TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Badut


Hari ini, aku berangkat ke kantor dengan wajah yang sangat lesu, tubuhku lemas gara-gara kurang istirahat. Kalau ada yang nanya kenapa?? Jawabannya karena semenjak Kak Yas hamil, tingkahnya menjadi semakin aneh. Huh ... perempuan hamil memang menakutkan bagiku.


Bagaimana mungkin aku tidak menyebut ini menakutkan?? Karena semua hal yang di lakukannya selalu di luar kebiasaan, setiap malam kerjaannya hanya terus merengek meminta sesuatu yang tidak aku mengerti. Kadang minta makanan yang aneh-aneh, kadang juga memintaku untuk melakukan hal yang menyebalkan. Seperti kayang di jam dua pagi. Siapa yang tidak sebal dengan perlakuan semacam itu.


“Huuhhh ... “ Aku menarik napas, kemudian menarik handle pintu ruangan kerjaku.


“Good morning ... “ sapaku dengan lemas, dengan mata yang terkatuk-katuk.


“Moorrnniinnggg ... “ Pak Ruben melambaikan tangannya.


“Ya ampuuunnn Zain kita, kenapa wajahnya lesu sekali??” tanya Pak Ruben, mendekatkan wajahnya pada wajahku.


“Pasti habis tempur ya??” Bu Ida menoleh kearahku sambil terkekeh.


“Iyalah, secara mata panda Zain udah item banget gituh, hhii” Tyas dan Rina ikut tertawa.


“Bukan ... “ jawabku ngasal.


“Lalu kenapa??” Pak Ruben semakin kepo.


“Kak Yas semenjak hamil, jadi sangat senang menyiksaku” jawabku.


“Loh?? Kamu di pukul Zain??” Pak Ruben memundurkan langkahnya sambil bergidik ngeri.


“Tidak Pak” Aku menggeleng.


“Lantas??” Rina, Tiyas, dan Bu Ida kompak.


“Kak Yas sering ngidam yang aneh-aneh, ini seperti penyiksaan bagiku” jelasku, sambil terus menarik napas.


“Hah?? Hahahaha” Mereka tertawa bersama.


“Sayangku, Rina, nanti kalau kamu ngidam jangan kayak gitu ya beb??” Pak Ruben menggandeng pundak Rina kemudian duduk di kursi masing-masing. Sementara Tiyas dan Bu ida, hanya memutarkan kedua bola matanya, lalu duduk di kursinya.


Dan akupun, mulai melakukan aktifitasku seperti biasanya, menyiapkan mereka minuman, membersihkan ruangan, setelah selesai aku memfoto copy berkas, atau mengantarkan file, kemanapun mereka menyuruhku.


Ddrrrttt ... dddrrttt ... dddrrttt ...


Suara ponselku berbunyi, siapa lagi ini?? Jangan-jangan Kak Yas ngidam yang aneh aneh lagi?? Seperti misalnya menyuruhku terjun bebas ke sungai Nil mungkin?? Hhhiihh ... aku bergidik ngeri, lalu meraih ponselku dari dalam saku celana yang kugunakan.


Terlihat dari layar ponsel, ternyata Imam yang menghubungiku, dua kawanku itu pasti sedang bersama.


“Hallo, Assalamu’alaikum?” sapaku pada makhluk di seberang sana.


“Wa’alaikumsalam, Zain? Lagi apa kamu??” yang menelpon Imam, tapi yang terdengar suara Budi. Fiks mereka sedang bersama.


“Lagi kerjalah” jawabku malas.


“Heeyyy ... kenapa suaramu seperti orang malas begitu?? Apa Kakak cantik membuat ulah padamu??” tanyanya.


“Tidak, hanya saja aku sedang pusing” jawabku, mengacak rambutku dengan prustasi.


“Loh?? Kenapa??” tanya mereka kompak.


"Apa kamu memerlukan bantuan kami??”


“Tidak, ini urusanku sendiri” jawabku.


“Ahahhaa ... calon Pamud galau ginih, kamu pasti butuh hiburankan??”.


“Apaan Pamud??” tanyaku bingung.


“PAPAH MUDA hahahaha” tawa mereka membahana kompak, ku jauhkan ponsel dari telingaku.


“Ish ... terserah kalian!”


Truth ...


Telpon kumatikan, pusing mendengar ocehan mereka yang tidak membantu.


Hari ini pekerjaan tidak terlalu menggunung, jadi, aku bisa sedikit santai. Ku tenggelamkan wajahku di meja, sayup mataku mulai tertutup. Rasanya sungguh ngantuk sekali.


“Zain??” Kurasakan ada yang menyentuh punggungku, segera aku membuka mata, ternyata aku sungguh tertidur.


“Kamu ketiduran??” tanya Bu Ida.


“Ibu, maaf” Aku menunduk.


“Gak apa-apa Zain, lagian kerjaan kamukan cuman sedikit hari ini, santai saja” Bu Ida tersenyum lalu meraih gelas di sampingku, menuangkan air putih lalu duduk di kursi yang bersebelahan denganku.


“Zain, kamu harus sabar yah, meskipun kamu lebih muda dari istrimu, tapi, percayalah, sudah kodratnya perempuan, ingin di manja dan di perhatikan oleh suaminya. Apalagi sekarang istrimu sedang ngidam, kamu harus ekstra sabar Zain” Bu Ida tersenyum, mengelus punggungku lembut.


Aku mengangguk “Iya Bu, aku pasti bisa” ku bulatkan tanganku dan mengacungkannya.


“Aku tahu, kamu sangat mencintai Kakak Yas mu itu kan?? Jadi, kamu harus bisa lebih tabah lagi dalam menghadapi Kak Yas mu itu” lagi, Bu Ida memberiku wejangan.


“Zain, ada tamu, katanya mau ketemu kamu” tiba-tiba Rina datang  dan memberitahuku.


“Siapa??” tanyaku menatap Rina.


“Gak tau, cowok dua orang” jawab Rina sambil kembali berlalu.


“Temuin dulu, mungkin itu temanmu” Bu Ida tersenyum, sambil berlalu menuju ruangan kerja.


Akupun ikut berdiri, dan menghampiri tamu yang belum aku ketahui.


“Haaayyyy Pamud!!!” Budi merentangkan tangannya.


“Ya ampuuunnn ... Zain kita, sekarang sungguh terlihat lesu” Imam tersenyum jahat.


“Bahkan mata pandanya hampir mengenai pipi hahaha”.


“Ish ... diam kalian” Aku mengibaskan tangan, kemudian berjalan menuju kantin, duduk di antara bangku kantin, di ikuti dua sahabatku.


“Tenang kami datang kesini untuk menghibur Pamud yang lagi galau” Budi melipat tangannya di dada.


“Taaaarrraaa ... “ Imam menunjukkan sebuah tas yang dari tadi di gendongnya.


“Apa itu??” tanyaku bingung, menggaruk pelipisku yang tidak gatal.


“Ayo Mam, keluarkan semua hiburan kita hari ini dari dalam kantong ajaibmu” Budi mengibaskan jarinya.


“Jreng ... jreng ... jreng ... Tarraaaa ... “ Imam mengeluarkan benda-benda aneh dari dalam tasnya.


“Sebentar yaaaa ... “ Imam terlihat krasak-krusuk menggunakan kostum anehnya, yang di halangi Budi, tak lama kemudian ...


“Taaarrrraaaa ...”


“Bahhhaaahhhaha” Aku tertawa terpingkal-pingkal, kala melihat Imam berubah menjadi Badut. Perut buncit, wig keriting berwarna ungu, dan hidung bulatnya. Kemudian dia berjoget kesana kemari.


“Hahahahaha ... kalian luar biasa“ Aku mengacungkan jempolku.


“Udah dong Zain, jangan galau terus, mau jadi Pamud harus bahagia” Budi dan Imam kembali duduk.


“Aku bahagia, hanya saja aku ngantuk, karena harus menuruti keinginan Kak Yas yang aneh-aneh, di tambah lagi, sekarang aku memiliki tetangga baru yang gak punya akhlak” jawabku cemberut, ketika mengingat wajah Tina.


“Ish ... apa tetanggamu perempuan?? Apa dia cantik?? Apa dia masih singgle??” tanya Imam dan Budi bergantian.


“Cewek nyebelin, udah punya suami, udah tua” jawabku.


“Uuuuhhh ... bukannya wanita tua itu selalu menggoda Zain??” tanya Imam menaik turunkan alisnya.


“Iya sih ... “ jawabku terkekeh.


“Astaga!! Zain!! jangan liat kebelakang!!” tiba-tiba Imam yang duduk di hadapanku berteriak.


“Kenapa??” tanyaku sambil memutar kepala.


“Jangan lihat ke belakang!!!” kini Budi ikutan berteriak,


“Ada apa sih??” tanyaku bingung.


“Itu ... ada Kakak cantik” teriak Imam sambil menutup mulutnya.


“Ck, semua perempuan di kantor ini memang cantik-cantik, tapi lebih cantikan Kak Yas tuh” Aku mengedikkan bahuku.


“Dasar bodoh!! itu Kak Yas ada di belakangmu”


“Whhhaaaatttt??”


Bersambung ...............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ............... Like, koment, bintang lima dan vote juga,


Follow akun IG author Teteh_neng2020


Terimakasih ...............