
Beberapa bulan terakhir setelah kedatangan Tina dan suaminya, yang kini menjadi tetanggaku, sekarang aku memiliki kegiatan lain, selain dari pada menunaikan tugasku sebagai seorang ibu rumah tangga.
Yakni saling mengunjungi, saling berbagi makanan, dan saling bercerita tentang rumah tangga kami masing-masing, kadang kami juga sering menggosipkan sesuatu yang sama sekali tidak penting.
Kalau ada yang nanya kok bisa aku memiliki waktu luang sebanyak itu?? Jawabannya karena sekarang aku adalah bumil yang gak ada kerjaan. Yups ... suami imutku sekarang melarangku untuk pergi ke toko kue, melarangku untuk berjalan-jalan sendirian, melarangku untuk pergi kepasar, dan segala jenis larangan lainnya mengenai hidupku, untung saja, dia tidak melarangku untuk mandi juga. Ish ...
Tapi, meskipun Zain melarangku untuk pergi ke toko kue, tapi aku tetap berjualan kok, yakni aku memanfaatkan technologi internet untuk berjualan. Yes, aku berjualan online dari rumah, selain hal itu mudah di lakukan, berjualan online juga tidak terlalu menyita waktu, karena yang bekerja di lapangannya tentu saja Sarah dan teman-temannya. Aku hanya memantau saja. Sama seperti sebelumnya, aku adalah perempuan yang aktif. Rasanya aku bisa mati kutu jika tidak memiliki kegiatan sama sekali. Aku benci ketika hanya di suruh diam saja dirumah.
Siang ini, Zain sedang bekerja, jadi dia tidak ada di rumah, begitupun dengan suami Tina, Mas Agus juga sedang bekerja. Jadi kami hanya sendiri dirumah masing masing.
“Kak!!” seru Tina dari luar pagar. Kebiasaan Zain kalau udah keluar rumah dia selalu memasang gembok dari luar, mungkin takut jika aku kabur kali ya, ya kali aku 'kan manusia hidup, ya aku bisa membukanya kembali.
“Apa??” jawabku dari teras rumah.
“Suami Kakak udah berangkat kerja?? Buka dong pagarnya!!” seru Tina.
“Ah, iya, tunggu sebentar!” teriakku, berlari kedalam rumah, mengambil kunci gembok, lalu membukanya.
“Kenapa Tina??” tanyaku.
“Kak, punya lotion gak?” tanyanya tiba-tiba.
“Lotion?? Kalau gak salah ada, kenapa??” tanyaku lagi.
“Kok kalau gak salah sih Kak? Emang Kakak gak suka pakai lotion??” tanyanya heran.
“Jarang sih” jawabku acuh, sambil berjalan menuju rumah, di ikuti Tina dari belakang.
“Kakak juga jarang pake cream??” tanyanya lagi.
“Aku gak suka dandan Tina, aku suka berpenampilan seadanya aja, aku dandan kalau mau pergi ke acara tertentu aja” jawabku jujur.
“Emang Kak Zain gak suka protes gituh?? Apalagi sekarang Kakak gendutan lho” ucap Tina polos.
Deg!! Kenapa aku gak suka ya?? Waktu Tina bilang aku gendut??.
“Zain gak pernah protes Tina, lagian aku gendut itu karena aku lagi hamil, dulu aku pernah langsing juga kok” jawabku tak terima.
“Oh, gitu ya Kak, kalau Mas Agus malah suka protes melulu tuh, kalau aku gak dandan, di bilangnya baulah, apeklah, asemlah” Tina menunduk.
“Zainku gak pernah seperti itu tuh, dia menerimaku apa adanya” jawabku bangga.
“Atau mungkin, Kak Zain kayak gitu, karena gak berani bilangnya kali yah??” tanya Tina tiba-tiba.
“Gak ah, Zainku itu orang yang lugu dan apa adanya,” jawabku masih kukuh mempertahankan pendapatku tentang suamiku.
“Emang ada pria sepolos itu Kak?? Di kantor Kak Zain pasti ceweknya cantik-cantik” Tina menerawang, entah apa yang sedang dia bayangkan.
‘Ah, masa sih Zain kayak gituh?? Aku tahu persis siapa suamiku’
“Zain bilang yang cantik banyak, tapi yang lebih cantik ya cuman aku” Aku terkekeh, kala mengingat setiap ucapan suamiku.
“Kak Zain orangnya romantis juga ya Kak??” tanya Tina lagi, menatapku dengan tatapan iri.
Sengaja ah, aku panas-panasin aja si Tina. Entahlah, ini anak rasanya kok polos, ngeselin, tapi kadang aku suka kasian juga kalau denger cerita rumah tangganya yang suka di jajah oleh suaminya, mungkin karena suami Tina usianya jauh lebih tua dari Tina kali ya?? Tapi, bukankah suami yang lebih Tua itu suka ngemong, manjain, dan lebih perhatian ya?? Entahlah, jawabannya hanya ada di pasutri itu.
Beda dengan rumah tanggaku dong, malah aku yang lebih sering menjajah suamiku, he ... ini keuntungan selanjutnya, karena aku punya suami brondong. Hheee ... eiiittt ... tapi jangan pada salah faham yah ... Jajah disini bukan berarti aku bisa seenaknya nyuruh-nyuruh, atau melakukan hal seenak udel sama suami lho ya. Apalagi nyuruh perang, dan nyuruh angkatin jemuran tetangga. Gak sama sekali bukan hal-hal seperti itu. Semuanya masih
dalam tahapan yang wajar dan manusiawi kok.
“O ya?? Romantisnya Kak Zain kayak apa Kak??” tanya Tina lagi.
“Dia suka manjain aku, suka gombalin aku juga” kataku sambil menahan senyum, tidak kuat melihat ekspresi kepo Tina.
“O ya?? Gombalnya kayak apa??” tanyanya lagi semakin mendekatkan posisi duduknya.
“Ya gitu aja” jawabku.
“Suka ngasih pantun gitu ya Kak??” tanyanya lagi.
‘Whhaaattt?? Zain mana pernah bikin pantun??’
“Eemmhhh ... “ suaraku terjeda.
“Oh, bikin puisi mungkin ya Kak??” tanyanya lagi.
“Puisi??” Aku menggaruk tengkukku, bingung mau jawab apa??.
Romantis itukan berbeda versi, kalau menurutku Romantis itu kalau Zain nurut, gak macem-macem, gak banyak nuntut, dan selalu melakukan apapun yang aku mau. Heee.
“Atau suka nyanyiin Kakak sebelum bobo??” tanyanya lagi.
Nyanyiin lagu??? No! Bukan nyanyiin yang ada Zain kalau tidur suka ngorok plus ileran ish ...
“Atau suka masakin Kakak??” tanya Tina lagi, semakin semangat menghujaniku dengan pertanyaannya.
‘Masakin?? Tau sendirikan?? Kalau Zain masuk dapur?? Maka segala kekacauan akan terjadi dirumah ini. Tapi, di akui Zain memang sudah sering memasakkan untukku, terutama jika aku sedang sakit, atau kalau aku sedang ingin dia yang memasak, yah ... meskipun rasanya, ya begitulah ...
“Kak??” Tina mengguncangkan pahaku.
“Apa??” tanyaku.
“Kita kesalon aja yuk” ajak Tina tiba-tiba.
“Gak ah, Zain gak akan izinin aku” jawabku.
“Loh?? Kenapa?? Kesalonkan untuk mempercantik diri, buat suami juga kan??” Tina mengerutkan keningnya.
“Tapi, keluar rumah tanpa izin suami itu dosa Tina” jawabku, setengah menasihati Tina.
“Iya sih” Dia mengangguk.
“Terus, kita ngapain dong Kak?? Aku udah bosen banget ini” Tina merajuk.
“Ah, gimana kalau kita belajar masak aja??” usulku.
“Mau Kak, kita belajar masak sop yah” tawarnya.
“Oke, nanti hasilnya kita bagi dua yah, buat Mas Agus dan buat Zain juga”
Dengan semangat kami menuju dapur, mulai mengeluarkan bahan makanan yang akan kami masak. Tina mengupas sayuran, dan aku meracik bumbu. Rasanya senang sekali, bisa ada teman seceriwis Tina, yang bisa di ajak ngapa-ngapain. Tina anak yang penurut lho, mauuu aja kalau di ajak-ajak. Mungkin karena Tina masih sangat muda kali yah.
Bersambung ....................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, komentar, bintang lima dan vote sebanyak banyaknya. Author tunggu yaaaa ....
Baca juga SUATU HARI NANTI nya yaaaa ......................