
Dear keluarga Cindy ....
Hay ... aku adalah sahabat Cindy, maaf karena telat memberitahu kalian semua, Cindy sudah di operasi karena usus buntu, maaf karena aku telah menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi tanpa mengabari kalian terlebih dahulu. Maaf juga karena telah meninggalkan Cindy tanpa menunggunya hingga bangun. Sekali lagi maaf ya keluarga Cindy ... ( ._. )
**Mr. Z**
Riyan tersenyum kala melihat tulisan tangan yang sama sekali tidak rapi itu.
“Siapa mister ‘Z’ itu??” Riyan kembali memperhatikan surat yang di titipkan di suster dari pria baik hati yang telah menyelamatkan nyawa adiknya.
Riyan segera beranjak menuju ruangan tempat Cindy di rawat dengan tergesa, setelah sebelumnya dia di telpon pihak rumah sakit, yang mengabari bahwa adiknya tengah di rawat disana.
Setibanya di ruangan Cindy, ternyata Cindy masih belum siuman akibat pengaruh obat bius.
Riyan menatap adiknya lekat “Ck, apa kamu sudah memiliki pacar Dek?? Jika orang yang menolongmu adalah pacarmu, maka aku akan merestui hubungan kalian, dia begitu baik” Riyan mengusap kepala adiknya, kemudian menaikkan selimut hingga menutupi dada Cindy.
Tiba di rumah ...
Zain turun dari motornya, lalu berjalan perlahan, mengendap-endap, berharap istrinya tidak mendengar suara-suara yang ditimbulkan olehnya.
krriiieeetttt ... (pintu dibuka.)
"Kok lampunya udah dimatiin sih?? apa Kak Yas sudah tidur ya??" gumam Zain, sambil terus berjalan.
Cetrek ... lampu tiba-tiba dinyalakan.
“Zain?? Dari mana aja kamu?? Ini jam berapa???” Yasmin menatap jam dinding yang menempel di ruang tengah, sambil melipat tangannya.
“Hee ... maaf Kakak, tadi jalanan sungguh-sungguh macet” jawab Zain gelagapan.
“Yakin kamu??” Yasmin mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya, mencoba mengendus segala ketidak beresan yang ia hirup dari tubuh suaminya.
Zain memundurkan langkah ragu, merasa takut, risih akan perlakuan istrinya dan di tambah lagi tubuhnya sudah gemetar.
“Ya yakin Kakak“
“Okeh,“ Yasmin segera melangkahkan kakinya menuju arah dapur.
“Oooouuuhhh ... Kak Yas selalu membuat tubuhku bergetar” Zain merasakan tubuhnya kian merinding.
“Zain makan!!”
“Astaga!!” Zain kembali mengerjap, kaget dengan teriakan istrinya yang melengking dengan nada tinggi, setinggi-tingginya.
“I iya!!!” Zain melangkahkan kakinya menuju arah dapur, mengikuti perintah istrinya.
Selama proses makan suasana hening, tak ada yang bicara hanya ada suara dentingan sendok dan piring. Ini tidak biasanya.
Dddrrrttt ... dddrrrttt ... dddrrrtttt ...
Suara ponsel Yasmin berbunyi, Yasmin mengabaikannya,
Dddrrrttt .... dddrrrttt .... dddrrrttt ....
Suara ponsel kembali terdengar nyaring, Yasmin menoleh, lalu meraih ponselnya.
“Hallo Asslamu’alaikum Riyan” sapa Yasmin.
Deg!
Zain kembali terperanjat, takut jika Riyan mengatakan jika Zainlah yang telah menolong Cindy.
“..................”
“O ya?? Kenapa??”
“.................”
“Ya ampuuunnn kok bisa sih Yan??”
“.................”
“Ya udah gak apa-apa, besok aku yang akan handle toko”
“................”
“...............”
“Emmmhhh ... ya mungkin aja itu pacarnya Cindy”
“...............”
“Oh, ya udah gak apa-apa Yan, salam buat Cindy ya, besok aku usahakan mampir kesana”
“..............”
“Iya, sama-sama Wa’alaikumsalam Yan”
Truth ... telpon ditutup
Yasmin kembali meletakkan ponselnya di meja.
“Zain?? Kenapa wajahmu pucat?? Kamu sakit??” Yasmin mengerutkan dahinya, menyadari perubahan wajah pada suaminya.
“Eeeemmmhh ... tidak Kakak” Zain menggeleng.
“Oh, ya udah, ayo lanjutin lagi makannya” Yasmin menyodorkan beberapa lauk ke piring Zain.
“Kakak???”
“Iya??”
“Gak apa-apa” Zain menggeleng.
“Ada apa Zain??”
“Tadi yang nelpon si Om ya??” tanya Zain memberanikan diri.
“Iya, itu tadi Riyan ngasih tau, Cindy di operasi usus buntu, tapi katanya untung di tolong temannya, yang namanya mister ‘Z’” jelas Yasmin.
“Ooohhh gituh” Zain manggut-manggut, menyembunyikan rasa takutnya.
“Kakak??” Zain kembali menatap wajah istrinya ragu.
“Iya” pandangan Yasmin masih tetap terpaku pada piring di hadapannya.
“Emmhh ... sampai hari ini apa masih belum ada tanda-tanda apapun??” tanya Zain.
“Tanda-tanda apa??” Yasmin menatap suaminya, sudah tau maksud pertanyaan suaminya, tapi sengaja bertanya lagi.
“Kakak masih belum ada tanda-tanda tidak datang bulan??” tanya Zain ragu.
“Belum” jawab istrinya tegas, seolah tak terima dengan pertanyaan suaminya.
“Haduh” Zain menepuk jidatnya.
“Kenapa??” tanya Yasmin lagi.
“Apa kita harus segera memberitahukan Mamah dan Papah tentang kebohongan kita??” Zain menghentikan makannya, wajah cemasnya semakin ketara.
“Aku fikir juga seperti itu Zain, lambat laun semua kebohongan kita akan terungkap, kamu tau?? Tadi Mamahmu mengirimiku banyak mangga muda, aku semakin merasa bersalah Zain” Yasmin tertunduk lesu.
“Hah ... aku takut Kakak, takut jika kita dipisahkan kembali” Zain memegang tangan istrinya erat, terasa tangannya begitu dingin.
“Aku lebih dari itu Zain” Yasmin membalas pegangan tangan suaminya, menggenggamnya erat, seolah minta kekuatan.
“Kakak, kita pasti bisa melewati semua ini, hum?? Jangan takut, aku bersama Kakak” Zain tersenyum manis pada sang istri.
“Hmht, aku tau Zain, kita sama-sama melewati semua ini yaaa”
“Tentu Kakak”
“Nanti, akan kita katakan semuanya pada Mamah dan Papah setelah mereka pulang dari rumah tante Meta ya” Yasmin tersenyum kecut.
“Hmht, iya Kakak” Zain mengangguk sambil tersenyum, kali ini senyumannya tidak seimut biasanya. Kali ini senyumannya bercampur aduk dengan rasa takut dan cemas.
Bersambung ........................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, .................