
Akhirnya hari ini tiba, hari ini adalah hari pertandingan sepak bola Zain, sejujurnya aku sungguh tidak menyukai permainan ini, tapi demi suami bocahku, aku rela datang ketempat ini.
Eit, hari ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun Zain, aku akan memberikan kejutan untuk Zain, sebelumnya aku sudah menghubungi Mamer, dan Pamer, agar bisa mendatangi acara Zain, sebenarnya mereka sempat menolak, tapi berkat bujuk rayu menantu kesayangannya ini, akhirnya mereka mau menurutiku, ck emang menantu idaman aku ini.
Dari subuh, aku sudah sibuk membuatkan kue tart untuk Zain, sebagai kejutan lainnya, aku juga menyiapkan sebuah kado cantik, dari istri cantiknya.
Aku menyimpan kue tart di dalam lemari makanan, agar tidak ketahuan oleh Zain,
Selesai sarapan, Zain segera berangkat kesekolahnya, dengan menenteng tas besar.
“Kakak, Kakak beneran tidak akan datang ke perlombaanku???” Zain memasang wajah memelasnya.
“Hmht, aku sibuk Zain, aku gak bisa, maaf yaaa“ Aku menunduk, tak bisa menyembunyikan kebohongan dari Zain.
“Sekaliii iniii aja Kak, Kakak nonton pertandinganku“ Zain memohon.
“Gak bisa Zain, aku sibuk" lagi aku menyembunyikan senyumku.
“Ya udah, aku berangkat dulu ya kak,“ wajah Zain menjadi lesu.
“Hmht,“ Aku berdehem.
“Sini salim dulu“ Zain menjulurkan tangannya.
“Hmhht“ lagi aku berdehem, menyembunyikan senyumku.
“Kakak, doain Zain biar menang ya" ucap zain sambil mencium tanganku.
“Iya, aku doain kok“ jawabku, menatapnya dengan perasaan bersalah, kasihan juga anak orang, di bohongin.
Zain berangkat, dengan tubuh hampa, aku mengiringi kepergiannya dengan senyuman, si bocah lucu juga kalau lagi kecewa.
Tak lama, aku segera bersiap-siap, kemudian menelpon Mamer dan Pamer, untuk segera berangkat, tak lupa kue tart aku bungkus dengan rapi, tak lupa juga lilin-lilin kecil, angka delapan belas, yah sekarang Zain genap berusia delapan belas tahun, bocahku kini sudah beranjak dewasa.
Tiba di tempat pertandingan Zain, suasananya sudah gegap gempita, stadion kecil ini, sudah di penuhi oleh ratusan anak SMA, hingga aku merasa sesak, dan terpaksa harus menerobos penonton yang lain, untuk mendapatkan tempat duduk.
“Yas, Zain mana ya??” bisik Mamer, sambil celingukan nyariin anaknya.
“Oooohhh iya, itu Zain kami, Papah lihat anak kita keren banget ya“ Mamah berteriak histeris, sambil menoel tangan Pamer, dih romantisnya mereka, he.
“Mana bisa orang menendang bola, di bilang keren“ Papah memutar kedua bola matanya.
“Iiiihhhh Papah,“ Mamer mengerucutkan bibirnya.
“Oh iya Yas, kamu duduknya sini ditengah aja“ Mamah menuntunku untuk duduk di tengah, di antara Pamer dan Mamer.
Waktu terus berjalan, saatnya para chiliders menunjukkan kemampuannya, untuk memberikan semangat pada para pemain.
“Give me Z“
“Give me A“
“Give me I“
“Give me N“
“Give me Zaiiiiinnnnn!!?“ teriakan dari para gadis SMA ini terus membahana, membuat mataku panas melihatnya, melihat mereka dengan rok di atas paha, kemudian ngedance di pinggir lapangan.
Aku menarik napas, entah kapan acara ini di mulai, rasanya sungguh begitu lama.
Tak lama kemudian, tibalah saatnya acara yang di tunggu-tunggu tiba, pertandingan antara group Zain dan group saingannya.
Mamer berdiri, sambil bertepuk tangan, kala melihat putranya menapakkan kakinya di lapangan,
“Zain, Zain, Zain!!!!” suara teriakan yang kebanyakan dari para gadis, membuat telingaku panas,
“Cih ternyata Zain, sepopuler itu disekolahnya“ hatiku berdecih, entahlah, tapi rasanya aku tidak suka.
Bersambung...........
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gengs.........