TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Kemarahan Zain


“Kakak!!!!” tiba-tiba suara itu ...


Buuuukkkk!!!


“Zain!!!”


“Aaaawwwww ... “


Bbbbuuukkk ... bbbuuukkk ... bbuuukkk ...


“Zain!! udah, jangan di pukul lagi“ Aku berteriak histeris, kala Zain terus memukuli Udin.


“Sialan lu, dasar cowok bar bar lu!!” Udin menunjuk Zain dengan sebelah tangan memegang wajahnya.


“Lu yang gangguin istri orang melulu!!” Zain histeris sambil menyiapkan kembali pukulan untuk Udin.


“Zain udah Zain“ Aku memeluk Zain


“Kamu salah faham Zain“ Aku berusaha menjelaskan.


Zain melepaskan pelukanku, hingga aku tersungkur ketanah,


“Aduh!!” Aku meraba bokongku yang berhasil mendarat dengan sempurna di atas kerikil. Rasa ngilu menjalar.


“Yas kamu gak apa apa??” Udin meraih tanganku.


“Gak apa-apa“ jawabku terbata, sambil menggigit bibir bagian bawahku, merasakan rasa sakit di tubuhku.


“Jangan pegang!!” Zain menghempaskan tangan Udin,


“Lu kasar lu!“ Udin menunjuk wajah Zain.


“Lu yang godain istri orang terus, gak bosen lu??” Zain kembali tersulut emosinya.


“Dasar bocah ingusan!!! bar bar!!!” Udin mengumpat.


“Apa???? hiiaaattt!!!” Zain kembali melayangkan tinjunya.


“Zain!!! jangan!!“


Bbuuukkk ...


“Aawww ... “ Aku kembali tersungkur, kala pukulan Zain kini mendarat di pipiku dengan mulus.


“Yas!!” Udin langsung menahan tubuhku.


“Kakak!” Zain menutup mulutnya tak percaya, tangannya bergetar.


“Wah, parah lu“ Udin memapahku untuk masuk kedalam rumah, sementara aku hanya memejamkan mataku, merasakan rasa sakit yang menjalar di wajahku.


“Kakak, maaf aku gak sengaja“ Zain membuntutiku.


Aku duduk di soffa ruang tamu, menyandarkan kepala, masih tetap memejamkan mataku.


“Ini namanya KDRT Yas, kamu harus minta pisah dari dia!” Udin menunjuk wajah Zain.


“Haiiisshhh ... lu ngajak berantem lagi lu!!” Zain kembali memasang kuda-kuda.


“Dasar bocah lu!!”


“Udah, udah“ di antara kesadaranku aku masih mencoba melerai mereka.


“Apa maksud lu??” Zain mengedikkan wajahnya.


“Halah, bokser masih pake motif doraemon aja, masih so soan mau jadi suami“ Udin berdecih.


Zain semakin geram “Pulang lu!” Zain menggeret tubuh Udin dan menghempaskannya di luar pintu.


Bbrrraakkk!!!


Pintu di tutup dengan kasar oleh Zain, meninggalkan si Udin yang tengah menggerutu.


“Kakak ... “ Zain duduk di sampingku sambil mencoba meraba wajahku.


Aku menepisnya “Apa hatimu sudah lega setelah memukulku??” Aku membuka mataku, menatapnya dalam.


“Ti tidak Kakak, a aku tidak bermaksud memukul Kakak,“ jawabnya menunduk.


“Apa hatimu lega setelah semua yang kamu lakukan??” tanyaku lagi.


“Kakak ... “ Zain semakin menunduk.


“Apa kamu tidak bisa bertanya baik baik??” tanyaku lagi.


“Kakak!! aku cemburu! Kakak keluar malam-malam bersama pria lain, berpelukan, saling bercerita, apa itu juga baik??!!!” tiba-tiba Zain berdiri, terlihat jelas amarahnya, aku mengerjap kaget dengan sikapnya.


“Itu tidak seperti yang kamu bayangkan Zain, ini salah faham, aku tidak berpelukan dengan Udin!“ Aku berusaha menjelaskan.


“Aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat Kakak!!” Zain berkacak pinggang.


“Zain, tidak semua yang kamu lihat itu benar, Udin hanya curhat masalah rumah tangganya“ Aku tak menyerah untuk menjelaskan.


“Apa harus sampai berpelukan??” tanyanya berapi-api.


“Zain, bukan begitu ... aaawww,“ Aku memegang wajahku yang terasa kian sakit.


"Udin hanya bersandar, mungkin karena dia terlampau sedih" lanjutku.


“Aku tidak suka itu Kakak!!!” Zain masuk kedalam kamar yang dulu sempat di tempatinya, sebelum dia pindah kekamarku.


Bbrrraaakkk!!!!


Dia kembali menutup pintu dengan kasar.


Aku mengerjap, “Huh .... bocah,“ Aku meringis menahan sakit di pipi, beranjak menuju dapur, menuangkan air hangat dari termos, lalu mengompreskannya ke wajahku. Aku terduduk lesu, rasanya ingin menangis saja, kenapa Zain sungguh tidak bijak sekali??.


“ AAAAAAAAA!!” terdengar suara teriakan dari dalam kamarnya, di susul dengan suara benda-benda tak berdosa, yang sepertinya di lempar oleh Zain.


Aku mengurut dadaku, entah kenapa tapi rasanya sakit, tak kusangka keputusanku menemui mantan yang sedang patah hati, justru membuat hatiku juga jadi patah.


“Hatiku sakit Zain“ air mataku luruh, bukan hanya karena sakit akibat pukulan dari Zain, tapi juga sakit karena Zain tidak mau mendengarkan aku.


Ini sudah menjadi resiko untukku, menikah dengan pria yang jauh lebih muda, aku harus lebih banyak mengemongnya, lebih banyak mengertinya.


Aku berjalan memasuki kamarku, kurebahkan tubuhku, sambil terus mengompreskan kain lap itu di wajahku, rasanya ngilu sekali. Sengilu hatiku karena tingkah Zain malam ini.


Bersambung .................


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers .....