TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Positif


“Semua ini pasti gara gara kamu!! Iyakan!! Sudah kubilang, jangan berani-beraninya menyakiti putriku!!” sayup terdengar bentakan suara Papah, aku mengerjap, mencoba menguasai diri, sempat kuingat, terakhir kali aku tadi pingsan, karena pusing dan rasa mual yang mendominasi tubuhku.


“Oh ho!! Besan!! Kenapa kamu selalu menyalahkan setiap keadaan yang menimpa menantuku pada putraku??” lagi, terdengar suara Pamer, yang tengah membela putranya.


Kupaksakan diri untuk membuka mata, terlihat semua orang sudah berkumpul di kamarku.


Papah, Mamah, Pamer dan juga Mamer, tak lupa si Bocah tukang bohong yang kudengar sudah di hakimi Papah sejak tadi, tengah duduk menunduk di atas kursi sofa.


“Ma maaf Papah” Zain mencengkran ujung kursi, terlihat tangannya bergetar, mungkin takut diomeli Papah lagi. Rasain, suka bohong sih.


“Kamu apakan anakku sampai pingsan begini??” lagi, Papah mengintimidasi Zain.


“Ti tidak Papah, aku gak ngapa-ngapain Kak Yas kok Pah, tadi, tiba-tiba Kak Yas pingsan” jelas Zain semakin ketakutan. Entah takut karena khawatir melihatku pingsan? Atau takut Papah akan nyerocos ngomel? Entahlah.


“Papah ...” Aku memaksakan diri untuk bangun.


“Kakak!!” Zain berlari menghampiriku.


“Yas, kamu gak apa-apa??” Mamah dan Mamer berebutan memelukku.


“Yas gak apa-apa” jawabku menggeleng, memaksakan diri untuk tersenyum, padahal sungguh kepalaku terasa amat berat.


“Kakak, kenapa pingsan?? Hum?? Kakak tau? Aku begitu cemas” Zain menggenggam tanganku.


Belum aku menjawab, tiba-tiba ...


 Tok ... tok ...tok ...


Terdengar suara pintu kamar di ketuk, semua orang menoleh kearah sumber suara.


Papah beranjak menuju pintu.


Kkkrriiieett ... ( Pintu dibuka)


“Dokter Jaka, silahkan masuk!” seru Papah, lalu menggandeng tangan Dokter jaka, Dokter pribadi Papah.


Dokter Jaka tersenyum, lalu berbasa-basi pada semua orang, kemudian mendekatiku.


“Yas, kamu kenapa??” tanyanya, lalu meraba dadaku, menempelkan stetoskop di atas dadaku.


“Kepalaku pusing, dari pagi aku merasa mual” jelasku, menjelaskan keluhan yang aku rasakan.


“Jangan sentuh Kak Yas!!” tiba-tiba Zain histeris, melepaskan pegangan tangan Dokter Jaka.


“Loh?? Sayakan hanya mau memeriksa Yasmin” Dokter Jaka tersenyum, Dokter tampan, masih muda, dengan postur tubuh proporsional.


“Ya tapi, jangan pegang-pegang dadanya” Zain melindungi bagian dadaku dengan memelukku.


“Loh?? Kalau gak boleh dipegang? Bagaimana cara saya memeriksanya??” tanya Dokter Jaka yang tampak sabar.


Zain terdiam.


“Heh, Zain sebaiknya kamu minggir dulu, biarkan Dokter memeriksanya” perintah Papah.


Zain memundurkan langkahnya, memberi ruang pada Dokter Jaka untuk memeriksaku.


“Tapi jangan di raba-raba kayak gituh!!” Zain memperingati Dokter Jaka, tapi yang di peringati malah tersenyum, lalu mengangguk, seolah memahami isi hati Zain.


Dokter Jaka melanjutkan pemeriksaannya padaku. Dia kembali menyentuh dadaku, dan mulai memeriksa mata dan menyuruhku untuk menjulurkan lidahku.


Aku menuruti instruksi Dokter Jaka.


“Kapan terakhir kali menstruasi??” tanya Dokter Jaka, sudah kuduga pasti pertanyaan itu yang akan muncul.


“Emh, sekitar sepuluh hari yang lalu harusnya aku sudah menstruasi, tapi sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda untuk datangnya menstruasi, kenapa Dok??” tanyaku menatap Dokter Jaka dengan perasaan yang berkecamuk.


“Sudah di cek menggunakan testpack??” tanyanya lagi, Dokter Jaka seperti faham, jika sebelumnya aku sudah menduga jika aku sedang hamil.


“Emh, belum” jawabku singkat.


“Sebentar Dokter, apa menantuku sungguh sedang hamil?? Kenapa Dokter bertanya tentang testpack??” tanya Mamer antusias, sementara para Papah menatapku lekat.


“Iya Dokter, apa Yasmin hamil??” Mamah tak kalah heboh menimpali pertanyaan Mamer.


“Ini baru perkiraanku saja, untuk lebih jelasnya, silahkan periksakan Yasmin ke Dokter kandungan, atau untuk sementara bisa cek dulu dengan menggunakan testpack” Jelas Dokter Jaka sambil tersenyum.


Sementara itu, kulihat si tukang bohong memundurkan langkahnya kepojokan, sambil menutup mulutnya, lalu meraih ponselnya, dan mengotak atiknya, kenapa dia?? Lagi chatingan sama Cindy?? Atau mau update status kalau aku di duga hamil?? Terserah.


“Ya sudah Dokter, terimakasih banyak karena sudah mau berkenan datang kesini untuk memeriksa Yasmin” Papah kembali menggandeng tangan Dokter Jaka, setelah percakapan singkat mereka mengenai kondisiku.


“Sama-sama Pak, kalau begitu, saya permisi dulu ya” Dokter Jaka memanggutkan kepalanya setelah berpamitan, lalu beranjak menuju luar di antar oleh Papah.


Sementara di dalam kamarku, para Mamah tengah heboh akan kabar yang belum jelas ini.


“Besan, kalau cucuku sudah lahir, aku yang akan memberinya nama!” seru Mamer.


“Tidak bisa besan, harus aku yang memberinya nama” seperti biasa Mamahku akan selalu ngeyel.


“Ish ... mana bisa begitu?? Aku juga ingin memberi nama pada cucuku” Mamer merajuk.


“Aku juga berhak memberinya nama” Mamah makin ngeyel.


Sementara Pamer hanya menggelengkan kepalanya.


“Mamah! Papah! Kalian keluar kamar dulu! Biarkan aku dan Kak Yas yang memberi nama untuk anak kami, ah Papah juga keluar sana” Zain menuntun tangan para orangtua satu persatu mengantarkannya keluar kamar.


“Zain!! apa apaan kamu?? Berani kamu mengusirku??” Mamah menghentakkan tangannya, melepaskan pegangan tangan Zain.


“Aku sangat berkepentingan, dia anakku yang sedang mengandung cucuku!!” teriak Mamah.


“Ya ampuunn kenapa orangtua susah sekali di bilangin sih??” Zain mengacak rambutnya.


“Dia bukan hanya cucu Mamah, tapi juga anakku, aku yang mencetaknya, sudah keluar dulu” Zain kembali menggeret para Mamah, sementara Pamer sudah dengan suka rela keluar kamar dengan sendirinya.


“Awas kamu Zain” Mamah mengacungkan jari telunjuknya.


“Iya Mamah, keluar dulu yah” Zain menutup pintu setelah semua orang pergi karena di usir dari kamarku.


Aku memutar kedua bola mataku malas, masih sangat kesal pada Zain.


“Kakkkaaaaakkk ... aku harus apa?? Aku sangat bahagia” Zain mendekatiku


“Cih!” Aku berdecih.


“Muach ... muach ... muach ...” Zain menghujaniku dengan ciuman.


“Zain, semuanya masih belum pasti, kita belum cek kehamilannya” jelasku.


“Tenang Kakak, sebentar lagi Kakak akan di cek” Zain menaik turunkan alisnya.


“Maksudnya??” tanyaku bingung.


“Zaiiinnn ada kiriman!!” tiba-tiba terdengar lengkingan suara Mamah dari luar.


“Nah, itu dia, kirimannya sudah datang” Zain segera beranjak dari tempat tidur, membuka pintu, dan mengeluarkan kepalanya saja.


Terlihat Mamah menyodorkan bungkusan kotak, entah isinya apa?. Jadi dia tadi ngotak ngatik HP buat pesan online.


“Ayo dicek dulu Kak” Zain membuka bungkusan kotak tersebut, sementara aku hanya terus memperhatikannya.


“Tarrraaaa ... “ Zain mengacungkan isi dari dus tersebut.


“What!?? Zain apa ini?? Ini testpack?? Kenapa banyak banget??” tanyaku bingung.


“Biar yakin Kak, ayo di cobain” Zain membuka sepuluh testpeck dengan merk yang berbeda.


“Satu aja Zain” rengekku.


“Semuanya Kak, biar akurat” terlihat testpack yang di pegang Zain bergetar.


“Kamu kenapa gemetaran Zain??” tanyaku bingung.


“A aku grogi Kak” jawabnya.


“Grogi kenapa??” tanyaku lagi.


“A aku akan jadi Ayah” terlihat getaran di tangannya semakin menjadi.


“Cih, lebay kamu” Aku meraih semua testpack yang di genggam Zain, lalu berlalu memasuki kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, aku mengikuti petunjuk cara menggunakan testpack dari cangkang testpacknya, karena ini pertama kali, jadi aku sama sekali tidak bisa menggunakannya.


Deg, deg, deg ...


Beberapa menit, aku menunggu hasil testpacknya, masih belum terlihat garis duanya. Aku memejamkan mata. Kemudian membukanya kembali. Terlihat jelas dua garis merah di sepuluh testpacknya.


“Kakak!! kenapa lama sekali??” teriak Zain dari luar.


“Hmmhhtt ...” jawabku, masih terbawa suasana, antara haru, senang, dan bahagia. Aku akan menjadi Ibu.


“Kakak!! cepetan keluar, aku mau lihat!!” lagi terdengar teriakannya.


“I iya” jawabku.


Kkrriiieettt ... (Pintu kamar mandi dibuka)


“Bagaimana hasilnya??” tanyanya terlihat gugup.


“Ini“ Aku menyodorkan sepuluh testpack pada Zain, Zain menerimanya.


“Apa ini?? Dua garis merah artinya Kakak positif?? Kakak hamil??” teriak Zain histeris.


Aku mengangguk, lalu memeluk Zain, aku begitu bahagia.


Lama pelukanku, tapi tidak di respon.


“Zain??” panggilku, karena merasa tidak mendapatkan respon.


“Zain??” lagi aku berusaha mengguncang tubuhnya.


“Zain??” ku lepaskan pelukanku.


Gubrrraaaakkk ...


“Zain!!! Kenapa kamu malah pingsan sih?? Repotkan jadinya aku yang harus ngangkatin kamu!!! Huuuhhh ... Bocah!!!”


Bersambung .................


Seribu dua ratus delapan puluh lima word guys ... lanjutin besok ya .... gimana keseruan pasutri kocak ini, dalam menghadapi kehamilan Kakak Yas.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa ... like, komentar, bintang lima dan juga vote sebanyak banyaknya.


Follow juga akun IG author yaaa ( Teteh_neng2020) karena author, menjawab sebagian pertanyaan readers yang ada di kolom komentar, di instagram, silahkan di cek, mungkin pertanyaan readers, ada yang author jawab di sana. author tunggu yaaa... Makasiiihhhh .....