TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Di Terima Kerja


“Huh ...“ berkali-kali terlihat Zain mendesah, sambil menyeka keringat dingin yang menjalar di dahinya. Berjam-jam menunggu panggilan wawancara, membuat hatinya berdebar.


Setelah tiga jam menunggu,


“Muhammad Zain!!!“ terdengar suara panitia penyelenggara memanggil namanya.


“ Iya!“ dengan sigap Zain berdiri, kemudian mengikuti staff yang mengarahkan jalannya menuju ruangan wawancara.


“Siang pak, bu“ Zain memanggutkan kepalanya.


“Siang“ salah satu perempuan muda yang akan mewawancarai Zain tersenyum mesem-mesem.


“Silahkan duduk!“ seorang pria, berkumis tebal, berwajah sangar menunjuk salah satu kursi yang di sediakan.


“Baik pak“ Zain mendaratkan bokongnya di kursi yang di tunjuk.


“Siapa namamu??” tanya perempuan yang agak tua.


“Muhammad Zain“ jawab Zain.


“Ah, nama yang indah, seindah orangnya“ cela perempuan muda, sambil kice-kicep.


“Boleh saya tau? Apa visi dan misimu melamar pekerjaan di tempat ini??” pria berkumis melancarkan pertanyaannya, sambil memainkan kumisnya.


“Iya pak“ dengan semangat yang membara Zain berdiri, kemudian menyatakan visi dan misinya ketika melamar pekerjaan di perusahaan tersebut.


“Baik, akan saya pertimbangkan lamaran kamu, tunggu di luar sebentar, dua jam lagi akan saya panggil kembali“ perintah perempuan yang agak tua.


“Baik bu, pak, permisi“ Zain memundurkan langkah, kemudian kembali keluar, dan duduk di kursi tunggu.


Dua jam kemudian ....


“Muhammad Zain!” Kembali terdengar suara panggilan itu.


“Iya bu“


“Silahkan masuk kembali keruangan tadi“ perintah perempuan tinggi langsing itu.


“Baik“ Zain kembali memasuki ruangan tadi.


“Muhammad Zain, setelah meninjau visi dan misimu dalam wawancara tadi, akhirnya kami memutuskan, kami akan menerimamu untuk bekerja di perusahaan kami“ jelas si pria berkumis, yang membuat Zain langsung berdiri kegirangan, Zain melakukan selebrasi seketika.


“Apaaa?? saya di terima kerja pak??? yyyuuhhhuuuu!!!! yuuuhhhuuu!!!” Zain melompat-lompat kegirangan.


“Ekkkhheeemmm!"


Zain menghentikan selebrasinya, dan kembali terduduk “Ma maaf pak“ Zain menunduk ketika mendengar pria berkumis berdehem.


“Maaf pak, tapi saya di tempatkan di bagian apa ya?” Zain baru sadar dengan posisi kerja yang di dapatkannya.


“Ekhem, jadi begini untuk sementara waktu, Muhammad Zain kami tempatkan di bagian yang sangat mudah dulu“ jelas pak kumis, yang terdengar begitu ambigu.


“Sangat mudah gimana maksudnya pak??” Zain garuk-garuk, dia tidak mengerti.


“Untuk sementara waktu, kamu harus membantu di divisiku“ jelas perempuan muda, sambil memilin rambutnya.


“Ya sudah sekarang kamu boleh pulang dulu, besok kita bertemu kembali, kamu langsung saja datang ke divisi administrasi ya“ Pak kumis kembali menjelaskan.


‘Aaaaa ... jadi aku di tempatkan di bagian administrasi?? menyenangkan, Kak Yas pasti senang‘ Zain bermonolog dalam hatinya.


“Kalau seperti itu, saya permisi dulu pak, bu“ Zain membungkukkan tubuhnya, lalu keluar dari dalam ruangan, setelah mendapat anggukan dari team pewawancara.


Pukul tiga sore, Zain baru tiba di rumah, dengan di sambut sangat meriah oleh istrinya.


“Kakak! aku lolos Kak, aku di terima kerja“ Zain memeluk istrinya, kemudian mengangkatnya keudara, dan memutar mutarnya penuh semangat.


“Zain, aku pusing!!!” keluh istrinya, sambil memegang kepala, merasa sangat pusing karena sudah di putar-putar di udara.


“Ah, iya maaf Kakak, aku sangat bahagia Kak“ Zain mencium kening istrinya berkali-kali.


“Ya, aku tau, selamat ya Zain, oh iya kamu di terima kerja di bagian apa??” tanya Yasmin penuh semangat.


“Di bagian Administrasi Kak“ jelas Zain dengan mata berbinar.


“hah?? masa sih?? Kok bisa??” tanya Yasmin dengan mengerutkan keningnya, seolah meragukan pengakuan suaminya.


“Kakak, Kakak meragukan kemampuanku??” tanya Zain, tidak suka dengan pertanyaan istrinya.


“Ish, tidak, hanya saja kenapa begitu mudah??” tanya istrinya masih tidak percaya.


“Itu semua karena kepandaianku Kak,“ Zain menepuk dadanya.


“Hah?? Ya ya ya“ jawab Yasmin sambil garuk-garuk, tersenyum tipis.


“Kakak??“


“Hmh??”


“Apa Kakak tau??”


“Apa?”


“Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan, boleh aku meminta sesuatu??”


“Apa?”


“Pijit,“


“Hah??? “


“Iya, disini di sini, dan di sini“


“Aaaaaa Zaiiinnnnn !!” dasar bocah!! kenapa tangannya selalu tak bisa di kondisikan??? benar-benar tak mengenal waktu.


Ugh ...


Bersambung ........................


Readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa ................