TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Zain Ngambek


Menginjak usia kehamilanku yang ketiga bulan, rasanya aku semakin manja dan malas, malas untuk melakukan apapun, bahkan aku jadi jarang mandi. Kalau dulu aku selalu cerewet pada Zain karena dia suka jorok, sekarang malah aku yang jadi terkesan jorok, karena jadi malas mandi. Tapi, karena hari ini hari Minggu, Zain ada dirumah jadi aku memaksakan diri untuk mandi, dan sedikit memoles wajahku. Meskipun sungguh sangat sangat malas.


“Kakak, lagi apa??” Zain memeluk tubuhku dari belakang, kala aku sedang membuat nasi goreng untuk sarapan pagi ini. Aku sebetulnya masih tidak suka dengan bau minyak dan bau bawang. Tapi pagi ini, lagi lagi aku memaksakan diri untuk memasak. Untuk siapa??? Ya untuk suami imutku lah. Hehe ...


“Lagi masak nasi goreng” jawabku dengan pandangan fokus pada wajan.


Dia masih memelukku erat, dengan menenggelamkan wajahnya di tengkukku.


“Zain, geli” Aku merajuk, merasa geli kala napas Zain menghembus pada tengkukku.


“Kakak, masih lama gak??” tanyanya.


Wah ... pertanyaannya mencurigakan ini. Hari minggu dia masih nguel-nguel di tengkukku.


“Masih” jawabku singkat.


Setiap hari minggu, atau hari libur Zain selalu melarang Bi Inah untuk datang kerumah, katanya gak mau kebersamaan kita di ganggu oleh kehadiran Bi Inah. Bi Inah sih setuju aja, lah aku?? Hhhuuuhhh ... entahlah.


Nasi goreng hampir selesai, tapi makhluk segede gentong masih nemplok di belakang tubuhku.


“Zain, awas gerah ini” Aku mengibaskan tangan.


“Gak mau” Dia masih nguel-nguel, ampun deh, dia malah terus menciumi tengkukku.


Tok ... tok ... tok ...


Terdengar suara ketukan pintu


“Zain, siapa itu??” Aku menatap Zain, yang di tatap terlihat amat kesal.


“Siapa sih?? Ganggu aja” Dia menggerutu sambil berlalu hendak membuka pintu.


“Palingan Mamah sama Papah pada kesini” tebakku.


Ah iya, sekarang Mamah dan Papah pindah kerumah yang lebih dekat dengan pabrik teh milikku, katanya sih biar Mamah bisa mudah mengecek pabrik aja, soalnya kondisiku sudah tidak memungkinkan lagi untuk bolak-balik ke pabrik teh. Aku pergi ke toko kue aja, si bocah udah ngomel-ngomel kok.


“Hay Kak Yas” tiba-tiba suara perempuan mengagetkanku.


“Ah, Tina??” ternyata Tina sang tetangga baru yang datang, dengan kue brownies di tangannya, sambil di giring oleh Zain yang cemberut.


“Kak, ini buat Kak Yas” Tina menyodorkan kue yang di bawanya.


“Terimakasih Tina” Aku tersenyum, sambil menyimpan kue dari tina kedalam rak makanan.


“Sama-sama Kak” tanpa di perintah Tina duduk di kursi makan.


“Wah, Kak Yas lagi masak apa??” tanyanya terlihat antusias.


“Aku lagi masak nasi goreng, Tina mau??” tanyaku.


“Mau Kak, kayaknya enak tuh” tanpa malu malu Tina langsung mengiyakan tawaranku.


Aku tersenyum, menyambar piring lalu mengisinya dengan nasi goreng buatanku lengkap dengan telur mata sapinya. Ku sodorkan sepiring nasi goreng itu pada Tina.


“Waahhh enak banget Kak” sorak Tina setelah menyuapkan sesendok nasi gorengnya.


“Terimakasih Tina” Aku tersenyum, sempat kulihat, makhluk  posesifku sedang berdiri di samping meja makan dengan wajah di tekuk. Sambil melirik tajam pada Tina. Entah kenapa?.


“Zain, ayo makan” Aku kembali menyambar piring, untuk sarapan Zain.


“Gak, aku udah gak selera” jawabnya sambil berlalu menuju kamar.


“Suami Kakak kenapa?” tanya Tina menatap kepergian Zain.


“Oh, Zain lagi sariawan aja” jawabku sambil duduk menemani Tina makan.


“Zain,” Aku membuka pintu, dan kulihat suami imutku sedang berbaring di atas kasur.


Dia tidak bergeming, masih cemberut. Aku menghampirinya.


“Zain, makan dulu yah” Aku meraih tangannya.


“Gak!” Dia memalingkan wajahnya.


“Loh?? Kenapa??” tanyaku mengerutkan dahi.


“Kakak!! Jangan pernah nawarin makan orang lain di hadapanku, aku gak suka!!” teriaknya tiba-tiba.


“Loh?? Kenapa??” tanyaku lagi masih belum faham.


“Aku gak suka berbagi makanan masakan Kakak dengan orang lain” eh, apa ini??.


“Loh?? Kok gituh?? Ya aku gak enak, masa kita lagi makan ada orang kerumah gak nawarin??” jawabku berusaha menjelaskan.


“Pokoknya aku gak suka, aku Kak, cuman aku yang boleh makan masakan Kakak” Dia melipat tangannya di dada.


Ck. Ampun deh


“Ah iya, besok aku gak akan lagi nawarin siapapun, ya udah jangan marah lagi ya” rayuku akhirnya, males juga di cemberutin mulu si bocah. Gak berisik, gak seru.


“Janji ya” Dia menjentikkan jari kelingkingnya.


“Iya” Akupun melakukan hal yang sama, menjentikkan jari kelingkingku untuk di kaitkan dengan jari kelingkingnya, sebagai tanda jika aku berjanji. Berjanji tidak akan mengajak orang lain makan bersama jika di hadapan Zain.


“Ya udah, sekarang kamu makan dulu yah” Aku kembali meraih tangannya.


“Kak, kita olahraga aja yuk, kita jalan-jalan, jalan-jalan itu baik bagi ibu hamil lho” ajaknya.


“Iya, ya udah yuk” Aku beranjak mengganti bajuku dengan baju olahraga, begitupun Zain.


Kami berjalan beriringan keluar dari rumah. Berjalan santai dengan tangan saling bertautan satu sama lain, tidak ada yang berniat untuk saling melepaskan.


“Kak Yas!!” tiba-tiba teriakan itu menghentikan langkahku, aku menoleh.


“Ah, Tina?? Mau kemana??” tanyaku, ternyata Tina sudah menggunakan pakaian olahraga juga. Mungkin dia juga akan melakukan olahraga.


“Aku mau jogging Kak, Kakak juga mau jogging??” tanyanya antusias, merasa ada temannya.


“Ah, gak, aku sama suami Cuma mau jalan jalan aja kok” jawabku.


“Oh, ya udah kalau gitu kita barengan aja Kak, gimana” tanya Tina, menatap kami bergantian.


“Eeeemmhh ... “ tahu kan?? Aku sangat bingunglah. Ini makhluk di sampingku udah manyun aja.


“Boleh yah??” tanya Tina lagi, huh ... aku merasa tidak enak, aku melirik Zain, yang dilirik malah memalingkan wajahnya.


“Iya boleh, yuk” Aku memanggutkan kepala.


“Asik! aku jadi ada temennya” Tina memeluk tanganku, lalu menuntunku untuk berjalan.


Sementara itu masih kurasakan tangan Zain semakin erat mencengkramku. Duh ... ngambek dia pasti.


Bersambung ..............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ......


Follow IG author Teteh_neng2020