TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Chat Dari Cindy


Bagiku, kehidupan rumah tangga itu seperti air, tak selamanya air mengalir dengan tenang dan damai, pasti ada pasang ada surutnya juga. Kadang juga aku merasa rumah tanggaku itu seperti orang berjualan, yang kadang laku kadang juga tidak. Tapi aku amat menikmati semua proses perjalanan rumah tanggaku. Banyak hal terjadi, tapi aku bisa melewatinya.


“Selamat pagi Sar” sapaku pada Sarah yang tengah mengelap meja pengunjung.


“Pagi Kak” Sarah tersenyum padaku,


“Riyan udah dateng Sar??” tanyaku lagi, menghentikan langkahku, lalu menoleh pada Sarah.


“Udah Kak, lagi didapur” jawabnya, akau mengangguk, lalu melangkahkan kaki menuju dapur, tempat Riyan berada.


“Pagi Yan” sapaku pada Riyan yang tengah mengoven kue.


“Pagi, yang lagi bahagia” Riyan menoleh lalu tersenyum.


“Lagi nyoba resep baru??” tanyaku, duduk di kursi di hadapan Riyan.


“Iya, mau coba??” tanyanya, menyodorkan sepotong kue dengan lumuran coklat, terlihat enak jika aku memakannya sekarang.


“Enak kayaknya” Aku menggumam.


“Ugh, huuueeeekkkk ...” tiba-tiba rasa mual menyerangku, kala aku mencium aroma coklat bercampur susu, rasanya begitu enek.


“Yas, kamu gak apa-apa??” tanya Riyan cemas.


“Ugh, bau banget, kue apaan itu??” Aku menutup hidungku lalu berlari menuju wastafel, mencoba memuntahkan semua isi perutku, tapi yang keluar hanya cairan bening. Seketika rasa pusing menguasai diriku.


“Lah?? Inikan cuman kue biasa Yas, kamu juga sering makan kue sejenis ini” Riyan mengacungkan kue yang dari tadi aku hindari.


“Jangan deket-deket!!!” Aku menepiskan kue di hadapanku yang tengah di pegang Riyan, hingga kuenya terjatuh.


“Loh?? Kenapa kamu Yas?? Sakit??” Riyan mendekatiku, mencoba meraih dahiku.


“Emh, kamu juga bau, kamu gak mandi ya??” Aku mendelik, menepis tangan Riyan, lalu memundurkan langkah menjauhinya.


“Ish, dasar kamu, aku wangi gini di bilang bau, kamu inget gak?? Dulu waktu kita masih remaja, kamu suka banget sama bau aku” Riyan mendelik, tidak suka dengan tuduhanku.


“Awas minggir” Aku mendorong tubuh Riyan, kemudian berlalu menuju meja kerjaku.


“Sarah, aku minta minyak angin ya, kayaknya aku masuk angin ini” Pintaku pada Sarah, yang kebetulan lewat di hadapanku.


“Iya Kak, nih” Sarah langsung menyodorkan minyak angin padaku.


“Makasih” Sarah mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya. Sementara aku, segera duduk di kursi, lalu menyenderkan kepalaku di bahu kursi, rasanya perut dan kepalaku sangat tidak enak. Aku mencoba mengurut keningku, tapi rasa pening di kepalaku masih tidak mereda. Ah kenapa aku?? Mendadak sakit begini??.


Di Kantor Zain ...


“Zainku tolong ambilin file itu ya” Bu Ida menunjukkan setumpuk file yang ada di pojokan.


“Baik bu” Aku mengangguk, lalu memenuhi keinginan Bu Ida.


Bekerja disini rasanya sangat nyaman sekali, dulu aku selalu berfikir, bekerja sama dengan orang-orang yang lebih dewasa itu pasti menyebalkan. Orang dewasa cenderung ingin menguasai dan cerewet. Tapi, ternyata tidak semua orang dewasa seperti itu. Buktinya Kak Yas, Kak Yas istri yang baik, dia selalu mengalah padaku. Buktinya lagi teman teman di kantor tempat aku bekerja. Selama aku mengikuti perintah mereka, mereka sangat baik, dan sangat menyayangiku, sebagai orang yang lebih muda dari mereka.


“Zain foto copy ini dong” Pak Ruben tersenyum padaku.


“Baik Pak” Aku mengangguk, lalu meraih kertas yang harus di foto copy.


“Uuuhhh ... Zain kita penurut sekali, nanti kalau ada promosi untuk karyawan tetap, kamu akan kami ajukan” Pak Ruben tersenyum padaku.


“Terimakasih Pak” Aku membalas senyuman semua orang.


“Zain, nanti mau makan siang dimana??” tanya Rina.


“U la la, Zain kita sekarang tidak akan makan siang bareng kita lagi” Rina tersenyum, meledekku.


“Iya dong, aku kan di bekelin sama Kak Yas, istriku” jawabku sambil tersenyum, rasanya aku sangat senang, bisa membanggakan Kak Yas di hadapan teman-temanku.


“Ah, Zain tiba-tiba saja, aku juga ingin punya istri, agar aku juga di bekelin makanan sama istriku” Pak Ruben mendongakkan kepalanya, menatap langit langit, entah apa yang sedang diterawangnya.


“Makanya cepetan nikah dong Pak, nikah itu enak lho” sengaja aku manas-manasin Pak Ruben, hee.


“O ya?? Enaknya nikah itu apa aja Zain??” Pak Ruben mendekatiku dengan memajukan kursi goyangnya.


“Kalau mau makan, ada yang masakin, kalau mau ganti baju ada yang nyiapin, terus, kalau mau bobo ada yang nemenin” jawabku, sambil mesem-mesem.


“Ugh, menggiurkan, kalau begitu, Rina mari kita segera menikah” Pak Ruben memajukan kursinya, hingga mendekati kursi Rina.


“Cciiiiieeeeee ... “ seketika ruangan penuh oleh segala ‘Cie cie’ dari kami semua. Ck ! dasar.


Tring .... tring ... tring ....


Terdengar, sura ponselku berbunyi, aku meraihnya, terlihat sebuah notifikasi chat masuk.


Aku membuka layar ponselku, ternyata Cindy yang menghubungiku.


Cindy


“Zain, terimakasih banyak untuk pertolonganmu tempo hari”


Me


“Sama sama” jawabku singkat.


Tak lama pesan baru balasan dari Cindy kembali terlihat di layar ponselku.


Cindy


“Zain, kamu dimana?? Bisa kita bertemu? Kita makan siang bareng yah, anggap aja sebagai ucapan terimakasih dari aku”


Me


“Aku nolong kamu ikhlas, jadi gak perlu mengucapkan terimakasih dengan cara seperti itu”


Pesan kembali terkirim


Cindy


“Yah, ayo dong Zain, cuman sebentar kok” Cindy merajuk, lewat chatnya. Menyebalkan.


Me


“Maaf, aku gak bisa, aku mau makan siang dengan bekal dari istriku”


Pesan terkirim, centang dua dengan warna biru, pertanda pesan sudah dibaca. Lama tidak ada balasan mungkin Cindy kecewa dengan balasanku. Tapi, biarlah, aku tidak ingin mengecewakan Kak Yas. Kak Yas pasti tidak akan suka jika tau, aku malah makan siang dengan perempuan lain. Iya kan????


Bersambung ...............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, tinggalkan like, komen, bintang lima dan vote juga.


Follow juga IG author yaaa ( Teteh_neng2020)


Terimakasiiihhhh ....................