TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Menyelinap


Sepi, sunyi, hening. Itu yang kurasa ketika dua hari ini aku tidak bisa bertemu dengan Zain. Mamah dan Papah masih tetap mengurungku di kamar. Sungguh rasanya aku sangat ingin murka, tapi apalah dayaku? Disini posisiku hanya sebagai seorang anak.


“Yas makan dulu” Mamah membawa nampan yang berisi semangkuk bubur, dan segelas air putih.


“Kamu harus makan Yas,” Mamah duduk di tepi ranjang, duduk di sampingku, meletakkan nampan di atas nakas.


“Mamah, Yas hanya ingin Zain kembali ke sisi Yas, tolong Mamah” Aku mengatupkan kedua tanganku, memohon pada Mamah agar Mamah mau mengabulkan keinginanku.


“Tidak Yas, ini untuk kebaikanmu” Mamah menggeleng.


“Kebaikan?? Kebaikan yang mana Mamah??” Mataku berkaca-kaca.


“Bagaimana mungkin pendampingmu ternyata adalah seorang anak-anak?? Bagaimana dengan masa depanmu Yas??bagaimana nasib anak anakmu Yas??” jelas Mamah.


“Mah, Zain itu suami yang baik Mamah” rengekku.


“O ya?? Baik dari segi mananya??” Mamah mengerutkan dahinya.


“Jangan merengek lagi Yasmin, Mamah tidak suka, jalankan semua yang Mamah anjurkan” sentak Mamah.


“Mah, Zain meskipun usianya jauh di bawah aku, tapi dia mau bertanggung jawab Mamah, sekarang Zain sudah bekerja, meskipun orang tuanya bisa memfasilitasi kehidupan kami Mamah” jelasku tak ingin menyerah.


“Hmh, Yas? Apa kamu pernah berfikir?? Berapa usia Zain ketika usiamu sudah empat puluh tahun??” tanya Mamah, aku mengerutkan dahi, tidak mengerti akan maksud pertanyaan Mamah.


“Tiga puluh dua tahun Mamah” jawabku seadanya.


“Kamu tau?? Di usia itu para pria sedang dalam masa panas-panasnya, ooouuuhhh ...” Mamah mengedikkan bahunya.


“Maksudnya Mamah??” tanyaku masih belum faham.


“Bayangkan Yas, kamu sudah beranjak tua, mengurus anak yang masih kecil, sementara suamimu sedang dalam masa-masa liarnya. Huuuhhh ... “ Mamah membuang napas beratnya, mengutarakan segala ketakutannya.


“Mamah, Zain tidak seperti itu Mamah, Zain suami yang baik, dan akan menjadi Ayah yang baik juga” rengekku, setelah menyadari maksud tujuan ucapan Mamah.


“Sudahlah Yas, jangan membangkang, Mamah tidak suka” Mamah beranjak berdiri, lalu menuju pintu, dan keluar dari kamarku.


“Mamah egois!! Keterlaluan!!” Aku mengoceh sendiri di kamar.


Suasana kembali hening, aku meraih ponselku, aku kembali melihat foto-foto kami, kala kami bulan madu, entahlah, kali ini semua kenangan bersama Zain, jadi terasa begitu indah. Segala kenakalannya, kepolosannya. Zain yang suka ngambek, Zain yang suka berkelahi, Zain yang selalu cemburuan. Aku merindukannya. Sangat merindukannya.


Ku edarkan pandangan, netraku menangkap sebuah pemandangan. Permen kapas yang aku simpan di atas nakas, di pojokan kamar, masih terpajang. Aku beranjak, lalu berjalan menyentuh permen kapas, yang sebelumnya ku anggap hadiah penyiksaan ini, sekarang menjadi saksi bisu rasa rinduku pada suamiku.


“Zaiiiinnn ... hiks ...” Aku menangis terisak,


“Kamu dimana Zain??”


“Aku disini Kakak” terdengar suara bisikan dari kejauhan.


“Astagfirullah,“ Aku melempar permen kapas, memundurkan langkah, mengedarkan pandangan,


“Zain, apa aku terlalu berhalusinasi?? Hingga aku mendengar suaramu?? Oouuuhhh ... aku takut“ Aku berlari menuju ranjang, menarik selimut, lalu menutupkannya keseluruh tubuhku.


“Kakak ...” suara bisikan itu kembali terdengar.


“Hush ...hush ...hush ...” Aku memejamkan mata, dengan mulut komat kamit, merapalkan segala do’a.


“Kakak ... “


Klotrek ...klotrek ...klotrek ...( Suara jendela di buka paksa )


“Astagfirullah ... Zain akau memang sangat merindukanmu, tapi aku masih waraskan??kenapa aku terus mendengar suara Zain??” Aku bergumam, sambil memegang erat ujung selimut.


“Kakak ... aku disini” suara bisikan itu kembali terdengar, sekelebat bayangan hitam muncul di balik gorden.


“Aaaaahhh ... hantu, itu pasti hantu“ Aku menggigil, memeluk erat bantal guling.


“Kakak ... ini Zain“ suara bisikan itu semakin jelas.


“Hah? Zain?” Aku beranjak, menyibak selimut, kemudian mendekati bayangan hitam itu, ku sibakkan gorden, terlihat Zain sedang berdiri tegak, melambaikan tangan sambil tersenyum, menenggelamkan mata sipitnya.


“Zaiiiinnnn .... “


Bersambung ..............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ....


ada yang baca buku KETIKA CINTA DI UJI? buku itu sudah tamat ya...jika ada waktu mampir juga kesana ya readers .....