TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Siap-siap Liburan


Bingung. Yups, perasaan itu yang sedang melandaku sekarang, berulang kali aku mondar-mandir di dalam kamar, bahkan terapy paru-paru yang biasa kulakukan pun, sekarang sudah tidak berfungsi lagi.


Bagaimana mungkin aku tidak bingung???dengan semangat empat lima Pamer, dan Mamer sudah menyiapkan segala pretelan yang kami butuhkan ketika liburan nanti, dan tau lah ya, itu adalah permintaan si Bocah.


Dari mulai ticket pesawat, hingga hotel, kabarnya sudah di pesankan, aku bingung, sejak kapan Zain punya fikiran seperti itu?? dia ingin semuanya terlihat sempurna.


“Sebentar, Mamer bilang, aku sudah di siapkan hotel di sana ... sebentar, sebentar, hah??? Hotel?? ya ampuunn ...” Aku bergidik, kemudian senyum-senyum sendiri, taulah ya, apa yang kubayangkan. Aku perempuan dewasa, dengan harapan bisa secepatnya membangun rumah tangga yang baik bersama suamiku.


Ku bayangkan adegan malam pertama, “Hhii ... kenapa aku jadi berfikiran mesum begini sih??” Aku mengerjapkan mataku berulang kali, berusaha menghilangkan fikiran kotor dari fikiranku.


“Etapi, Zain??? pria klemar-klemir kaya Zain??bisakah dia?? dia kan masih kecil, etapi, bukankah Zaman sekarang anak-anak lebih cepat dewasa di banding umurnya?? ih ... bahkan aku sering menonton berita, ada banyak perempuan SMA hamil oleh teman pria SMA nya.”


Berkali-kali aku mengusir rasa khawatirku, “Aduuuhhh ... belum berangkat aja aku udah grogi banget ih “


“Ah, iya, aku harus menelpon Tante Meta,“ dengan sigap aku meraih ponsel, kemudian menekan tombol ‘Panggil’ pada nomor Tante Meta.


“Hallo Assalamu’alaikum Yas,“ dengan lembut, Tante Meta menyapaku di seberang sana.


“Wa’alaikumsalam Tante apa kabar??” jawabku.


“Alhamdulillah, baik, gimana kamu sehat??” tanya Tante Meta.


“Alhamdulillah, baik juga Tante“ jawabku ragu, aku menelpon Tante Meta kan, hanya untuk bertanya tentang pengalaman malam pertamanya dulu, hhee.


“Syukur deh, gimana hubungan kamu sama Zain, Yas??” tanya Tante Meta antusias.


“Ba baik Tante, sebenarnya ... eeemmm“ suaraku tercekat, entahlah aku bingung harus mulai menceritakannya dari mana.


“Kenapa???” terdengar suara Tante Meta begitu serius.


“A aku, mau pergi liburan Tante , hee“ jawabku malu-malu, sambil menutup wajah, padahal gak ada yang liatin.


“Liburan?? berdua aja??” tanya Tante Meta histeris.


“I iya Tante, hhii“ Aku terkikik.


“Wah, kemajuan yang luar biasa Yas, Tante ikut seneng sih“ Tante Meta tergelak di ujung sana.


“Apa??”


“Eeemmmhh ... anu Tante“ ah ... entahlah sulit bagiku mengatakannya, aku hanya bisa mengatakan anu-anu aja, ketularan gaya bahasanya Zain.


“Aha!! Tante tau, apa yang mau kamu tanyain, hhii ... sini Tante bisikin“ Tante Meta membisikan sesuatu ketelingaku, via telpon.


Aku terkikik, sambil melonjakkan kakiku, “Ah, Tante, malu-maluin aja, masa iya Yas harus kayak gitu sih??”


“Iihhh ... kamu, ya cobain aja dulu“ Tante Meta ikut tergelak.


“Kakaaaakkk!!” tiba-tiba terdengar suara si Bocah memanggil.


“Ya ampun, bikin kaget aja dia“ Aku menjauhkan telpon dari telingaku.


“Apa??!!” jawabku.


“Eh, Tante udahan dulu ya nelponnya, aku harus siap-siap sekarang“ pamitku.


“Iya Yas, hati-hati di jalan ya, jangan lupa pesen Tante hhii, dan satu lagi jangan lupa oleh-olehnya gkgkgk“ tawa Tante Meta pecah.


“Ah, iya iya“ jawabku, sambil memutar kedua bola mataku, emak-emak, emang paling semangat kalau di tanyain masalah begituan.


“Eh Yas,“ panggilan masih belum berakhir.


“Apalagi Tante??” tanyaku mulai jengkel.


“Semoga berhasil yah, Assalamu’alaikum“ truth ... telpon di matikan.


“Ya elah, semoga berhasil katanya, semoga berhasil apanya??”


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gengs....