TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Misi Sukses


“Diam kamu!!” Papah mertua mencengkram tanganku kuat.


“Hhhhhiiiiaaaaatttt!!“


BBBBbbbbuuukkk!!!!


“Papah!!”


“Zaiiinnn!!!!”


“Ya ampuunn Papah maafkan aku, aku tidak sengaja, Papah tolong maafkan aku, aku mohon” Aku mencoba meraih tubuh Papah mertua, yang tidak sengaja aku tonjok wajahnya. Entahlah jiwa mudaku selalu tumbuh di saat saat yang sangat tidak tepat. Kali ini aku salah sasaran, tapi mau bagaimana lagi, Papah mertua selalu menghalangiku untuk bertemu istriku.


“Jangan menyentuhku, anak brandalan!!” Papah mertua mendorongku, lalu menutup hidungnya, yang sedikit berdarah.


“Papah tidak apa apa kan??” Mamah mertua mendekati Papah mertua, tak lupa dengan hadiah kosmetik di tangannya.


“Anak kurang ajar!!” teriak Papah mertua.


“Maaf Papah” Aku membungkukkan tubuhku.


Kulihat, Imam dan Budi sedang berpelukan, tak menyangka dengan apa yang sedang kulakukan.


“Zaiiiinnnn!!!” teriakan itu.


“Kakak!!” Aku segera berlari menuju pintu, kemudian membukanya.


“Zain!”


“Kakak!”


Kak Yas menghamburkan dirinya ke dalam pelukanku, aku begitu merindukannya, begitupun sebaliknya.


“Zain, aku merindukanmu“ Kak Yas terisak.


“Aku apalagi Kakak, aku lebih dari itu” jawabku masih memeluknya erat, tak ingin berpisah lagi dari Kak yas.


“Heh!! anak nakal!!! berani kamu yah , auuuhhh“ Papah mertua mendorongku kuat, berusaha memisahkan aku, sambil terus menutupi wajahnya, yang tadi sempat aku pukul.


“Papah jangan pisahkan kami!!” teriak Kak Yas.


“Yasmin!! kamu juga kenapa jadi senakal ini??” teriak Papah mertua, mencoba menarik Kak Yas dari pelukanku.


“Kakak!! pingsan, ayo pura-pura pingsan” bisikku sambil mengedipkan mata kiriku memberi kode.


“Apah??” Kak Yas mengedikkan wajahnya.


“Pingsan, pingsan” bisikku lagi.


Bbbrrrrrrruuuukkk!!!


“Kakak!!! Kakak kenapa??” Aku berpura-pura membangunkan Kak Yas yang terkapar lemah dalam pelukanku.


“Yasmin!! Kamu kenapa??” Mamah dan Papah mertua langsung berebut memeluk anaknya.


“Kak Yas pasti hamil!!” teriak Budi tiba-tiba.


“Apppppaaaaaaa?????????!!!!!!!!” Mamah dan Papah mertua berteriak bersamaan.


“Ah, iya, Kak Yas pasti hamil anak aku” teriakku tersenyum bangga.


Kak Yas membuka sebelah matanya, menandakan dia tidak setuju dengan ideku.


“Aku akan membawa Kakak kerumah sakit!!” teriakku sambil membopong tubuh Kak Yas.


“Aku ikut!!“ Teriak Imam dan Budi kompak


“Kami juga harus ikut!!” Teriak Papah dan Mamah mertua bersamaan.


Aku segera memangku tubuh Kak Yas berlari menuju mobil.


“Ish, kenapa Kakak jadi berat sekali??” umpatku yang hampir membuat Kak Yas terjatuh.


Kak yas memegang tanganku kuat.


“Kakak, percayalah ini yang terbaik untuk kita” bisikku, kemudian kulihat Kak Yas mengangguk.


“Ish, dasar bocah nakal!! Bagaimana mungkin dia mampu mencetak anak?? Sementara dia masih anak-anak?? Anak muda zaman sekarang ... ooouuuhhh .... membuatku frustasi!!!” teriak Papah mertua sambil menoyor kepalaku.


“Eeehheeee ...” Aku terkekeh, melihat ekspresi Papah mertua yang kebingungan.


Aku duduk di kursi depan dengan Papah mertua yang menjadi sopir, Mamah mertua memeluk tubuh Kak Yas, sementara Imam dan Budi duduk di kursi belakang, dengan terus mengipasi wajah Kak Yas.


“Anak nakal!!! berapa nomor ponsel orangtuamu??” tanya Papah mertua tiba-tiba.


“Eeeeehhheee ... 0821...” Aku menyebutkan nomor Papah dan Mamahku, kemudian tak lama Papah mertua menghubungi mereka dan berbincang, saling memperkenalkan diri.


“Misi sukses!!” teriak Imam dan Budi. Di iringi senyuman bangga dariku.


Bersambung .................


Jangan lupa tinggalkan jejaknya readers,


Terus dukung kisah kami yaaaa Kakak Readers ...


@ Dede Zain & Kakak Yas.