
Asshalaatu khoirum minannauum ...
Samar terdengar suara adzan shubuh dari mesjid di sebrang rumah, aku mengerjap. Meraba orang di sampingku.
“Bangun cakep ...” bisikku di telinganya, tapi dia tidak bergeming, mungkin lelah setelah semalam suntuk dia mengurus putrinya.
“Papah ... “ lagi, aku menggoyangkan badannya.
Dia menggeliat, membuka sebelah matanya.
“Buruan shalat shubuh dulu” perintahku.
Terlihat sekali dia memaksakan diri untuk bangkit dari tidurnya, kemudian dia bergerak menuju kamar mandi.
Setelah shalat shubuh berjamaah seperti biasanya, dia menengadahkan kedua tangannya. Meminta kepada sang pemilik hidup, untuk kebaikkannya dan kebaikan keluarganya.
“Aamiin” jawabku di belakangnya.
“Makasih Mommy” Dia memutar wajahnya tersenyum menatapku, kemudian menyodorkan tangannya, dan aku menyambutnya, kucium punggung tangannya dengan tulus.
“Mamah, no Mommy” Aku menggeleng selepas mencium punggung tangannya, membentikkan jari telunjukku lalu menggerakkannya, kekiri dan kekanan, aku tidak suka di panggil Mommy oleh Zain dan Putriku, entahlah, tapi aku lebih suka di panggil ‘Ibu, Mamah, atau Umi mungkin’ Panggilan Mommy itu terkesan seperti apa ya?? Ah, pokoknya aku gak suka di panggil Mommy, tapi si Papah muda, selalu memaksakan kehendaknya. Ish ...
Segera aku bangkit berjalan menuju dapur, setelah sebelumnya aku melirik putriku Pelangi, yang tengah terlelap di dalam boks tidurnya.
Aku segera menyedu susu untuk kedua kesayanganku. Bapak sama anak sama saja, sama-sama suka minum susu. He ...
Setelahnya, aku segera memasak untuk menyiapkan sarapan untuk suamiku. Tapi, segera aku menyadari, ternyata bahan masakanku sudah pada habis.
“Huuuhhh ... gara-gara corona ini, aku jadi tidak bisa bebas keluar rumah” rutukku, sambil mencari-cari bahan makanan yang masih bisa aku masak untuk sarapan pagi ini.
“Ini sih bukan hanya gara-gara corona, tapi juga karena Zain suka melarangku untuk keluar dari rumah, mesti, aku ini hanya di tugaskan untuk mengurusnya dan mengurus Pelangi saja” lagi-lagi aku mengoceh sendiri.
Akhirnya setelah aku mengubek-ubek isi kulkas, aku menemukan beberapa butir telur. Langsung terlintas di fikiranku untuk membuat sarapan paling sederhana. Ya apalagi?? Kalau bukan nasi goreng dan telur mata sapi.
“Pagi Mommy ...” sapanya, sambil melingkarkan tangannya di perutku.
“Papah, semua bahan makanan sudah habis” Aku mengerucutkan bibirku.
“Daddy, no Papah” Dia menggelengkan kepalanya “O ya?? Kita belanja kalau begitu” Dia tersenyum, imut sekali, rambutnya masih basah, tapi basah oleh minyak rambut yaaa ... bukan oleh air.
Oh iya, karena adanya wabah penyakit copid-19 sekarang Zain jadi bekerja dari rumah, tau apa reaksinya?? Dia malah kesenengan banget. Di saat orang-orang bersedih, dan kecewa dia malah bahagia, dia bilang seneng aja, soalnya jadi bisa terus deket-deket aku dan Pelangi. Ish ... bikin gerah aja.
Malahan nih ya, Bi Inah aja sampe di liburin, karena dia gak mau di ganggu, tapi, Bi Inah masih di gaji seperti biasanya kok, yah, itu menjadi kesenangan juga buat Bi Inah. Padahal Bi Inah itu bukan pengganggu lho, justru Bi Inah itu banyak membantu pekerjaan rumahku, terutama setelah ada Pelangi, otomatis pekerjaan rumah sering banget terbengkalai.
Tapi, Si Papah Muda, dengan sigap dia selalu bilang. “Udah Mommy, tenang aja ada aku” Katanya, sambil menepuk dada. Ngeselin kan??? Tapi, ada nyenenginnya juga sih, segala pekerjaan rumah yang sering di kerjakan Bi Inah, sekarang di ambil alih oleh Zain. Kebayang lah ya, Zain yang awalnya seorang karyawan, tiap pagi pakai dasi, tiba-tiba harus bawa bawa sapu dan pengki, ya mungkin dia sekalian nostalgia, sama pekerjaannya dulu, hhee ...
Sebetulnya aku kuat lho, kalau cuman sapu-sapu, sama lap-lap rumah doang, tapi Zain selalu melarangku. Yaaaa ... kalau jadi istri harus nurut sama suamikan?? Jadilah aku hanya duduk cantik sambil nimang nimang pelangi setiap harinya. Papah Muda?? Not Bad.
Setelah sarapan, Zain pindah posisi, beranjak dari kursi makan pindah ke kursi sofa di ruang tengah, kemudian dia meraih ponselnya.
“Mommy ...” terdengar teriakan khasnya, teriakan manja ( iiieeeewwww ).
“Mamah, Zain, panggil aku begitu” Aku merengut.
“No! Mommy” Dia membentikkan telunjuknya.
“Jadi, Mommy mau belanja apa aja??” tanyanya sambil menscroll ponselnya.
“Whhhaaattt??? Kita belanja via aplikasi??!!” teriakku, aku fikir, Zain akan mengajakku belanja ke emol, yah ... kalau gini caranya, aku gak akan bisa keluar rumah lagi.
“Iya Mommy, untuk saat ini, kita tidak bisa pergi keluar rumah dulu, di wilayah kita kan masih Zona merah, jadi kita masih belum bisa keluar rumah.
“Ck! Ini gak adil” Aku mengerucutkan bibirku.
“Hhheee ... sabar yaaaa” Dia mengelus pucuk kepalaku.
“Jadi, Mommy mau belanja apa aja??” Zain menatapku.
“Apa ya?? Aku lupa lagi” jawabku masih manyun, please deh, aku itu udah bosen, jenuh, suntuk, aku ini pengen jalan jalan, pengen cuci mata. Tapi, mau corona ataupun gak, dia masih saja mengurungku di rumah ck!.
“Ya udah, sinih Mommy, aku pijitin, Mommy pasti pusingkan ngurusin pelangi??” katanya mendekatiku, lalu memijit pelipisku pelan. Oh, iya sekarang Zain sudah menemukan talentanya yang lain lho, yakni memijit. Hheee ... pas bangetkan?? Buat aku yang hobinya kini jadi rebahan?? Rebahan aja juga pegel tahu.
“Oh iya, Papah, tadi aku liat statusnya Budi lho di facebooknya” kataku, yang baru saja mengingatnya. Kini, hobyku sebagai Mamah-Mamah jadi suka baca novel online, aku juga ikut bergabung di beberapa komunitas menulis, lumayankan, daripada aku jenuh rebahan, ya mending cari hiburan, sambil jagain Pelangi yang sukanya bobo doang.
“Apa??” tanyanya.
“Budi sekarang jadi penulis online lho, katanya dia ngikutin jejak pacarnya” jelasku.
“O ya??? Gak ada kerjaan banget dia” Zain mendengus.
“Ih, keren tahu, aku aja suka baca karya-karyanya” ucapku sambil memilin rambut.
“O ya?? Lebih keren mana?? Budi atau Daddy??” tanyanya menatapku dalam.
“Eeemmmhhh ... “ sejenak aku berfikir, mempermainkannya.
“Ayoooo ... “ Dia mulai cemberut.
“Daddy jelas lebih keren dong” Kukecup pipinya sambil tersenyum manis, ternyata keputusanku mencium pipinya adalah keputusan yang salah. Dia malah membalasnya dengan ciuman di tempat kesukaannya.
“Pindah kamar!” ucapnya pelan, tapi memerintah seperti biasanya.
Aaaaaa ... tuh kan,
“Tapi, kita belanja dulu yah, sekarang aku udah inget daftar belanjaan yang mau aku beli” pintaku kembali menarik tangannya untuk tetap duduk.
“Gak, Mommy bohong, itu cuman alasankan?? Kita bisa belanjanya nanti aja” jawabnya cepat, segera kembali menarik tanganku.
“Eeeeemmmhhh ....” Aku berusaha mencari alasan lain.
“Oooooeeeeekkkk .... Ooooooeeekkkk ... Ooooooeeeekkk ...” tiba-tiba terdengar suara nyaring dari malaikat penyelamatku.
“Pelangi bangun Daddy ... hhiii” Aku terkikik sambil berlari ke arah kamar, untuk melihat putriku.
“Ish ....” sempat kulirik dia mengumpat sambil meremas rambutnya. Ck! Dia tidak berubah sama sekali.
Hay readers sayang ... aku ada ekstra partnya buat kisah Dede Zain dan Kakak Yasnya yaaa ... semoga ekstra part ini bisa mengobati rasa rindu readers semua pada kisah mereka yaaa ... jangan lupa dukungannya ya readers ...