
Hari ini hari minggu, aku memutuskan untuk libur dari segala pekerjaan di luar. Aku putuskan untuk istirahat dirumah. Bersih - bersih rumah seperti biasa, apalagi sekarang pekerjaan rumah makin bertambah, semenjak kehadiran sang suami bocah.
Sementara Zain, yang katanya mau bantuin istrinya bebenah rumah, sudah stand by dari selesai shalat subuh.
“Kakak, aku bantuin jemurin pakaian ya ...!!!” teriaknya dari arah belakang rumah.
“Iyaaaa ...!!!” Aku pun berteriak, karena tak ingin menunda pekerjaanku.
Kemudian aku asyik lagi dengan segala pekerjaanku, selesai menyiram tanaman, aku beranjak masuk kedalam rumah, eh, tapi kok Zain belum kelihatan juga ya, apa iya jemurin pakaian sebegitu lamanya??.
“Zain??” Aku memanggilnya, senyap tidak ada jawaban.
“Zain??” lagi, dengan nada suara yang sama aku memanggilnya, namun masih hening.
“Zaiiiiiinnnnn!!!!!” akhirnya dengan nada seriosa aku berteriak memanggilnya.
“I iya Kakak,“ nah, yang di panggil muncul juga, dengan napas ngos - ngosan, rupanya aku harus mengeluarkan suara andalanku dulu, baru dia mau nyahut.
“Kamu kemana?? Udah jemur pakaiannya??” tanyaku menatap wajahnya yang sudah kemerahan, karena trik matahari.
“Ehhheeee ...” hanya itu jawabannya, mencurigakan.
“Kenapa??” tanyaku menyelidik.
“Kakak, aku tidak tega menjemur pakaian Kakak,“ jawabnya malu-malu sambil cengengesan.
“Kenapa tidak tega??” Aku kaget dong, pasti ada sesuatu.
“Ehheeee ...” lagi, dia cengengesan, kali ini sambil garuk-garuk pula.
“Sini,“ Dia memegang tanganku dan menuntunku menuju tempat menjemur pakaian.
“Astagfirullah ...” Aku menutup mulutku, tahu apa yang dia lakukan?.
“Zain, kenapa kamu menjemur itu begituuuu???” Ish, aku tak bisa mengatakannya, saat kulihat semua pakaian dalamku di jemur dengan cara terlentang tak karuan di atas jemuran besi.
“Ehhheeee ... aku malu Kakak“ jawabnya tanpa dosa.
“Ish ... kenapa? Apa kamu tidak mau tahu juga isinya kayak apa??” tantangku sambil memunguti satu persatu pakaian dalamku, dan menjemurnya dengan normal.
“Ih, Kakak,“ jawabnya malu-malu, sambil gemetaran, bergelayut manja diujung pintu.
“Ck, awas minggir, aku mau masak aja, bantuin aku masak“ ajakku sambil nyelonong melangkahkan kaki ke arah dapur.
“Iya Kakak,“ jawabnya sambil mengikutiku.
“Nih, kamu bantuin aku kupasin bawang“ perintahku sambil memberikan bawang dan pisaunya.
“Iya Kakak,“ jawabnya, ah dia semakin terlihat imut, jika jadi penurut.
“Di potong tipis-tipis yaaa“ lagi, aku memerintah.
“Iya,“ kali ini jawabannya singkat, tapi aku tidak peduli, dan tetap fokus mengaduk sayur sop yang sedang aku masak.
“Zain, gimana sekolah kamu sekarang?? Aman 'kan??” tanyaku, sekedar memecah keheningan.
“Iya,“ lagi, jawabannya singkat banget, tapi kali ini terdengar suara sengaunya khas orang menangis.
“Zain, kamu sakit??” tanyaku lagi sambil menghentikan kegiatanku mengaduk sop.
“Enggak“ jawabannya bikin tangan gatel pengen noyor kepala nih anak.
“Eh, udah jangan sedih, jangan sedih cup cup“ refleks aku mengusap kepalanya, tapi air mata Zain malah tambah mengalir.
“Aku gak apa-apa“ jawabnya lebay.
“Kamu kenapa nangis sih?? Lagi punya masalah?? Masa iya cowok kok cengeng sih??” tanyaku sambil garuk-garuk, ish ... kebiasaannya Zain ini mah, garuk-garuk.
“Kakak, aku gak lagi sedih“ jawabnya sambil mengelap ingus yang menjalar dengan punggung tangannya, “Mataku perih karena disuruh ngupasin bawang“ hhhyyyyaaaaa ... kirain kenapa?? Ni bocah bukannya bilang dari tadi kek.
“Aduuuhhh ... ya maaf, akukan gak tahu,“ Aku tersenyum, lalu mengambil alih pekerjaannya.
“Ya udah, kamu aduk-aduk aja sopnya ya“ perintahku lagi, yang langsung dianggukinya.
Di tengah keasyikan kami yang tengah memasak, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu depan bersama ucapan salam.
“Siapa Kak??” Zain menatapku.
“Gak tahu, bukain pintunya Zain“ lagi aku memerintah, ck kebiasaan, punya suami bocah, bisa disuruh-suruh, dosa ini mah.
“Iya Kak,“ lah, yang disuruh nurut aja lagi ck.
“Siapa Zain??!!!” Aku mendongakkan kepala, sambil berteriak.
“Mamah Yas“ tiba-tiba muncul sosok perempuan cantik, dengan dandanan modis, ya siapa lagi?? Mamah mertua.
“Aduuhh, Mamah kesini kok gak bilang-bilang??” tanyaku sambil membenahi jilbab, tak lupa menatap Zain, dengan penuh kecurigaan, jangan-jangan Zain lagi, yang nyuruh emaknya buat datang kesini.
“Iya Yas, Mamah kebetulan lewat aja, tadi baru pulang dari arisan“ jawab Mamah mertua dengan lembutnya, sambil mengusap kepala anaknya. Cih, aku jadi iri sama Zain, sementara Mamah dan Papahku hanya sibuk dengan urusannya sendiri diluar negri, bahkan aku sudah menikahpun belum diketahuinya. Hhhuuuhhh.....
“Kalau gitu kita sekalian makan aja ya Mah, kebetulan kami lagi masak“ tawarku pada Mamer.
“Iya, boleh deh, Mamah juga mau nyobain masakan kamu“ tidak di sangka, Mamah mertua begitu antusias, membuat aku jadi malu-malu kucing, untuk menyajikan makanan alakadarnya, yang di masak penuh cinta bersama suami bocah, eeeaaaaa.
“Oh, iya gimana dengan rumah tangga kalian?” tiba-tiba Mamah bertanya di tengah acara makan kami.
“Ba baik mah“ jawabku ragu.
“Yas, terimakasih ya, sudah mau menerima Zain kami dengan baik, sudah mau bersabar dengan segala tingkahnya“ Mamah mertua menatapku lekat.
“Iya Mamah sama-sama, lagipula meskipun usia Yas lebih tua dari Zain, tapi kita sama- sama belajar saja, Yas juga mungkin belum bisa jadi istri yang sempurna“ Aku merendah di hadapan mertua, gak bermaksud cari muka biar tambah di sayang ya ... he.
“Iya, Mamah tahu, Zain pasti sudah sangat merepotkanmu, maafkan Zain ya Yas, Zain belum bisa jadi suami yang baik“ lagi Mamer berkata, yang membuat aku jadi tidak enak hati, jika mau berbuat seenak udel lagi pada Zain.
“Tidak apa-apa Mamah“ Aku tersenyum menatap Mamer, sementara si bocah?? Dia sedang asyik bergelayut manja di lengan sang Emak, sambil menikmati makanannya.
“Oh iya kalian habis ini gak ada kegiatan apa- apa lagi kan?” tanya Mamer tiba-tiba.
“Gak ada Mah“ jawaban kami kompak, ciieeeee.
“Ya udah, gimana kalau kalian temenin Mamah jalan-jalan aja?“ ajak Mamah, yang membuat kami jadi saling pandang.
“Emh, tapi entar ngerepotin Mamah gak??” tanyaku malu-malu, padahal mah mau banget, siapa tahu aku di ajak shopping, terus di bayarin? Kan lumayan hhe.
“Enggak, ya udah kalian siap-siap aja ya, Mamah tungguin“ Mamah tersenyum kearah kami, kemudian kami bergegas, menuju kamar masing-masing. Bersiap-siap mau shopping sama Mamah mertua.
cciihhuuyyyy ... Ada yang mau ikut?? Ayo siap-siap. Hhhee hhee.
Bersambung.....
Readers kesayangannya author, kalian jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa, sebagai tanda dukungan kalian buat author, makasih.