
Aku mematut diriku di cermin, baju gamis dengan motif bunga-bunga berwarna pink peach, tau kan??? Itu baju pemberian pertama dari suamiku Zain tengah aku gunakan sekarang, anehnya baju ini selalu pas di badanku. Ku edarkan pandanganku di sekeliling rumah ini. Ada rasa syukur yang tak terukur muncul dari dalam sanubariku. Nanti malam kami mengadakan acara syukuran di rumah kami. Syukuran apa?? Yap ... syukuran ulang tahun kedua putriku Pelangi.
Tak ada hal yang lebih indah dalam hidupku, selain menajadi Ibu dari putriku Pelangi, tak ada hal yang paling menyenangkan di hidupku selain menjadi istri dari suamiku Zain.
Pagi ini, sebelum aku mempersiapkan acara ulang tahun Pelangi, aku berkeliling di rumah ini, rumah baru pemberian dari Zain yang sudah di atas namakan atas namaku. Zain ingin kami pindah kerumah ini, bukan karena kami tidak nyaman di rumah yang dulu, tapi karena rumah ini adalah harga diri Zain sebagai seorang suami, rumah ini adalah bukti dari tanggung jawab Zain pada keluarganya. Yah ... rumah ini tidak sebesar rumahku yang dulu, tapi rumah ini sangat nyaman dan layak untuk kami tinggali. Aku sangat bahagia bisa pindah ke tempat ini. Karena rumah ini di beli dengan uang hasil kerja keras Zain selama beberapa tahun terakhir.
Acara ulang tahun Pelangi, kami rayakan dengan sederhana, sengaja kami tidak mengadakan pesta yang gembar-gembor, bukan karena kami tidak mampu, tapi karena kami sedang mengajarkan sebuah kesederhanaan pada anak kami. Acara hanya di hadiri oleh keluarga dekat, sahabat-sahabatku, sahabat Zain, dan karyawan Zain di kantor, di tambah empat puluh orang anak yatim. Aku juga ingin mengajarkan cara berbagi dengan tepat pada Pelangi.
Sementara itu, kado-kado ulang tahun untuk Pelangi, sudah berdatangan via paket, dan orang yang mengirim kado ulang tahun dengan berlebihan itu, pastinya adalah kedua neneknya. Dan aku amat bersyukur, memiliki orangtua seperti mereka. Mereka sama sekali tidak memberatkan bagi rumah tangga kami. Kami sangat banyak belajar dari ketegasan dan kasih sayang mereka dalam mendidik Pelangi.
Kue ulang tahun untuk Pelangi, aku sendiri yang membuatnya, senang rasanya. Aku bisa menggunakan kemampuanku, untuk acara penting putriku.
“Mommy?? Udah siap-siap?? Kenapa malah bengong di luar?? Lagi nungguin siapa??” suara itu membuyarkan lamunanku, aku menoleh kebelakang, di sana terlihat suamiku tengah tersenyum padaku. Dan aku membalasnya.
“Acaranya masih beberapa jam lagi” jawabku.
“Kenapa??” tanyanya sambil mengelus pipi kiriku.
“Tidak” jawabku memalingkan wajah, karena mataku sudah berkaca-kaca, aku terlalu bahagia. Meskipun selama ini, aku selalu menjadi wanita perkasa, tapi kadang, adakalanya hatiku juga bisa rapuh dan mudah tersentuh, terutama jika itu tentang Pelangi.
“Mommy kenapa??” Dia semakin mendekatiku, meraih pinggangku, lalu menempelkannya ke tubuhnya.
“Aku, hanya terlalu bahagia, rasanya baru kemarin aku melahirkan Pelangi, tapi sekarang Pelangi sudah dua tahun aja” dan air mataku benar benar luruh di pipi.
“Aku juga gak nyangka, rasanya baru kemarin kita pergi bulan madu, tapi sekarang tiba-tiba aja sudah ada Pelangi” Dia selalu begitu, selalu tahu bagaimana cara menghibur istrinya yang kadang cengeng ini.
“Ish ...” Aku menyiku perutnya, sementara dia malah mengeratkan pelukannya.
“Terimakasih, karena sudah mau mendampingiku, aku bersyukur karena memiliki kalian” bisikan kata-katanya, semakin membuatku terharu.
Aku tidak bisa menjawab apapun lagi, aku hanya bisa menangis, lalu semakin terisak.
“Mommy, Pelangi sudah di sapih bukan??” tanyanya tiba-tiba melepaskan pelukannya, lalu meraih wajahku, menatap wajahku dalam. Tatapan mesum! Ck.
“Ish ...” Aku berlalu meninggalkannya sendirian yang tengah terkekeh menutup mulutnya sendiri.
Malam hari ...
Acara ulang tahun putriku meskipun sederhana, tapi sungguh meriah, semua orang sudah hadir. Aku sengaja tidak mengadakan acara tiup lilin. Selain karena Pelangi belum bisa tiup lilin, juga karena aku tahu betul, islam melarangnya. Aku dan Zain hanya memotong kue ulang tahun Pelangi, lalu membagikannya pada anak-anak yatim. Mereka terlihat senang sekali. Putriku juga terlihat sangat bahagia, sepanjang acara, dia terus tertawa.
Aku menggendong putriku untuk berkeliling, menyapa para tamu undangan, terutama teman kerja Zain, mereka terlihat sangat antusias sekali.
“Hay Pelangi, lucu sekali”
“Ugh ... gemessshhh deh Pelangi”
“Pelangi ...”
“Ibu, Pelanginya boleh di bungkus gak?? Buat di bawa pulang??”
“Pelangi ... ini hadiah untuk Pelangi”
Dan segala sapaan lainnya. Aku tersenyum dan mengucapkan jutaan rasa terimakasihku pada mereka.
“Ngomong-ngomong, Pak Zain ngasih hadiah ulang tahun apa buat Dede Pelangi??” tiba-tiba Defa bertanya menatap Zain.
“Eeemmhh ... semuanya dong” jawabnya sambil tersenyum.
“Semuanya apa Pak??” tanya Hafsa polos.
“Ya seluruh jiwa dan ragaku, aku persembahkan untuk istri dan anakku”.
“Cciiieeee ... Bapak, ekkhheeemmm ...” tiba-tiba saja suasana menjadi riuh.
“Kalau dari Ibu, apa hadiahnya??” tanya Ida, mereka mulai kepo ternyata.
“Eeemmmhh ...” Aku menunduk, mengulum senyum. Malu mau mengatakan, apa hadiah dariku untuk Pelangi.
“Apa Bu?? Pasti special banget ini mah” tanya mereka tak sabaran.
Zain ikut menatapku, mungkin dia juga ikut penasaran.
“Apa ini??” dengan cepat Zain menyambar benda itu, lalu menatapnya tak percaya, dia membelalakan mata sambil menutup mulutnya tak percaya. Sebuah benda alat test kehamilan, dengan tanda garis dua berwarna merah.
“Mommy ... ini serius??!!” teriaknya sambil jingkrak-jingkrak gak jelas, hingga mengundang perhatian dari tamu yang lainnya, termasuk dari para orangtua. Mereka mendekati kami.
“Ada apa ini??” Mereka saling tatap, dan aku tersenyum.
“Biar aku yang jawab!!” Zain merentangkan tangannya “Huuuhhh ... Hhaaaahhh ...” Dia menarik napas panjang.
“Pelangi ... akan punya adik!!!! Yyyyeeeaaaayyyyy!!!”.
“Hah??? Apppaaahhh??? Nak kamu hamil lagi??” tanya Mamah tak percaya, aku mengangguk.
Seketika, aku kembali mendapatkan pelukan dan ucapan selamat dari semua orang. Malam ini aku begitu bahagia.
“Zain, kamu harus siap-siap pingsan lagi kalau Yas lahiran, hahaha” celetuk Papah di ikuti tawa semua orang.
“Ish ... Papah, gak lah, sekarang aku sudah jadi Ayah yang tangguh”
“Hebat juga kamu Zain” Papahku menepuk bahu Zain, sambil tertawa.
“Ya jelas, Zain gituh” jawabnya sambil mengedikkan bahunya.
Malam ini, suasana di dominasi oleh aura bahagia. Kami hanya manusia biasa, yang tidak akan pernah luput dari suka dan duka. Sabar, dan syukur adalah kunci dari hidup kami, kini dan selanjutnya. Tak ada hal yang lebih indah selain dari dua hal itu. Sabar dan Syukur. Semoga hingga nanti kami tetap konsisten dengan segala prinsip dalam hidup kami.
.
.
.
Epiloge
“Cih, ternyata Kak Yas malah hamil lagi toh??” seorang perempuan terlihat berdecih sendirian, sambil memegang minuman di pojokan.
“Kenapa sih?? Susah banget buat misahin mereka?? Kurangnya aku apa coba?? Aku ini Cindy Atmadja, tapi kenapa aku selalu gagal??” racaunya sambil ngacak-ngacak tanaman hias yang ada di sampingnya.
“Kenapa Zain tidak pernah menyadari? Kalau aku sudah tergila gila sama dia??”.
“Ya baguslah, kalau Mbak Cindy sadar” tiba-tiba suara seorang laki-laki tampan di belakangnya menggema, membuatnya mau tidak mau harus menoleh. Dan setelahnya perempuan itu hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali. Terlihat Purnomo tengah menggunakan pakaian casualnya. Dia terlihat berbeda.
“Sadar apa??” tanya Cindy penuh emosi.
“Sadar kalau Mbak Cindy itu gila” jawabnya sambil berlalu.
“Appppaaaahhhh??? Sial!!!”.
“Bahkan Imam pun sekarang, sudah tidak mau menyukaiku lagi. Hiks ... catetin dong, aku ini Cindy Atmadja, yang pantrang menyerah lho ... hiks ...”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.