TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Terjebak


“Ya udah, Zain pergi ya Papah,“ Aku kemudian berjalan menuju pintu,


satu ...


dua ...


tiga ...


“Zain ...”


Tuh kaaaaan, Yes!


“Iya Papah,“ Aku membalikkan tubuhku yang sudah mendekati pintu, aku tahu Papah dan Mamah mana bisa berjauhan denganku.


“Hati - hati di jalan,“ sahut Papah sambil menaiki anak tangga.


“Papah ... kok jahat banget sih sama aku??” Aku merajuk.


“Mamah ...” Kali ini aku menggunakan senjata terahirku ‘Mamah’ beliau tidak akan tega melihatku bersedih.


“Kenapa kamu mengecewakan Papah kamu??” Mamah mendekatiku sambil berbisik - bisik.


“Aku gak mau dijodohin Mamah“ Aku terus merajuk, berharap Mamah akan jadi Dewi penolongku, selama ini selalu begitu bukan??.


“Biarkan anak manja itu pergi dari rumah!!!” teriakan Papah dari lantai atas membuat kami terlonjak kaget.


“Mamah,“ lagi aku memasang wajah semenyedihkan mungkin.


“Mamah gak bisa bantu apa - apa, jika papahmu sudah membuat keputusan seperti itu,“ Mamah meraih dompetnya kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang.


“Jangan berikan apapun!! Biarkan dia mandiri!!!” lagi teriakan Papah terdengar, ish ... tahu dari mana Papah, padahal wujudnya saja tidak kelihatan, tapi kenapa Papah bisa tahu aktifitas yang tengah kami lakukan. Mamah kembali menyimpan uangnya kedalam dompet, padahal aku sudah mau bilang terimakasih. Ish ....


“Kamu hati - hati ya diluaran sana banyak penjahat,“ Mamah memelukku erat.


“Iya Mamah,“ Aku tertunduk lesu, sedikit menyesal atas apa yang sudah kulakukan tadi, sekarang aku jadi bingung sendiri mau pergi kemana, ditambah aku tidak memiliki apapun sekarang, bahkan uang sepeserpun aku tidak memegangnya.


Akhirnya dengan langkah gontai, aku pergi keluar dari rumah, aku melihat kebelakang, Mamah melambaikan tangannya padaku.


“Mamah, ayo dong panggil aku, satu ... dua ... tiga ...“ tapi panggilan suara Mamah tak kunjung aku dengar, ish ... mungkin mantraku kini sudah tidak berfungsi lagi. Di mana aku hanya tinggal berhitung hingga angka tiga, dan semua keinginanku akan terwujud segera.


Aku berjalan tanpa tujuan, aku bingung mau pergi kemana, aku hanya terus berjalan menelusuri jalanan, ah ... aku sudah seperti pengembara saja, dengan penampilan ala berandalan, tidak memiliki uang sepeserpun, aku harus apa??.


Ketika melewati jalanan sunyi, aku tiba - tiba saja kebelet pipis, aduh! Bagaimana ini? Mau pipis di wc umum aku tidak memiliki uang sama sekali, mau numpang pipis di Mesjid, tapi malu dengan penampilanku, akhirnya aku celingak celinguk mencari semak - semak, yang kebetulan ada di pinggir jalan. Ketika aku sedang menunaikan hajatku, tiba - tiba aku mendengar suara gaduh, tapi entah apa, seperti orang yang sedang berdebat, aku mencoba melihatnya sambil berpegangan pada daun - daun di sampingku, hingga menimbulkan suara, belum rasa penasaranku terjawab tiba - tiba ...


“Kena kau, cepat kesini!!!“ Tiba - tiba saja, seorang Bapak - Bapak bertubuh gembul menarikku secara paksa, yang bahkan aku belum sempat menaikkan resleting celanaku.


“Nah, kan?? Lihat bahkan dia belum memakai celananya dengan benar!! Kalian harus segera di nikahkan!!!” teriaknya lagi, membuatku melongo tidak mengerti.


“What???!!!!”  teriakku berbarengan dengan suara seorang perempuan, yang belum jelas terlihat wajahnya.


Ah ... apa yang sebenarnya terjadi?? Apa yang harus kulakukan?? E-tapi sebentar, sepertinya aku mengenali perempuan ini, ini 'kan perempuan yang waktu itu menabrakku, sambil nangis - nangis,


"Ah ... Kakak, mungkin kita berjodoh, Allah mempertemukan kita kembali, hhhiii ... do'aku di kabulkan Allah ternyata ...”


“Kalian telah berzina, apa kalian tidak takut dengan azab Allah??” aku mengernyitkan dahi, mendengar penuturan mereka,  berzina??? Aku bahkan takut jika harus dihadapkan dengan  perempuan, kenapa aku di katakan berzina??.


“Kami tidak mau satu kampung ini terkena sial, hanya karena dosa yang kalian lakukan. Untung saja kami sudah mengintai kalian sejak lama, hingga kalian akhirnya tertangkap“


“What???” Si Kakak cantik terlihat limbung, dia memegangi kepalanya, mungkin dia juga tak kalah bingung dariku.


“Eeeeee .... eeee ... eeee tunggu sebentar Bapak - Bapak, kami tidak saling mengenal satu sama lain” akhirnya aku melakukan pembelaan. Tidak tega melihat si ‘Kakak cantik‘ terus memegangi kepalanya, sambil mengerjap - ngerjapkan matanya mencoba mengenaliku.


“Alah sudah pak Rt. daripada mereka keburu kabur lagi, lebih baik mereka segera kita bawa ke mesjid, untuk segera dinikahkan!“ seru salah satu pemuda, yang membuatku bingung harus melakukan apa? Aku memang menyukai si ‘Kakak Cantik’ tapi masa iya, aku harus dinikahkan dengan cara seperti ini?.


“Menikah?? Sebentar dulu, aku harus menikah dengan siapa??” Aku mencoba mengecoh perhatian mereka,


“Pak, maaf tapi kalian salah faham” dengan lemah, si ‘Kakak Cantik’ terdengar mengiba, membuatku kasihan melihatnya.


“I iya kalian semua salah faham“ Lagi, aku mencoba bernegosiasi.


“Halah, kalau maling ngaku semua, penjara pasti penuh“ Lagi-lagi pria ngeyel itu bersuara.


“Pak, tolong dengarkan penjelasan kami, kami tidak saling mengenal“ Si ‘Kakak Cantik’ terus mengiba.


“Ini sebenarnya ada apa ya?? Maksudnya bagaimana??” Aku terus mencoba bicara, karena sesungguhnya, aku belum faham duduk permasalahannya seperti apa? Aku hanya faham jika aku sedang di tuduh berzina, itu saja, tapi bagaimana awalnya?.


“Halah, sudah kalian jangan bersandiwara lagi, kalian harus bertanggung jawab, terutama kamu!!!” tiba - tiba saja si Bapak berperut gendut, yang dari tadi memegang pentungan, mengarahkan pentungannya kepadaku, membuat nyaliku menciut, takut.


“Kamu laki - laki harus bertanggung jawab, jangan mau enaknya aja, kamu harus nikahin si Mbaknya“ timpal Bapak - Bapak lainnya. Ish ... tadi di rumah Papah bilang aku harus belajar tanggung jawab juga, tapi kali ini, aku harus mempertanggung jawabkan apa?? Apa salahku?? Apa aku kualat karena aku pipis di semak - semak ya??.


“Tapi pak,” tukas si ‘Kakak Cantik’ sambil terus memegangi kepalanya, kenapa dia? Apa dia pusing melihat penampilanku? Seperti Papah dan Mamah,


“Ah, sudah jangan debat lagi, pak Rt mari kita giring mereka, dan kita panggil penghulu”


“Hah??? Penghulu??!” teriaknya, sementara lututku sudah gemetaran, mulutku terkunci rapat, aku hanya mampu memandang ‘Jodohku’ dengan seksama, dia terlihat sangat cantik malam ini.


“Mbak, apa ada keluarga yang bisa di hubungi??” Pemuda lain bertanya padanya.


“A ada, Tanteku Tante Meta“ jawabnya terbata - bata, aku yakin sebentar lagi dia akan pingsan, melihat wajahnya yang sangat pucat.


“Maaf apa boleh saya menunggu di dalam mobil?” pintanya mengiba.


“Waaahhhh bilang saja mau kabur!!“ teriak salah satu dari mereka.


“Tidak, saya tidak akan kabur, ini silahkan ambil kunci mobil saya, kalian boleh menguncinya dari luar, hingga Tante dan Om saya datang“ pintanya sambil terus meringis, menahan sakit.


Sementara aku, hanya bisa memandangnya, sambil tersenyum imut, sebentar lagi si ‘Kakak Cantik‘ akan menjadi istriku, yah meskipun dengan cara seperti ini.


Sambil memegang kepalanya, dia memasuki mobilnya, sementara itu salah seorang warga langsung menguncinya dari luar, dan aku?? Aku tiba - tiba saja digeret memasuki sebuah mesjid, yang tak jauh dari tempat kejadian.


Bersambung.........


Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaaa.....mohon dukungan vote sebanyak banyaknya.........