
Ttttrrriiinnnggg .... tttrrriiinnggg ... ttrrriiinnnggg. ( Suara beker )
Seketika aku mengerjapkan mataku, masih memejamkan mata aku meraba kasur di sampingku, Zain masih ada.
“Eeeemmmhhh ... “ Dia menggumam,
Aku tersenyum “Kakak, ini jam berapa?” tanyanya, masih memejamkan mata, dengan suara serak khas bangun tidur.
Aku membuka mata sebelah, rasanya begitu malas beranjak dari tempat tidur.
“Hah??? udah setengah enam Zain, banguuunnn, bukannya kamu ada panggilan wawancara??”
“Apppaaa???!!” Zain segera bangun dengan krasak-krusuk dia menuju kamar mandi, setelah sebelumnya menyibak selimut hingga mengenai wajahku. Ish ...
“Kakak!! Jangan lupa siapin kemeja putih aku!!!“ teriak Zain dari dalam kamar mandi.
“Iyaaaa!!“ Akupun meraih dua buah kemeja dari dalam lemari, satu milikku untuk ku gunakan nanti ketika berangkat ke toko kue, dan satu lagi milik Zain.
Setelah aku menyiapkan kemeja, aku segera menuju kamar mandi belakang, untuk segera mandi dan menunaikan shalat subuh, meskipun sudah hampir pukul enam, tapi tak apa, yang penting aku tidak boleh melewatkan waktu shalatku “Maafkan hambamu ini ya Allah, aku lalai,“ lirih hatiku bergumam.
Dengan kecepatan super, aku segera melesat menuju dapur, berniat menyiapkan sarapan untuk Zain,
“Ini semua gara gara Zain, terlena dalam gelapanya lampu yang di matikan. Huh!!“ berkali-kali aku mendesah.
“Kakak!!! kenapa kemejanya jadi kekecilan!“ terdengar suara Zain dari dalam kamar.
“Ck, apalagi sih??” Aku bergumam, lalu beranjak menuju kamar.
“Apa?” Aku membuka pintu kamar, sambil menongolkan kepalaku.
“Kakak, sejak kapan kemejaku jadi begini?? ini kesempitan” Zain memperlihatkan kemeja yang di pakainya.
“Ugh, Zain kenapa kamu jadi kelihatan langsing banget??” Aku bingung.
“Kakak, gimana ini??” Zain garuk-garuk kebingungan.
“Ah ... ya ampun Zain, itukan kemejaku, lihat ini?? Inikan ada renda-rendanya“ Aku menunjuk renda-renda yang terdapat pada bawah kerah baju.
“Ish, gak tau apa aku lagi buru-buru?“ Zain membuka kembali kemeja yang digunakannya, kemudian melemparkannya ke sembarang arah, lalu menggunakan kemeja yang seharusnya di gunakan.
Aku menggelengkan kepala, kemudian kembali beranjak ke dapur. Kembali berkutat dengan kegiatanku yang tadi tertunda,
“Kakak!!“ teriakan itu terdengar lagi.
“Ish, apalagi sih??” Aku kembali menggerutu.
“Ya ampuunn ... kamu udah pake kaus kaki kenapa belum pakai celana??” tanyaku heran, dari tadi Zain mondar mandir dengan kemeja putih, boxer doraemon, dan sepasang kaus kaki hitam.
“Kakak, cepet cariin, aku udah kesiangan nih“ Zain masih mengacak-acak lemariku.
“Zain, mungkin celanamu masih di kamarmu “ usulku.
“Ini kamarku Kakak“ Zain mendelik.
“Maksudku kamar yang dulu“ Aku menelan ludah, tak sanggup dengan tajamnya tatapan Zain.
“Ah, iya“ Zain segera berlari menuju kamarnya, dengan kostum yang sama, bagaimana jika ada orang lain yang lihat?? Zain berlarian di dalam rumah hanya dengan menggunakan Boxer Doraemonnya. Ish, geli membayangkan.
Aku kembali lagi ke dapur.
Karena keadaan pagi ini amat kacau balau, kuputuskan untuk masak sesuatu yang mudah dan cepat, nasi goreng dan telur mata sapi. Yah, hanya itu yang bisa ku hidangkan.
“Kakak, aku mau berangkat!!!” terdengar suara Zain dari arah pintu depan.
“Zain, sarapan dulu!“ teriakku.
“Aku udah kesiangan banget kak!!” balasnya.
Aku segera berlari menuju pintu depan, membawa sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapinya.
“Kamu gak boleh melewatkan sarapan Zain“ Aku menyendokkan nasi, lalu menyuapi Zain.
Zain, menerima suapanku sambil menggunakan sepatunya.
Setelah beberapa suap, Zain segera berdiri, “Kakak, udah aku mau berangkat dulu“
“Ya udah, hati-hati yah“
“Baiklah, muach, muach, muach“ Zain menghujaniku dengan ciuman, ish, udah tau lagi buru-buru masih aja sempet sempetnya nyiumin aku.
“Kakak, hati-hati di rumah, doain aku“ Zain melambaikan tangannya, sambil melajukan sepeda motornya.
“Dah Zain, semangat yaaa“ Aku mengacungkan tanganku, tanda memberinya semangat.
Huh ... hari ini adalah hari paling rusuh sedunia. Ampun deh, semuanya gara-gara lampu gelap.
Bersambung .........
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, kasih Kak Yas dan Dede Zain dengan dukungan terbaik dari kalian, makasiiihhh.