TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Ketahuan


Setelah tiba di kantor Zain, aku dan Mamer turun dari mobil. Kami berjalan bergandengan tangan menuju kedalam kantor.


“Permisi Mbak, maaf mengganggu, saya mau ketemu sama anak saya” sapa Mamer pada seorang receptionis yang sudah berdiri menyambut kami.


“Iya Bu, kalau boleh tahu atas nama anaknya siapa ya Bu??” tanya receptionis.


“Ah iya Putraku, namanya Zain, Muhammad Zain” jawab Mamah dengan bangga.


“Baik, di tunggu sebentar ya Bu” terlihat receptionis meraih gagang telpon, dan mencoba menelpon seseorang yang entah siapa.


Tak lama mereka berbicara, kemudian receptionis menatap kami bergantian, memperhatikan penampilan kami dari atas sampai bawah.


“Maaf Bu, Pak Zain kerjanya di bagian apa ya??” tanya receptionis tiba-tiba.


“Di bagian administrasi,” jawabku cepat sambil tersenyum bangga.


Tak lama receptionis menganggukkan kepalanya, kemudian kembali menatap kami


“Maaf Bu, Bapak Muhammad Zain di bagian administrasi tidak terdaftar di list karyawan kami” Receptionis mengatupkan kedua tangannya.


“Ah, si Mbaknya bercanda ini, sudah jelas putra saya bekerja disini” Mamer mengernyitkan dahinya, terlihat gurat heran di wajahnya.


“Betul Bu, Bapak Zain memang bukan karyawan disini” lagi receptionis menjelaskan.


“Coba cek sekali lagi, minggu kemarin saya kesini Mbak, suami saya keluar dari kantor ini kok” sedikit memaksa, aku terus berbicara pada receptionis.


Receptionis mengangguk, kemudian kembali meraih gagang telpon, dan kembali berbicara lagi dengan seseorang di seberang sana, kami tetap menunggu dengan perasaan yang entahlah.


Beberapa saat kemudian, receptionis menutup telponnya.


“Sudah kami cek berkali-kali Bu, tapi untuk nama Muhammad Zain di bagian Administrasi itu tidak ada” jelas receptionis.


“Yas, kamu yakin pernah kesini??” Mamer menatapku.


“Ya iyalah Mah, baru beberapa hari yang lalu Yas dari sini, nganterin Zain makan siang, Imam sama Budi juga ada di sini” jawabku yakin.


“Lalu, kenapa dia bilang tidak ada ya?? Apa Zain mengganti namanya??” tanya Mamah tiba-tiba, pertanyaan macam apa itu?.


“Kalau gitu, saya mau masuk keruang Administrasi saja boleh?” tanya Mamer.


“Mohon maaf Bu, selain karyawan di larang masuk” jawab receptionis.


“Ah, iya juga ya” Mamer dan aku kembali terdiam, memikirkan cara agar kami bisa menemukan Zain.


“Yas, duduk dulu disitu yuk, kamu pasti pegel banget kan??” Mamer menuntunku menuju kursi tunggu di loby, aku mengangguk, kemudian mengikuti langkah Mamer.


“Mah, masa iya Zain gak ada di daftar karyawan sih??” Aku bertanya, jujur hatiku begitu bingung, seketika ada desiran aneh di dalam dadaku, tapi entah apa, entah kenapa?.


“Ah, palingan juga itu receptionisnya yang salah, dia belum tau aja siapa Zainku” Mamah mengebikkan bibirnya.


“Iya juga ya, mungkin di sini, Zain kurang terkenal” Aku manggut-manggut, kuedarkan pandanganku, kantor tempat Zain bekerja lumayan besar juga. Wajar sih, kalau receptionis tadi agak keliru.


Sejurus kemudian, aku melihat seseorang yang memiliki perawakan seperti Zain, melintas di hadapanku, aku memperhatikannya dengan seksama, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya, karena tertutupi oleh dus minuman yang ada di pundaknya.


“Mah, kok itu mirip Zain ya??” Aku menyikut tangan Mamah pelan, berusaha menunjukkan apa yang aku lihat.


“Mana??” tanya Mamer sambil tetap mengipasi wajahnya dengan kipas.


“Itu” Aku menunjukkan orang yang lewat tadi dengan wajahku, Mamer mengikuti arahanku.


“Tapi, wajahnya gak kelihatan sih?? Ah, masa iya Zainku jadi tukang panggul minuman kayak gitu sih?” Mamah semakin mengibaskan kipasnya.


“Aku penasaran Mah” tiba-tiba aku berdiri, keinginanku begitu kuat untuk mengikuti orang tadi.


“Yas, jangan gegabah, gimana kalau itu bukan Zain??” Mamer menahan tanganku kuat.


“Aku penasaran Mah” Aku merengek.


“Ah, ya sudah, ayo kita lihat” Akhirnya Mamer mengalah, berusaha mengikuti keinginanku.


Akhirnya aku dan Mamer mengendap-endap mengikuti orang tadi, dia berjalan, begitu cepat, secepat aku melupakan mantan karena ada Zain, hheee.


“Bu Andi!!” seketika aku mengerjap, lalu menoleh pada arah sumber suara.


“Bu Andi kenapa disini??” tanya pria itu menghampiri kami.


“Ah, pak Anton?? Ini, saya mau menemui Putraku” jawab Mamer menjabat tangan pria itu.


Sementara aku celingukan, pria yang dari tadi kami ikuti hilang entah kemana, aku kehilangan jejaknya.


“Putra Ibu?? Si Zain?? Dia kerja disini?? Kok saya tidak tahu” jawab Pak Anton, sambil mengernyitkan dahinya.


“Ah, masa sih?? Zain bilang dia kerja disini??” Mamer masih tetap ngotot.


“Mah ...” Aku mulai menunduk, apa Zain bohong padaku ya??.


“Tenang sayang” Mamer mengelus kepalaku lembut, mencoba menenangkan aku.


“Ini menantunya itu ya Bu??” tanya pak Anton menunjukku.


“Ah, iya, ini Yasmin menantuku, istrinya Zain” jawab Mamer, sambil melirikku.


“Cantik sekali, kabarnya Bu Andi mau punya cucu juga ya??” tanya Pak Anton lagi.


“Ah, iya dong” Mamah tertawa.


“Waaahhh ... Bu Andi hebat, sebentar lagi akan ada penerus perusahaannya” Pa Anton ikut tertawa.


“Ah, Zain aja masih mau bekerja di tempat orang lain kok, gimana cucu saya pak??” ucap Mamer dengan nada sedikit kecewa.


“Emang Zain beneran kerja disini ya Bu?? Ini perusahaan saya lho Bu, tapi saya belum pernah melihat Zain sama sekali” Pak Anton menggaruk keningnya, mungkin dia sedang berusaha mengingat sesuatu.


“Loh?? Kok bisa ya??” Mamer juga ikutan menggaruk keningnya pelan.


“Sebentar saya cek dulu di bagian HRD ya bu, siapa tau mungkin Zain di tempatkan di posisi lain”


Akhirnya Pak Anton mengajak kami memasuki ruangannya. Kami di persilahkan duduk, sementara itu, Pak Anton menelpon karyawannya untuk memeriksa karyawan atas nama Muhammad Zain.


“Mah, apa Zain bohongin aku yah??” Aku berbisik pada Mamer.


“Mana mungkin Zainku seperti itu??” Mamer mendelik, aku kembali terdiam dan menunduk.


Tok ... tok ... tok ... ( Suara ketukan pintu )


“Masuk!!” teriak pak Anton.


“Maaf Pak, ini daftar karyawan yang bapak minta” terlihat sekertaris Pak Anton meletakkan sebuah kertas di atas mejanya.


“Iya, terimakasih” Pak Anton memanggutkan kepalanya, tak lama sekertaris keluar dari ruangan ini. Pak Anton meraih kertas yang di sodorkan tadi, kemudian membacanya dengan teliti.


“Loh?? Ini ada atas nama Muhammad Zain, tapi kok dia belum jadi karyawan tetap ya??” Pak Anton menatap kami bergantian.


“Maksudnya gimana Pak Anton??” Mamer berdiri mendekati Pak Anton.


“Iya, Zain bekerja disini, tapi hanya sebagai OB bukan bekerja di bagian administrasi” jelas Pak Anton.


“Apppaaaa???? Aaaaaaaa kepalaku” seketika, lutut Mamer tidak bisa menopang tubuhnya, dia terlihat lemah, dia terduduk sambil memegang kepalanya.


“Mamah ... “ Aku tak kalah kaget, aku terduduk dengan sendirinya.


“Yas, ambilin minyak angin Mamah, Mamah pusing ini” Mamer menunjuk tasnya yang tergeletak di atas meja, aku menurut, segera meraih tas, dan mengambil minyak angin lalu menyodorkannya pada Mamer.


“Bu Andi tidak apa-apa??” tanya Pak Anton cemas “Apa saya telpon pak Andi sekarang??”.


“Saya sangat kenapa-napa Pak Anton, bagaimana mungkin Putra kebanggaan saya bisa menjadi seorang OB?? Hhhuuuuaaaaa Zaaaiiiiinnnn!!!” Mamah menangis histeris, tidak terima dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya.


“Mamah ... hiks ... aku di bohongin lagi sama Zain” Akupun mengusap air mata yang luruh di pipiku.


“Tenang sayang, kita bicarakan semuanya baik-baik, kamu jangan banyak fikiran, biar semua ini Mamah yang beresin” dengan sigap Mamer berdiri, lalu bersiap menuju ruangan Administrasi di dampingi Pak Anton.


Bersambung .....................


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers .... like, komentar, bintang lima dan vote sebanyak banyaknya.


Baca juga SUATU HARI NANTI nya yaaaa ........