TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Bujukan


Tok ... tok ... tok ...


“Zain, buka pintunya dong" Aku mengetuk pintu kamar Zain, mencoba membujuknya.


“Gak Kak, aku gak mau buka pintu kamar sebelum Papah ngizinin aku jadi pemain sepak bola" teriaknya dari dalam kamar.


“Zain, kamu gak boleh gitu, ayo keluar“ Aku masih membujuknya.


“Gak Kak, aku gak mau keluar, aku mau ngurung diri!!!!“ masih berteriak.


“Sampai kapan kamu mau ngurung diri??” tanyaku mulai gemas.


“Sampai batas waktu yang tidak bisa aku tentukan!!” teriakannya semakin keras.


“Zain, kamu jangan kayak anak gadis gitu dong, masa iya kamu cepet ngambek gitu sih??” Aku masih berusaha membujuknya.


“Aku gak mau Kak!”


“Kamu gak mau pulang??? kamu mau disni aja???” tanyaku akhirnya, jengkel juga ngadepin sibocah.


Hening, tak terdengar jawaban apapun, akupun ikut diam,


“Ya udah aku pulang duluan ya Zain!!!!!“


Masih hening, tak ada tanda-tanda Zain mau membuka pintu, akhirnya aku menyerah, kuputuskan untuk pulang, kulangkahkan kaki menuju ruang keluarga, berniat mau pamit sama Mamah dan Papah, tapi belum langkah kakiku genap tiba-tiba ...


“Kakak," panggilan si Bocah.


Aku memutar tubuh, “Hmmhh“ jawabku.


“Maafin Zain ya, tapi Kakak masih mau dukung cita-cita Zain kan??” tanyanya dengan memasang wajah memelas.


“Iya, aku janji, aku akan dukung cita-cita kamu” Jawabku sambil tersenyum.


“Aku sayang sama Kakak“ Zain mendekatiku lalu langsung memelukku, seketika aku mematung, ini adalah pelukan kedua dari Zain, entahlah rasanya aneh saja, meski dia suamiku, tapi ...


“Zain, kapan kamu akan dewasa??” tanyaku tiba-tiba, Zain melepaskan pelukannya.


“Hhmmhh" jawabku sambil memanggutkan kepala.


“Sekarang, kamu mau disini aja, atau mau pulang??” tanyaku.


“Aku mau pulang“jawabnya sambil berjalan mendahuluiku, menemui kedua orangtuanya.


“Mah, Pah, kami pulang dulu ya“ Pamitku, pada dua orangtua yang tengah menikmati sorenya ini.


“Iya, hati-hati di jalan ya Yas, Zain" kata Mamah sambil memelukku, kemudian aku mencium tangan Papah, begitupun dengan Zain,


“Zain, fikirkan ucapan Papah dengan baik,!“ sentak Papah ketika Zain melangkahkan kaki menuju pagar rumah.


Zain menoleh, lalu kembali berlalu “Sampai kapan anak itu akan terus menjadi anak yang manja dan tidak dewasa??” masih sempat kudengar Papah menggumam.


Tiba dirumah, aku memasuki kamarku, kurebahkan tubuhku diatas ranjang, ah ... kenapa hidupku jadi serumit ini??, semua ini gara-gara si Udin, dia yang sudah mengacaukan hidupku.


“Astagfirullah ...” kuusap wajahku, lalu berdiri, aku memasuki kamar mandi, lalu berwudhu, kugelar sajadahku untuk menunaikan shalat ashar, waktunya sudah mau habis.


Aku berdo'a lama selepas aku bersujud, ada yang mengganjal di dadaku, aku bahagia bisa menikah, tapi dengan Zain?? anak itu?? sungguh aku sangat sulit menata hatiku sendiri, rasanya aku ingin sekali menyerah, tapi bolehkah??.


Kira-kira bisakah Zain berubah???.


Sampai kapan aku harus menuggunya berubah???.


Usiaku sudah terus berlanjut, aku juga ingin seperti yang lain, punya suami yang normal, punya anak, menjalani rumah tangga dengan normal.


Zain??? Apa yang harus ku lakukan sekarang??.


Menunggumu??? atau melepasmu???.


Bersambung................


Hay, readers jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa....like, koment positif, rating, dan votenya juga....