
“Zain??” Aku menatap pria yang sedang lahap makan soto ayam di sampingku.
“Iya??” Zain tidak membalas tatapanku, dia terus fokus pada makanannya, dengan hidung di cocoki kapas.
“Kamu, pernah berfikir mau punya anak ga?” tanyaku tiba-tiba, sudah jengkel dengan tingkahnya, yang tidak mau mengerti dengan segala kode yang kuberikan.
“Eeeemmm ...” terlihat Zain sedang berfikir.
“Mau, mau punya sebelas“ jawabnya enteng.
“Ck, kamu mau bikin kesebelasan Zain??” tanyaku sambil memutar kedua bola mataku.
“Iya, hhhee“ Dia terkekeh.
Aku udah ngasih kode lagi nih sama Zain, sebagai perempuan dewasa, mandiri, dan kekinian, ini sungguh membuat harkat martabatku runtuh sebagai wanita, aku memberikan kode untuk nganu, hish.
Lagian kenapa sih?? akhir-akhir ini, aku berharap banget, Zain bisa memberikan nafkah bathinnya padaku?? aku yakin aku pasti sedang di kutuk sama si Udin, dulu dia sering banget ngajakin aku begitu, sebelum menikah, tapi aku selalu menolaknya, nah, nah, nah, sekarang aku kena karmanya, jadi aku yang ngebet banget sama Zain. Tapikan Zain itu suamiku, gak salah dong yaaa.
Sepulang dari makan soto, kami memutuskan untuk jalan-jalan sebentar, kami berjalan menyusuri taman kecil di depan hotel, tempat kami menginap.
“Uuuuhhh ... aahhh ... uuhhh ... aahhh ... “ terdengar suara yang membuat bulu kudukku meremang, dari arah tanaman tongkeng hias yang menggunduk,
Aku menatap Zain, begitupun Zain, diapun ternyata sedang menatapku, aku mesem-mesem, malu, bercampur iri, hheee.
“Suara apa itu kak?” Zain gemetaran.
“Itu bukan hantu kok“ jawabku datar, sambil memegang tangannya.
Tangan Zain terasa teramat dingin, dan bergetar hebat,
“Kamu kenapa??” tanyaku menatapnya.
“Kak Yas, sebentar“ Zain memajukan langkahnya, mencoba mendekatiku, wajahnya juga, semakin mendekati wajahku, aku menelan ludah dengan susah payah, apakah Zain terpancing oleh suara-suara tadi?? Aku memejamkan mata, apa iya semuanya akan di awali dari tempat ini?.
“Ini, ada daun yang jatuh di hijab kak Yas“ Zain mengacungkan daun yang dia ambil dari atas kepalaku.
“Ish ...!!! “ Aku menghentakkan kaki lalu bergegas, merasa jengkel dengan Zain yang tak kunjung mengerti.
“Kak, tunggu!!” Zain mengejarku dari belakang.
“Kakak, kenapa ninggalin aku sih?” Zain mulai ngos-ngosan.
Aku diam, gak mungkin jugakan aku blak-blakan bilang, apa yang aku inginkan?? Zain memang menyebalkan.
“Gak apa-apa“ jawabku sambil berfikir langkah selanjutnya yang akan ku lakukan, agar Zain mengerti.
Aha! apa mungkin, aku yang harus mendahuluinya?? ya mungkin saja Zain malu-malu, dia kan masih kecil, apa aku harus mengajarinya terlebih dahulu??.
“Zain" Aku memutar tubuh, menghampiri Zain yang tengah mematung.
“Kakak!!” Suara Zain membuyarkan konsentrasiku.
“Apa!!?? “ Aku berteriak karena sudah frustasi.
“Sepertinya handphoneku hilang!!!” Zain meraba-raba saku celananya.
“Apa? emang kamu tinggalin dimana sih??” tanyaku celingukan, mencoba mencari pada jalan yang tadi kita lewati.
“Mungkin di tukang soto tadi kak“ Zain memberi ide.
“Ya udah, kita cari kesana“ Aku berjalan, mendahului Zain, menuju tempat si pedagang soto.
Hampir lima belas menit aku mencari, menggeser kursi, lalu bertanya pada orang-orang yang sedang makan, mengenai ponsel Zain yang katanya hilang.
“Coba di miscall aja Mbak“ sahut salah satu pegawainya.
“Ah, iya ya, kenapa gak kefikiran sih??” Aku meraih ponselku dari dalam tas selempang yang kugunakan.
Ku tekan tanda ‘panggil’ pada nomor Zain.
“Tttuuuttt ... ttuuuttt ... ttuuttt ... “ terdengar suara sahutan dari telpon Zain.
Ttttrrriiinnnnggg ... ttrriinnggg ... ttrriinngg ....
“Nah, itu suara ponsel kamu Zain“ Aku menajamkan pendengaranku, celingukan mencari sumber suara.
“Sebentar, kok kayaknya deket banget suaranya“
Zain hanya diam mematung,
Eh, kok celana Zain bergetar ya ??
“Hah??? Zain!!! ponsel kamu ada di dalam celana kamu ternyata!!”
Cih ....
Buk bak buk bak .....
Bersambung.................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers.........
Yang berharap kakak Yas dan dede Zainnya segera MP
dan punya momongan sabar dulu yaaa..hhee