“Gak!!” Aku memalingkan wajah.
“Ayo dong Kak”
“Gak!! kamu aja yang minum” Aku masih merajuk.
“Bener yah, aku yang minum” ancam Zain.
“Iya,” jawabku sambil kembali fokus pada tv.
Guk ... guk ... guk ... terdengar suara orang tengah minum dengan emosi, ku lirik Zain dengan ekor mataku.
“Whhhaaattt??? Zain kamu minum susunya??” Aku mendelik, tak percaya jika Zain sungguh akan minum susu Ibu hamil milikku.
“Huuuaaaaa ... kenapa kamu yang minum sih??” Aku menggerutu.
“Tadi, katanya suruh aku yang minum” Zain mengerucutkan bibirnya.
“Ya tapi kan??” bingung, entah apa yang harus kukatakan, bener sih aku tadi nyuruh dia yang minum susunya, tapi kok diminum beneran sih?? Itu susu buat Ibu hamil lho, bukan susu biasa. Ck.
“Udah, sekarang makan sopnya, jangan bilang aku lagi yang harus makan semuanya” ancam Zain.
“Emmhhh ... Zain kita jalan-jalan aja yuk, aku mau makan cireng yang ada di ujung gang itu” ajakku.
Zain memutar kedua bola matanya, terlihat dia sangat jengkel akan tingkahku pagi ini.
“Makan dulu Kak” Zain menyodorkan sop buatannya kehadapanku.
“Gak! aku mau makan cireng aja” Aku masih merajuk.
“Ya udah yuk berangkat” Zain berdiri, menuntun tanganku untuk pergi membeli cireng keinginanku.
Kami berjalan menyusuri jalanan komplek, pagi ini jalanan cukup ramai oleh orang-orang yang sekedar lari pagi, atau melakukan aktifitas lainnya. Maklum hari minggu, jadi banyak orang yang menghabiskan paginya hanya untuk berolahraga.
Sepanjang jalan banyak sekali orang-orang yang menatap kami dengan tatapan kagum, tapi, ada pula yang menatap kami dengan tatapan iri. Yah begitulah manusia, selalu memiliki tatapan yang berbeda.
“Bang cirengnya lima ya” tiba di tempat si mamang penjual cireng, Zain langsung memesan, sementara aku duduk menunggu di kursi yang disediakan oleh pedagang.
“Neng, permisi” tiba-tiba Ibu berbadan montok duduk disampingku, aku menggeser untuk memberinya ruang untuk duduk.
“Neng, lagi beli cireng juga yah??” tanyanya.
“Iya bu” Aku tersenyum sambil manggut.
“Sama adiknya ya neng??” tanyanya lagi, sambil melirik Zain, yang berdiri di samping si Mamang yang sedang membungkus cireng yang kami pesan.
Aku diam, lalu tersenyum “Bukan, itu suami saya” jawabku.
“Hah?? Suaminya?? Ganteng banget neng,” Si Ibu senyam-senyum.
“Terimakasih Bu” ada rasa bangga di hatiku, iyah memang, Zain ganteng, imut dan lucu. Siapa yang gak mau punya suami seimut Zain.
“Pasangan yang serasi, Nengnya cantik, suaminya ganteng banget” lagi si Ibu memuji muji aku dan Zain, kalau grobak si mamang cireng gak pake atap, mungkin ni hidung udah terbang kali ya. Heeee.
“Terimakasih Bu” lagi hanya kata itu yang bisa ku katakan.
“Kakak, udah yuk pulang” Zain mengacungkan bungkusan cirengnya, lalu menuntunku untuk pulang. Setelah aku berpamitan pada si Ibu montok, akupun mengikuti langkah Zain.
Dengan tangan bergelayut manja pada tangan Zain, aku terus berjalan menuju rumah.
Banyak untungnya juga punya suami brondong, selain dia mau ikut terlibat dengan urusan rumah, aku juga jadi PD banget kalau jalan-jalan sama Zain. Dia ganteng dan masih muda sih, hheee ... ternyata punya suami brondong itu cukup rekomended kok.
Bersambung ...................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, yang ngatain, yang ngehujat, jangan lupa bubuhkan jempolnya buat like juga yaaa, yang masih mendukung cerita ini, yang masih setia dan selalu suport author, tinggalkan juga jejaknya yaaa, like, komentar positif, bintang lima, dan votenya juga. Makasiiihhh readers ....
Follow akun IG author ( Teteh_neng2020)