
“Pah, Zain suamiku“ jelasku.
“Appppaaaaa???!!!!!!” Mamah dan Papah kompak histeris.
“Bicara apa kamu Yas?” Papah masuk kedalam rumah dengan berkacak pinggang.
“Pah, Mah, Yasmin udah nikah sama Zain“ jelasku.
“Zain?? Bukankah kalian batal menikah??” Papah menyeringai.
“Iya Pah, Yasmin batal menikah dengan Zainuddin, dan menantu Papah yang ini, namanya Muhammad Zain“ jelasku sambil menggandeng tangan Zain.
“Tidak!! kamu pasti bercanda, ya kan Yas??” kali ini Mamah yang buka suara.
“Mah, Yasmin beneran udah nikah sama Zain Mah“ Aku memasang wajah memelas.
Tiba-tiba Papah menyambar ponselnya dari dalam saku celananya, entah siapa yang akan beliau hubungi.
“Hallo!!! Meta!!! Kamu dan suamimu datang ke rumahku sekarang juga!!!” Papah membentak orang yang di hubunginya, yang ternyata adalah Tante Meta.
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, aku tahu masalah baru dalam rumah tanggaku akan segera di mulai, ini adalah masalah sesungguhnya bagiku. Aku salah karena tidak memberitahu kedua orangtuaku tentang pernikahanku, siapa sangka jika pernikahanku dengan si Bocah akan bertahan hingga hari ini.
“Kalian duduk!!” Papah menunjuk kursi di ruang tengah, dengan bergandengan tangan, aku dan Zain menuruti perintah Papah, kurasakan tangan Zain begitu dingin. Dan gemetaran, aku yakin dia pasti ketakutan, kala melihat perangai Papah.
Selang tiga puluh menit, Tante Meta dan Om Bayu datang kerumah, kami layaknya narapidana yang akan di sidang di meja pengadilan.
Papah berdiri, sambil mondar-mandir, dengan tangan bertolak di pinggang, Mamah duduk di kursi sambil menutup wajahnya. Aku dan Zain duduk berdampingan, sambil berpegangan tangan, Tante Meta dan Om Bayu pun melakukan hal yang sama denganku.
“Meta!!! apa yang telah kamu lakukan pada putriku?? kenapa dia menikah tanpa sepengetahuanku?? Bukankah aku walinya??” Papah menyeringai, sidang di mulai. Dan kali ini sebagai terdakwa Tante Meta yang pertama ditanya.
“Maaf Kak, saya terpaksa menikahkan mereka atas dasar desakan warga, waktu itu Yasmin terjebak Kak“ jelas Tante Meta, kemudian Tante Meta menjelaskan duduk perkara, awal mula kenapa aku harus menikah dengan Zain.
Papah mendengarkan dengan seksama,
“Lalu, kenapa kamu tidak memberitahuku??” tanya Papah lagi, menatap sepasang suami istri itu, dengan tatapan yang membunuh.
“Maaf Kak, selama ini kalian selalu sibuk dengan urusan kalian sendiri, hingga tak ada waktu untuk mengurusi segala kebutuhan Yasmin, sebagai Tantenya, aku merasa memiliki hak untuk menentukan hidup Yasmin, dan menurutku inilah yang terbaik untuk Yasmin, mereka bahagia dan saling mencintai“ jelas Tante Meta dengan berkaca-kaca, bagiku Tante Meta itu seperti seorang Ibu, jelas, karena dari kecil aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Tante Meta, daripada dengan kedua orangtuaku.
“Terbaik menurutmu?? Menikahkannya dengan bocah ingusan ini??” Papah menunjuk Zain, yang daritadi hanya menunduk.
“Lalu, menurut Kakak yang terbaik untuk Yasmin itu yang seperti apa??” Tante Meta histeris, kemudian langsung di peluk Om Bayu, aku tahu, kini mereka sedang dalam keadaan yang labil.
“Aku akan menikahkan Yasmin dengan pria yang sepadan dengannya!” teriak Papah.
“Pah, Yasmin sangat mencintai Zain“ kini aku buka suara, sudah tidak tahan dengan perlakuan Papah.
“Sa saya juga sangat mencintai Kak Yas Papah, jadi tolong jangan pisahkan kami“ Zain berdiri, lalu berkata dengan lantangnya.
“Cih!! Cinta, kamu!!! Kamu sekarang bekerja dimana??” tanya Papah menunjuk wajah Zain.
“I iya Pah“ jawab Zain gugup.
“Hahahaha ... bekerja?? Itu artinya kamu adalah karyawan rendahan?? kamu memang tidak pantas untuk putriku!” Papah berkacak pinggang.
“Ceraikan Putriku!!!” teriak Papah, yang membuatku langsung memeluk tangan Zain, meminta perlindungan agar dia mau bertahan.
“Kak!! Jangan keterlaluan!” kini Tante Meta ikutan histeris.
“Tidak, Yasmin adalah putriku, kami tau mana yang terbaik untuknya, Papah benar, Zain harus menceraikan Yasmin“ kini Mamah berdiri, lalu mendekatiku, menarik paksa tubuhku dari pelukan Zain.
“Mamah, jangan begini, Yasmin gak mau pisah dari Zain Mamah, tolong“ Aku meronta.
“Yasmin!! masuk kamar!!” teriak Papah.
“Tidak!! Jangan pisahkan kami Papah!!!“ teriak Zain.
“Kakak, sadar, memaksa dua insan yang saling mencintai untuk berpisah itu dosa!!” Om Bayu buka suara.
“Diam kalian!! Yasmin Putriku, aku berhak menentukan jalan hidupnya, kalian pulang! kalian tidak bisa dipercaya!” Papah membentikkan telunjuknya pada Tante Meta dan Om Bayu, mau tidak mau akhirnya mereka angkat kaki dari rumah ini. Menyisakan aku dan Zain yang tengah meronta tak ingin dipisahkan.
“Sini kamu masuk! “ Papah menarik tanganku secara paksa, hingga aku terseret dan mengikuti langkah kaki Papah, Zain meronta mengikutiku dari belakang.
“Kakak!!”
“Zain!!!”
Brrraaakkkk!!!
Pintu kamar di banting setelah aku di paksa masuk kedalamnya, kemudian terdengar pintu di kunci dari luar.
“Kamu!! Pulang kerumah orangtuamu sanah!!” samar kudengar percakapan Papah dan Zain.
“Papah, aku ingin bersama Kak Yas, Kak Yas itu istriku,“ terdengar Zain membela diri.
“Eeeehhhh ... Pulang, keluar dari rumah ini!” tak terdengar suara apapun, meski aku sudah menempelkan telinga di daun pintu.
Bbrrraaaakkkk!!!
Terdengar suara pintu di banting, pasti Zain sudah di tendang Papah untuk keluar dari rumah ini.
“Zain ... “ Aku terisak, tubuhku melorot dilantai, aku begitu mencintai pria imut, yang berstatus sebagai suamiku kini. Aku tak ingin berpisah darinya.
Bersambung .............
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers .....