
Selesai berfoto, aku dan Zain keluar dari kamar hotel, hampir tiga hari di tempat ini, rasanya baru sekarang aku bisa menghirup udara segar, berkali-kali aku menarik napas, membiarkannya memasuki rongga dada, rasanya begitu segar.
Dengan masih tetap menggandeng tanganku, Zain berjalan menuju loby.
“Zain, apa kita akan berjalan-jalan romantis?” tanyaku penasaran.
“Hhmmhht, tentu saja Kakak,“ jawabnya yakin.
“Sungguh??” tanyaku.
“Tentu saja“ jawabnya menganggukkan kepala.
Lah??? Tapi aku jadi berfikir, kira-kira romantis menurut Zain seperti apa ya?.
Tiba di parkiran,
“Ttaaaarrrraaaaa!!!” Zain merentangkan tangannya, menunjukkan sebuah motor scooter, lengkap dengan dua helm batok.
“Hah??!!!” Aku terperanjat.
“Ayo, Kakak naik“ Zain menarik tanganku, dan membantuku untuk duduk di belakang kemudi.
“Zain, aku takut jatuh“ ragu, aku memegang pinggang Zain.
“Sini, peluk aku seperti ini“ Zain memperagakan, agar aku memeluk perutnya, lalu aku menurut. Aku berada di belakang Zain, dengan tangan melingkar erat di perutnya.
Zain, melajukan motornya, dengan kecepatan sedang.
“Zain, kita mau kemana??” tanyaku setengah berteriak.
“Ada deh" tiba-tiba Zain mengendalikan motornya dengan kecepatan tinggi.
“Zain, jangan ngebut!!!” sontak aku memeluk Zain lebih erat lagi.
“Hahahaha” Zain tertawa lepas.
“Zain pelan!!” Aku memukul punggung Zain, tapi Zain masih mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi.
“Zain,“ Aku meronta.
“ Kakaaaaaaaakkkkk I LOVE YOU“ Zain berteriak dengan lantangnya.
Aku tersipu, lalu terdiam, merasakan hembusan angin yang menerpa wajahku.
Ah, jalan-jalan yang di maksud Zain sangat romatis ternyata, lebih romantis dari bayanganku. Aku memejamkan mata, lalu merentangkan kedua tanganku.
“Zaiiiinnnnn I LOVE YOU TOO“ Akupun ikut berteriak, lalu kami tertawa bersama.
Setelah menempuh perjalanan yang agak panjang, akhirnya kami tiba di tempat yang di maksud Zain.
“Hah?? Zain?? Kita di mana??” Aku celingukan
“Iya Kakak, ini pasar malam, Kakak belum pernah ke tempat seperti ini kan??” tanyanya memegang tanganku,
“Belum“ Aku menggeleng, aku memutar tubuh, memencarkan pandangan, tempat ini begitu ramai, ada banyak pedagang yang menjajakan dagangannya, ada beberapa permainan juga, yang kelihatannya seru jika aku menaikkinya.
“Kakak,mau naik itu??” tanya Zain, menunjuk salah satu permainan.
“Mau“ jawabku mengangguk, sambil tersenyum senang.
“Ayo,“ Zain menarik tanganku, aku mengikuti langkahnya.
Zain, membeli tiket untuk menaiki bianglala, aku dan Zain masuk kedalam kotak berbentuk mobil-mobilan itu, kita mirip anak-anak, tapi aku menyukainya.
Setelah kita duduk di dalam, dan biang lala mulai melaju, aku mencengkram tangan Zain kuat, takut dan ngeri ketika melihat jauh ke bawah sana. Rasanya ngilu.
“Zain, kamu sering main ke tempat seperti ini??” tanyaku cukup penasaran, Zain anak orang kaya, tapi kenapa dia bisa tau tempat tempat seperti ini?? Bukankah tongkrongan anak muda Zaman sekarang adalah mall atau coffeeshop??.
“Sering,“ jawabnya.
“O ya?? sama siapa aja?” tanyaku penasaran.
“Sama anak-anak“ jawabnya, yang terdengar ambigu.
“Oh,“ Aku menghentikan pertanyaanku karena biang lala sudah berhenti, dan saatnya aku turun dari permainan ini.
“Kakak, tunggu di sini sebentar“ Zain mendudukkan aku di sebuah kursi. Aku menurut. Zain pergi menghilang di antara kerumunan.
“Zain mau kemana sih??” Aku menggaruk keningku, bingung.
Lama aku menunggunya, tiba-tiba Zain datang.
“Ini buat Kakak“ Zain menyodorkan sebuah benda dengan besar sama dengan bantal guling.
“Ya ampuunn apa ini??” aku kaget.
“Ini permen kapas Kak “
“hah?? kenapa besar sekali?? Bagaimana aku bisa memakannya?”.
“Hhiii “ Zain menggaruk tengkuknya,
“ Ini hadiah dari aku, hadiah yang rasanya manis, buat Kakak yang tak kalah manis“ Zain tersenyum imut. Ck, aku tak bisa berkelit.
‘ini memang rasanya manis, aku suka hadiah dari Zain. Tapi rasanya ini lebih cocok di sebut dengan hadiah penyiksaan, kenapa?? karena aku sudah bingung, bagaimana cara aku membawanya?? Apalagi waktu pulang nanti. Ah ... Zain, sungguh menggemaskan.
Bersambung......................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers.....