
Setelah satu jam berlama lama di kamar mandi, aku meraih kimono yang menggantung di gantungan besi, di sisi tembok, dengan wajah sumringah, aku bersenandung pelan, ku ciumi tubuhku, ah ... wanginya, aroma lavender yang bersal dari sabun yang kugunakan, sungguh membuat siapapun yang menciumnya akan merasa segar.
Ku raih handle pintu ...
kkrriiieettt ...
Aku mengintip ranjang dari balik pintu, kulihat Zain sedang duduk bersila di atas kasur, sambil senyum-senyum sendiri.
“Ck, Zain kenapa senyam-senyum sendiri ya??ahaaa ... mungkin fikiranku sama dengan fikirannya, hhii“ Aku terkikik geli.
Perlahan aku membuka pintu, lalu keluar dari kamar mandi,
Deg, deg, deg...
Ya ampuunn ... aku grogi setengah mati,
Zain, terus memperhatikan tingkahku yang mungkin terlihat sangat konyol, dimatanya.
Aku tidak berani menatap mata Zain, aku berjalan mendekati Zain yang tengah duduk, sambil terus memandangku, dengan mengulum bibirnya.
“Ck, ampun deh, kenapa dia mengulum bibir segala sih?? apa dia sedang menggodaku??aiisshh ...Yas sadar!!! kamu perempuan, harus jaga image,“ berkali aku mengerjapkan mataku, sambil menggelengkan kepalaku.
‘Ah, iya, kok kamar masih tetap seperti tadi ya?? masih seperti ketika aku masuk kedalamnya, tetap bersih, tidak ada taburan bunga, atau selimut yang di bentuk jadi angsa yang lagi berciuman sih?? Ah ya sudahlah, itu gak penting, Zain mana mengerti urusan begituan.’ Hatiku bermonolog
Zain tetap tersenyum memandangku, “Sebentar, sepertinya ada yang aneh dengan tatapan Zain,“ Aku mengerutkan dahi, mencoba menerka apa yang akan terjadi. Apa dia mau memberiku kejutan lain ya??.
“Zain?? kamu kenapa tersenyum??” tanyaku dengan nada curiga.
“Hhhiii ... yo yo yo so seksi, seksi“ Zain mengibarkan lingerie yang berwarna hitam dari dalam selimut.
“Hah???? Zaiiiiinnnnnn!!!! Hiiaatttt!!!”
Buk bak buk bak buk ,
aku memukul Zain dengan bantal guling
“Kakkaaaakkkkk setooopppp!!!!”
Buk bak buk bak
“Stooopppp!!! ampuuuuunnnnn!!!! “
Buk bak buk bak
“Hidungku berdaraaahhhh!!! stooooppp!!!!”
“Aaaaaaa maaf, maaf, Zain maafkan aku"
“Kakak tega!!! “ Zain memalingkan wajahnya, sambil menyeka darah yang keluar dari hidungnya.
“Ya maafkan aku, mana yang sakit???” tanyaku akhirnya, sedikit ngeri, ada sedikit darah yang keluar dari hidung Zain.
“Semuaa!!!” Zain merajuk sambil berteriak.
“Maaf Zain, maafin aku yah, aku kaget, lagian kamu kenapa mengibarkan bendera hitam itu sih??” Aku menunjuk lingerie yang menumpuk tak berdosa di samping Zain.
“Lagian, Kakak kenapa nyimpennya di sini?” Zain menunjuk selimut, yang tadi sempat menutupi benda keramatku.
“Ya maaf aku yang salah, aku lupa“ Aku merasa sangat bersalah, karena sudah menganiaya Zain.
“Aku marah!!!” Dia melipat tangan di dada sambil mengerucutkan bibirnya.
“Ah, baiklah kamu mau apa?? Biar kamu gak marah lagi" tanyaku cemas.
“Aha!!!” Zain menjetrekkan tangannya.
“Apa?? “ tanyaku mulai was-was.
“Kita makan malam“ Zain tersenyum riang.
“Hah, hanya makan malam?? kirain ... “ Aku mendengus menuju lemari, kemudian mengambil baju, lalu memakainya.
“Ayo kak aku udah leper banget ini!“ Zain berteriak.
“Iya, ayo“ Aku berjalan ke arah pintu di ikuti Zain.
Kami berjalan menuju loby hotel, sepanjang perjalanan, segala fikiran tentang makan malam indah, dan romantic bergelayutan di fikiranku.
‘ah ... mungkin sekarang akan terjadi makan malam yang sangat romantis, ya ampuunn aku harus bagaimana?’ hatiku meronta.
Aku terus mengikuti langkah kaki Zain, sambil melamun membayangkan segala keindahan yang akan terjadi, tanpa kusadari sudah berapa jauh aku berjalan, tiba-tiba ....
“Bang soto dua ya!!!” terdengar suara Zain menyadarkanku dari lamunanku.
“Hah? Soto??, kita lagi di tukang soto di pinggir jalan?” aku celingukan, Seketika bayanganku tentang makan malam romantiisss ambyar.
Bersambung ...............
Hayoooo....udah pada gak sabar ya nungguin mereka bubu bareng...hhee, sabar yaaa....besok kita ketemu lagi sama Kak yas, dan Dede Zain, sekarang author mau berjemur dulu, salah satu upaya untuk menghindari virus corona, hheee...by readers....