TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Maling di Malam Hari


Trek ... trek ...trek ...


Tiba-tiba aku terbangun dari tidurku karena suara berisik dari arah dapur, kira-kira itu suara apa ya?? Apa mungkin itu Zain??? Ah ... bukannya bocah itu sedang marah dan minggat dari rumah??.


Aku bergegas bangun, merapikan pakaian, kemudian bergegas menuju lemari, mengganti baju dasterku dengan celana panjang. Takutnya ada penjahat yang masuk rumah, jadi aku bisa dengan mudah beraksi.


Perlahan aku membuka pintu kamar, mengintipnya dari dalam, eh ... tapi suaranya sudah tidak ada lagi, apa hanya tikus saja ya?? Haduuuhhh ....


Aku celingukan mencari senjata yang bisa kugunakan untuk memukul, takutnya pradugaku memang benar adanya. Ah ... ya aku menemukan sapu yang tadi sore baru saja kugunakan. Aku terus mengendap - endap menuju arah suara,


Tap ... tap ... tap ...


“Astagfirullah ... apa itu?? Kenapa ada bayangan???” bisikku, sambil mengeratkan cengkramanku pada sapu yang dari tadi tidak lepas dari peganganku. Lalu aku memasang kuda - kuda. Bersiap menyerang siapa saja yang berani singgah di hatiku, eh dirumahku maksudnya.


Di antara lampu remang - remang, aku melihat sosok manusia yang tengah berdiri disamping meja makan, “Ya Allah, gustiiiiii ... lindungilah hambamu ini, lagian si Zain kemana sih?? Udah kayak anak gadis aja main minggat - minggat segala, ampun dah ...”


Aku mengendap - endap mendekati sakelar lampu, agar aku bisa dengan mudah menangkap maling yang beraninya singgah dirumahku.


Trek ...


Lampu nyala, “Siapa kamu?! Kamu maling ya???” aku memejamkan mata, berteriak sambil menodongkan sapu tepat mengenai hidungnya.


“Awwww ... sakit Kakak, ini aku, ini aku Kakak, suami Kakak!!“ teriak suara yang sudah sangat familiar di telingaku. Aku membuka mata dan langsung terbelalak, kala tahu ujung sapu yang tengah kupegang, ternyata tepat sasaran mencolok hidung mancungnya.


“Eee eeehh ... maaf Zain, lagian kamu ngapain nyalain lampu remang-remang di dapur??Bukannya kamu mau pergi dari rumah ya??” tanyaku sambil menurunkan sapu dari wajahnya, kemudian duduk di kursi makan.


“Ya maaf Kakak, aku tadinya mau pergi, tapi udah keburu malem,“ akunya polos,


“Hah?? Emangnya kenapa kalau udah malem?? Kamu takut Zain??” tanyaku sambil menautkan kedua alisku.


“Ehheehhee ...” jawabnya sambil garuk - garuk, ish ... kebiasaannya muncul lagi.


“Ck, kamu gimana bisa melindungi aku?? Sama gelap aja takut“ Aku mengedikkan bahu.


“Kalau buat ngelindungin Kakak, aku akan usahain dong“ jawabnya bangga.


“Cih, kamu so soan mau melindungi aku, melindungi diri sendiri aja gak bisa“


“Bisa kok,“ jawabnya yakin.


“Iya, bisa, ini buktinya“ jawabku sambil menoyor dahinya yang kulihat tadi terluka.


“Ehheee ... ini mah kebetulan aja Kakak, Zain gak sempet ngehindar, waktu dia mau nyakar wajah Zain“ elaknya sambil memperagakan gerakan temannya yang mau mencakar wajahnya, tapi tepatnya bukan memperagakan cara berantem sih, malah jadi kayak jaipongan (tarian khas suku Sunda). Aku memperhatikannya dengan seksama, sambil manggut - manggut. Kemudian  aku mengebikkan bibirku.


“Kakak, gak percaya sama kemampuan Zain??” tanyanya kecewa melihat ekspresiku.


“Iya, percaya kok, percaya“ jawabku, masih dengan ekspresi yang sama.


“Kakak,“ panggilnya.


“Zain“ panggilku.


Panggilan kami kini bersamaan,


“Kamu dulu aja deh“ aku mengalah.


“Kakak dulu aja“ gak mau ngalah dia.


“Kamu dulu aja“ Aku juga tidak mau kalah.


“Aku sih menghargai yang lebih tua aja“ jawabnya yang membuatku langsung menyentil dahinya.


“Apppaaaaa????”


Pletak.


“Awwww ... Kakak, kenapa hobi banget sih nyakitin aku???” dia meringis, sambil menggisik dahinya.


“Ya abis kamunya gemesin sih“ jawabku terkekeh.


“Ekheeeemmmm iya sih, aku emang lucu sih, jadi bikin gemas ... hhee” jawabnya dengan ekspresi super PD sambil menarik kerah bajunya sendiri.


“Iya, lucu, sampai tangan aku gatel pengen noyor kamu terus,“ jawabku tak mau kalah, sambil mengelus tanganku.


“Kakaaaaakkkkk ...” pekiknya, dengan gaya so imutnya, eh emang dia imut sih.


“Apa?” Aku mengedikkan wajahku.


“Kakak, udah lihat hadiah dari aku belum??” tanyanya PD.


“Udah,“ jawabku, yang seketika mengingat hadiah yang di berikan Zain, satu buah baju, jilbab, dan teman - temannya yang berwarna senada. Hhhuuuhhhh ... Dasar bocah.


“Sukak, tapi ...” kerongkonganku tercekat, tak kuasa mengatakan ****** *****, dan bra yang Zain berikan padaku, sebagai hadiah. Eh sogokan lebih tepatnya, agar aku tidak marah lagi mungkin, setelah mie yang rasa entah ... sekarang baju dan seperangkatnya, ck bocah.


“Tapi apa Kakak??” tanyanya mengerutkan dahi.


“Dari mana kamu tahu ukuran baju aku dan ...” duuuhhh ... aku tak kuasa mengatakannya. Ckkk.


“Dan apa Kakak?” tanyanya polos.


“Dan isiannya“ akhirnya, aku mengatakannya dengan bahasa lain, agar tidak terdengar terlalu vulgar ditelinga polosnya, heuuuhhh ....


“Bhaaahhaa ...” eh, tawanya pecah membahana.


Pletak, lagi aku menyentil dahinya.


“Ish Kakak, aku kan pernah lihat isian punya Kakak,“ akunya jujur, sambil menggosok dahinya yang baru saja aku sentil.


“Hah?? Kapan??” teriakku, kaget dong. Kapan dia nyelonong, mengobrak abrik segala privasiku?? Nih anak minta dipites kali ya, ya sih dia memang suamiku, tapi kan?? Ah ya sudahlah, sulit kujelaskan dengan kata.


“Ada deh,“ jawabnya, tambah membuatku kesal, dan gemessss. Ish nih anak, kalau ada di rumah bikin heboh, kalau gak ada dirumah bikin sepi. Bawaannya pengen nyentil aja ni tangan.


“Lagian, darimana kamu punya uang buat beli baju dan teman - temannya??” tanyaku heran.


“Ehhheee ... itu gaji aku selama aku kerja Kakak ...” jawabnya bangga,


“O ya?? Wawww ... aku tersanjung Zain, makasih ya??” ada rasa haru di hatiku, si bocah perhatian juga sama aku, heu.


“Zain??” panggilku, setelah suasana mereda, entahlah, malam ini, kami jadi sangat banyak bicara satu sama lain, bisa tertawa bersama Zain, seketika membuatku lupa pada masalah yang sedang kuhadapi, masalah pekerjaan, dan masalah yah ... kalian tahulah, si Udin.


“Apa Kakak??” dia menghadapkan wajahnya ke arahku, ish ... imutnya dia, ck.


“Kamu mau masuk kelas tiga kan??” tanyaku


“Iya Kak, kenapa emangnya?” tanyanya datar.


“Kamu mau melanjutkan kuliah dimana?? Atau kamu punya cita - cita lain??” tanyaku, udah kayak emak nanya anaknya aja, huuuhhh ...


“Zain gak akan kuliah Kakak,“ akunya sambil menerawang.


“Ish ... Zain, jangan bercanda“ aku mengerutkan dahiku.


“Serius Kakak, Zain mau jadi suami yang baik aja buat Kakak,“ jawabnya sambil merunduk malu - malu, dan ... tahu kan?? Dia gemetaran. Hish...


“Ya ya ya, suami yang baik itu yang seperti apa Zain??” Aku kembali bertanya sambil menahan tawa, melihat ekspresinya.


“Yang bisa bantuin Kakak, nyapu, ngepel, masak, sama nyuci baju“ jawabnya, seriusly???? Itu muka polos amat jawab kayak gitu, ampun dah, semoga dia cuman bercanda.


“Zain, suami yang baik menurut versi kamu seperti itu ya??” tanyaku menatapnya lekat.


“Iya lah,“ jawabnya PD.


Aadddduuuhhh gustiiii ... gini amat rasanya punya suami rasa anak, eh rasa adik.


“Zain, kamu bilang mau melindungi aku kan??” tanyaku lagi, makin gemesh.


“Iya lah,“ lagi, jawaban yang sama seolah tanpa beban banget sih hidup ni anak.


“Gimana cara kamu melindungi aku Zain??” tanyaku lagi, makin penasaran.


“Ya gini caranya,“ jawabnya sambil memelukku, wait, dia memelukku.


Seketika aku mematung, bahkan menahan napasku, berani amat ni bocah.


“Zain, kamu apa-apaan sih??” Aku melepaskan pelukannya.


“Tadi, Kakak bilang mau tau cara aku melindungi Kakak,“ seriusly?? Ni anak lugu amat.


“Iya lah, iya“ jawabku sambil berdiri “Gimana kamu aja, hoooaaammm“ Aku menguap, tanda mata sudah tak bisa menahan rasa kantuk.


Treekk ...


Tiba - tiba lampu padam, keadaan menjadi gelap gulita seketika.


“Hah?? Zain?? Kok gelap??” Aku memutar tubuhku.


“Huaaaaaa ... Kakaaaakkkk ...Tolooonnggg ... Zain takut gelap!“ teriaknya sambil meronta, menggapai tanganku. Akupun berusaha meraih tangannya, ish ... dia terasa sangat gemetaran sekali. Katanya mau jadi pelindungku, nyatanya sekarang malah aku yang melindungi dia ck.


Bersambung.....


Readers... jangan lupa dukungannya yaaaa.............