TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Pantun Dari Zain


Selesai menonton pertunjukan drama yang sangat seru di luar tadi aku segera masuk kedalam rumah, aku kembali terkikik ketika mengingat kelucuan Mas Agus tadi, drama tadi amat seru, bahkan kurasa mengalahkan keseruan drama drama yang sering di tayangkan di televisi.


“Kakak,“ tiba-tiba Zain berhenti berjalan, yang mau tidak mau, akupun ikutan menghentikan langkahku.


“Apa??” Aku mengedikkan wajahku.


Zain menatapku, kemudian menunduk malu-malu.


“Kenapa??” tanyaku lagi.


“Ikan hiu makan tomat, I love u so much, eehhheee ... “ Zain menggaruk tengkuknya, kemudian berlari menuju kamar.


Ck, dasar Zain, ingin rasanya aku segera mematikan lampu, eh.


Aku memasuki kamar mengikuti Zain, kulihat si imut sudah tengkurep di atas kasur, ish ... kenapa dia?? Malu abis berpantun ria kepadaku?? Hhiii ... ada-ada saja dia.


“Zain??” Aku duduk di samping Zain


“Kakak, eehhheee ... “ Dia tersenyum, mesum!!! Ck.


“Apa??” tanyaku, sambil mengedikkan wajah.


“Balesin pantun aku dong” pintanya sambil mesem-mesem.


“Gak, aku gak bisa bikin pantun,” jawabku memalingkan muka.


“Kalau gituh, balesnya pake yang lain aja” Dia garuk-garuk.


“Pake apa??” tanyaku, padahal udah tau jawabannya, mengingat tangannya sudah menarik tanganku.


“Eeeehhheeee ... harus aku jelasin ya kak??” tanyanya.


“Gak perlu!!!” jawabku.


“Perlu aku matiin lampu gak??” tanyanya lagi.


“Tau ah, gimana kamu aja” ah ... kalo posisinya udah kayak gini, apalah dayaku??? Aku hanya bisa memasrahkan diri malam ini pada suamiku tercinta.


Cinta itu dua otak satu pemikiran, empat mata satu tatapan, empat tangan satu genggaman, empat kaki satu tujuan dan dua hati satu komitmen. Cinta adalah hal yang luar biasa ketika kita menemukan orang yang tepat untuk berbagi kebahagiaan.


Pasangan yang sudah terikat tali pernikahan dan sah menurut hukum agama, maka halal bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan cinta terhadap pasangannya. Cinta akan dimulai dengan seulas senyuman, tumbuh dengan sebuah sentuhan, mekar berseri karena ciuman, dan berakhir dengan tetesan air mata kebahagiaan.


Pagi ini, tercium aroma wangi yang menusuk hidung, dari arah dapur, setelah shalat subuh aku memang sengaja tidak langsung ke dapur, rasanya malas saja, entah kenapa, semenjak kehamilanku semakin membesar, aku jadi agak kesulitan mengatur napas, jalan dikit aja, suka ngos-ngosan. Jadi, jika aku ingin melakukan aktifitas, harus sesantai mungkin, tidak bisa lagi seperti dulu, lincah, aktif, energik, dan menggemaskan. Aku harus bisa menjaga kondisiku, dan kondisi anak yang ada di dalam perutku.


Kupaksakan diriku, untuk beranjak ke arah dapur, sementara itu Zain sedang mandi.


“Pagi Bi Inah” Aku menyapa Bi Inah yang tengah membakar roti, dan menyeduh teh hijau.


“Pagi non” Bi Inah memutar tubuhnya, kemudian tersenyum padaku.


Aku duduk dikursi makan, tak lama kulihat Bi Inah menuangkan teh hijaunya kedalam cangkir kramik bermotif bunga. Akhir-akhir ini, Bi Inah lebih sering menemaniku dirumah, kalo nanya siapa yang nyuruh?? Ya si Imut lah. Bi Inah hanya akan pulang kerumah Mamah jika Zain ada di rumah atau lebih tepatnya jika akhir pekan saja.


Zain bilang “Temani Kak Yas selama aku tidak ada di rumah, jangan sampai Kak Yas melakukan aktifitas apapun” haduh, jika ku ingat kembali ekspresi wajahnya kala itu, membuatku agak sedikit bergidik. Dan langsung manut saja.


“Bibi masak apa??” tanyaku basa-basi, tak lama aku meniup-niup teh yang di sodorkan Bi Inah, kemudian meminumnya perlahan.


“Bibi bikinin non sama Aden roti bakar” Bi Inah tersenyum lagi padaku.


“Emh, iya, Zain suka itu” jawabku, kembali aku menyeruput teh hijau hangat itu.


“Pagiiiii istriku sayang” Zain mengusap kepalaku lalu duduk di kursi di sampingku.


Dengan sigap Bi Inah melakukan hal yang sama pada Zain, menyodorkan teh hijau, dan roti bakar yang sama.


Seketika, ruangan di penuhi oleh segala canda tawa kami bertiga, kadang Bi Inah sering menceritakan padaku, bagaimana kenakalan Zain di waktu kecil, yang membuatku terus tertawa. Sementara Zain, tidak terima rahasia masa kecilnya terbongkar dia terus merajuk.


Hingga, waktu menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat, saatnya Zain berangkat kerja. Aku mengantarkannya hingga kedepan rumah. Seperti biasa aku mencium tangan Zain, dan Zain membalasnya dengan mencium keningku.


Aku mengiringi kepergian Zain dengan lambaian tangan. Ku langkahkan kakiku berniat kembali masuk kedalam rumah. Tapi seketika langkahku terhenti, karena menangkap pemandangan yang sangat lucu menurutku.


“Beb, aku pergi kerja dulu yah” Kulihat Mas Agus berusaha melapaskan tangan Tina.


“Gak, aku gak mau di tinggal kerja” Masih bergelayut manja di tangan suaminya, Tina memajukan bibirnya.


“Aku harus kerja beib” lagi, Mas Agus berusaha melepaskan tangan istrinya.


“Kalo gituh jangan lama-lama yah” perlahan Tina melepaskan tangannya.


“Pasti, aku akan sangat merindukanmu, aku akan segera pulang” Mas Agus mengusap kepala istrinya.


“Aku akan lebih merindukanmu, aku akan menunggumu pulang” Tina mengerucutkan bibirnya.


“Aaaahhh ... aku jadi malas berangkat kerja” Mas Agus kembali memeluk istrinya.


“Aku juga jadi malas waktu berputar” Tina membalas pelukan suaminya.


“Hhhiiii ... “ selanjutnya terdengar tawa mereka.


Cih ... kenapa mereka?? Lihat itu rambut Tina masih basah, apa mereka baru saja berbaikan??.


“Cciiieeee ... pengantin baru mesra banget sih??” Aku terkikik, mendekati pagar untuk menggoda mereka.


“Iiihhh apaan sih Kak??” Tina merunduk malu.


“Cciiieee ... cciieee “ Aku semakin bersemangat menjahili mereka.


“Beib, kalo gituh aku berangkat dulu yah” pamit Mas Agus kemudian, sejurus kemudian, aku melihat Mas Agus mencium kening istrinya. Tina mengangguk, sambil menutupi wajah, dengan tangannya malu malu, tak lama dia berlari kedalam rumah, tanpa pamitan kepadaku. Aku tertawa geli melihat tingkah mereka. Ternyata pantun semalam yang di bacakan Mas Agus manjur juga. Kadang, kita hanya perlu melakukan hal sederhana, hanya untuk membujuk pasangan kita. Sesederhana pantun yang di bacakan Mas Agus semalam. Hhheee ...


“Yas!!” terdengar suara perempuan yang sudah tak asing di telingaku, memanggil namaku, aku memutar tubuh lalu menatapnya.


“Mamah??” Aku berjalan mendekati orang yang memanggilku, yang ternyata adalah Mamer.


“Kamu apa kabar?? Gimana kabar cucu Mamah??” tanyanya beruntun, lalu mengelus perutku, selepas mencium kedua pipiku.


“Aku baik, cucu Mamah juga baik” Aku tersenyum, lalu menuntun Mamah untuk masuk kedalam rumah.


“Kamu hari ini ada acara gak Yas??” tanya Mamer, sambil mendaratkan bokongnya di soffa.


“Gak ada Mah” Aku menggeleng, tak lama kemudian Bi Inah datang dengan membawa menu yang sama, yang tadi aku makan.


“Mamah sebenernya datang kesini mau ngajak kamu jalan-jalan Yas, kita belanja buat keperluan calon cucu Mamah, kamu mau gak??” tanya Mamah antusias.


“Mau Mah” jawabku menganggukkan kepala tak kalah antusias.


“Oke, ah, Mamah seneng banget punya kamu Yas, Mamah punya anak perempuan yang bisa Mamah ajak shopping, yang bisa di ajak jalan jalan” Mamer mengelus tanganku.


“Yas juga seneng punya Mamah, Mamah baik banget sama Yas” jawabku, sambil menempelkan kepalaku di pundak Mamer, manja. Memang aku teramat bersyukur memiliki Mamer seperti Mamah Zain, di saat para menantu lain selalu ribut dengan mertuanya, maka tidak denganku. Aku sungguh menantu yang beruntung.


Bersambung ..............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers .... like, komentar, bintang lima, dan vote juga sebanyak banyaknya. Jangan pelit untuk membubuhkan jempolnya,