TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Gak bisa move on!


Beberapa hari ini aku terbaring lemah di atas ranjang, lemah, letih, lesu, lunglai, aku butuh Zain di sampingku titik!.


“Yas, makan dulu” Mamah menghampiriku dengan nampan berisi makanan di tangannya.


“Enggak!” jawabku ketus.


“Kalau kamu gak mau makan nanti kamu sakit Yas” bujuk Mamah.


“Aku memang sudah sakit Mamah,” keluhku.


“Kamu sakit apa Yas??” Mamah duduk di sampingku mencoba meraih dahiku.


“Bukan itu Mamah, ini yang sakit!” Aku menunjuk dadaku, menandakan ada rasa sakit yang teramat di dalam sini.


“Aiiihhhh ... Yasmin!, kamu masih saja memikirkan suami brondongmu itu?? Bukankah kalian menikah karena terpaksa?? Cih, menikah dengannya ternyata hanya membuatmu jadi semakin berfikir kekanakan, bukannya semakin dewasa!!” Mamah membentakku.


“Apa yang salah dengan brondong Mamah?? Zain itu suamiku Mamah, bagaimanapun bentuknya” Aku kembali merengek.


“Aku memang terpaksa menikah dengan Zain, tapi itu dulu Mamah, sebelum rasa itu ada, dan sekarang rasa cintaku semakin besar pada Zain Mamah, jadi aku mohon bantu aku Mamah, hum??” Aku menatap mata Mamah dalam-dalam.


“Berhenti merengek Yasmin!! Mamah tidak suka!! Sekali tidak ya tidak!!” Mamah beranjak dari duduknya, kemudian melangkahkan kaki menuju luar kamarku.


“Mamah jahat!!” Aku berteriak histeris.


“Ya ya ya, silahkan umpat Mamahmu sendiri Yasmin, suatu hari nanti kamu akan berterima kasih pada Mamah karena sudah melakukan hal ini padamu” Mamah mendelikkan matanya.


“Diam!! dan berhenti merengek, kamu sudah dewasa tidak pantas seperti itu!” Mamah kembali memutar tubuhnya menghadapku.


“Karena aku sudah dewasa Mamah, tolong biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri Mamah” Aku merangkak kemudian bersujud di bawah kaki Mamah.


“Aku mohon Mamah, restui hubungan kami, please“ Aku kembali mengatupkan kedua tanganku sambil bersimpuh di bawah kaki Mamah.


Terlihat, Mamah begitu terharu melihatku memohon, matanya berkaca-kaca, tapi Mamah kembali menggelengkan kepalanya.


“Berdiri Yasmin, dan jangan lupa makan makananmu, kamu perlu energi yang banyak, jika kamu mau terus menentang Mamah dan Papah” sahut Mamah sambil berlalu keluar kamar, menutup pintu dan menguncinya dari luar.


“Mamah!!!!” Aku menggedor pintu sekuat tenaga, tapi sia sia, mustahil pintu bisa terbuka begitu saja. Aku kembali merebahkan tubuhku di atas ranjang, memikirkan apa yang harus ku lakukan selanjutnya.


“Zain ... Kamu dimana??” Aku kembali memeluk permen kapas yang pernah di berikan Zain, dulu benda ini ku anggap sebagai hadiah penyiksaan. Tapi nyatanya sekarang benda ini justru menjadi saksi dari kenangan manis yang pernah kita lalui bersama.


“Zain, bagaimana cara kita mengatasi ujian rumah tangga kita kali ini?? Aku sungguh merindukanmu Zain, tapi apa yang bisa kulakukan sekarang Zain?? Jawab aku Zain” Aku meracau, kala ku ingat kembali semua ingatan tentang suami bocahku. Dari pertama kali kita bertemu, hingga kami di pisahkan oleh kedua orangtuaku.


Senyumnya, candanya, keluguannya, tawanya, dan segala keinmutannya, aku tidak akan pernah bisa move on dari Zain. Hiks .....


Bersambung .................


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, koment positif, bintang lima, dan vote sebanyak banyaknya. Author tunggu yaaaa.... terimakasih.