
“Kalian, kenapa ada disini??” tanyaku akhirnya.
“Kami sedang berolahraga kak” jawab Cindy.
“Oh, begitu ya, kamu Zain lagi apa disini??” tanyaku pada si bocah, yang dari tadi hanya cengar-cengir, mungkin merasa bangga karena sedang di apit dua ABG cantik.
“A aku, aku lagi berteduh kak“ jawabnya agak gemetar.
“Oh ya udah lanjutkan!!” jawabku sambil berlalu, merasa jengah, karena merasa tidak di hargai, aku udah capek-capek, mau membimbing dia, supaya semangat lagi, eh si bocah malah asik-asikan diem di bawah pohon rindang sama gadis-gadis, gak sopan.
“Kakak, tunggu!!“ Zain berusaha mengejarku, tapi aku mempercepat gerakanku untuk terus berlari.
“Kakak, tungguin aku, huh ... huh ... huh ... “ terdengar Zain mulai ngos-ngosan, tapi masih tetap mengejarku.
“Gak!!!” jawabku sambil terus berlari.
“Kakak, aku capek!!! “ teriaknya tepat di belakangku.
“Biarin!” teriakku, biar si Bocah tau rasa, tadi aku yang ngejar-ngejar dia gak jelas, sekarang, biar dia yang ngejar-ngejar aku.
“Kakak, kaki aku sakit!!“
Bruuukkkk ...
terdengar suara orang jatuh,
Aku segera memalingkan wajah, memutar tubuhku.
“Ya ampun Zain, kamu gak apa-apa??” tanyaku, mencoba membangunkan Zain yang sudah terbaring di tanah, sambil memegang kakinya.
“Sakit kak“ jawabnya sambil meringis.
“Ya ampun, maafin aku, aku gak sengaja, sini bangun, aku bantu ayo, satu dua tiga hupt“ Aku membantu Zain, dengan memeluk tubuhnya dari belakang, mencoba membuatnya berdiri.
“Akhirnya aku bisa di peluk kakak hhii“ terdengar suara Zain terkikik.
“Apa?? kamu bohongin aku??!” sentakku, sambil melepaskan pelukanku, dan seketika
Bbbrruukkk ....
Tubuh Zain kembali tersungkur ke tanah.
“Ish ... Kakaaaakkkk!!!” Zain berteriak, tapi aku tetap berlalu.
“Kakak, maafin aku, jangan tinggalin aku kak!!!hhuuhh hhuuhh hhhuuhh“ Zain terus mengejarku sambil ngos-ngosan.
“Aku rela di hukum!! asal Kakak jangan marah lagi!” teriaknya.
“Aha!” seketika senyumku mengembang, lalu menghentikan langkahku, memutar tubuhku, memperhatikan wajah putihnya, yang sudah memerah,karena sengatan matahari.
“Oke, hukumanmu sangat mudah“ jawabku sambil menuntun tangannya.
“I iya kak“ jawab Zain tertunduk.
“Lihat sini!! Tangan simpan di pinggang!!” perintahku, dan Zain mengikutinya dengan malas-malasan.
“Jangan malas, ayo semangat!!!“ teriakku membentaknya.
“I iya Kak“ Zain terlihat pasrah dengan perbuatanku.
“Ah, tangannya bukan di pinggang, tapi dilutut, iya simpan tanganmu di lutut seperti ini, lalu putarkan ke kiri, tiga kali ke kanan tiga kali, seperti ini“ Aku menggerakkan lututku, yang otomatis, tanpa kusadari bokongku juga ikut bergerak.
“Satu, dua, tiga“ aba-abaku.
“hhiiihhhii“ terdengar suara cekikikan Zain dari belakangku, aku memutar tubuh, lalu menoleh kearahnya.
“Kenapa ketawa?? ada yang lucu??” tanyaku, heran.
“Ti tidak Kak“ jawab Zain menunduk.
“Ya udah sekali lagi, satu dua tiga“ Aku kembali memberi aba-aba.
“Bhaaahha” kali ini tawa Zain pecah.
“Kenapa kamu??” tanyaku.
“I itu,“ Zain menunjuk bagian bokongku.
“Hah?? kenapa?? “ tanyaku panik, sambil meraba bokongku.
“Celana Kakak Sobek, waktu gerakan memutar tadi, bhhaaaa“ tawa Zain pecah seketika.
“Appppaaaaaa???? Kamu di hukum!!” teriakku sambil berusaha menutupi celanaku, yang katanya sobek, segera ku buka jaket, dan mengikatnya di pinggang, hingga menutupi bagian celana yang sobek itu.
“Kakak, aku di hukum terus sih??” Zain protes.
“Gak ada protes, cepetan!!!” teriakku.
“Satu dua, satu dua!!!” teriakku memberikan aba-aba, sambil menikmati lelehan ice cream rasa coklat, di bawah pohon rindang, dengan angin yang sepoy-sepoy.
Sementara Zain, memegang kedua telinganya dengan tangan yang menyilang, dengan kaki kiri di angkat ke atas.
“Ish ... Kakak!! dasar istri Dzalim!!!” teriaknya, sambil menurunkan kaki.
“Ya ya ya, sekali lagi protes, aku tambah hukumannya, ayo cepetan angkat kakinya, satu dua, satu dua!!! Eh, kok ice creamnya cepet banget melelehnya sih ??eeemmmhhh enak!!!” slurrrrpppp ...
Bersambung........................
Happy weekend guys.....di hari minggu yang cerah ini, pasti sebagian dari para readers, ada yang masih dalam mode rebahan ya??? Yang sabar yaaa....semoga wabah copid-19 ini segera berlalu.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, buat Kakak Yas, dan Dede Zain yes...