TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Perpisahan


Dor ... dor ... dor ...


Aku mencoba menggedor pintu sekuat tenaga hingga tanganku memerah dan sakit.


“Papah!! Mamah!!! Tolong keluarkan aku dari sini!!!“ teriakku, tapi hening tak ada jawaban.


Lama aku berteriak, hingga suaraku hampir habis, akhirnya aku kembali keranjang dan terduduk.


“Kakak!!!” teriakan itu, aku mengerjap, lalu mendekati jendela yang di lapisi teralis besi.


Ku sibak gorden yang menutupi jendela kamarku,


“Zain!!” terlihat Zain sedang berdiri di depan jendela kamarku.


“Kakak!!!” tangan Zain meronta.


“Zain!!” Aku membalas teriakannya.


“Heh! kamu ngapain masih disini??” tiba-tiba Papah datang dan menyeret tubuh Zain hingga keluar pagar rumah, Zain meronta memanggil namaku.


“Kakak!!!”


“Zain,“ bisikku sambil menempelkan tangan di kaca.


Aku kembali terduduk di ranjang, memikirkan semua yang akan terjadi padaku selanjutnya, aku berharap kali ini semoga Zain bisa jadi pria yang dewasa, yang mau mempertanggung jawabkan aku. Zain mau mempertahankan rumah tangganya.


Jledaaaarrrr!!! jledaaaarrrr!!! jledaaaarrrr!!


Aku mengerjap, tiba-tiba suara petir saling menyambar, di tambah cahaya kilat yang menyeramkan.


“Kakak!” sayup di antara suara kilat, aku mendengar teriakan yang tidak asing di telingaku.


Aku kembali mendekati jendela, dan kembali menyibak gorden, terlihat Zain sedang berdiri di antara rinai hujan, di depan pagar rumah.


“Zain!!” Aku histeris seketika, tak tega melihat Zain kehujanan.


“Kakak!! aku akan tetap disini nungguin Kakak!” teriaknya.


Seketika air mataku menetes, tak tahan lagi dengan semua drama ini, aku ingin Zain, aku ingin memeluk suami kecilku.


“Kakak!!! aku mencintai Kakak! sangat mencintai Kakak!!” teriaknya lagi.


“Zain!! aku juga sangat mencintaimu!!” teriakku dari dalam kamar.


Hujan terus mengguyur kota, pandanganku tak lepas dari Zain yang tengah berdiri dengan kokohnya di depan pagar. Hingga satu jam berlalu, kulihat tubuh Zain agak oleng.


“Zain!!!” Aku menempelkan tangan di kaca, berusaha ingin menggapainya, tapi ini adalah harapan yang sia-sia.


Tak lama kemudian ... aku melihat tubuh Zain ambruk, di tengah cuaca ekstream ini, Zain tak akan kuat berdiri selama itu. Aku berlari mendekati pintu.


“Papah! Mamah!! buka pintunya!! Zain pingsan Papah!!” Aku terus berteriak histeris, meskipun aku tau ini adalah hal yang akan menjadi sia-sia.


“ah, iya!! Om Bayu dan Tante Meta, aku akan meminta mereka untuk menjemput Zain“ teriakku girang, aku baru terfikirkan.


Ku raih ponselku, lalu aku menelpon Tante Meta, agar segera menjemput Zain dari depan rumah, dan Tante Meta menyetujuinya.


Tak lama berselang, dari kejauhan aku melihat mobil Om Bayu datang, kemudian Om Bayu turun, dan memapah tubuh Zain di antara derasnya hujan. Zain menatap kebelakang, seolah ingin meminta izin dariku. Tubuh Zain terlihat sangat lemah. Aku kembali menangis.


Ponselku berdering, aku segera meraih ponselku, kemudian mengangkatnya, setelah terlihat nomor Tante Meta yang memanggil.


“Hallo Assalamu’alaikum Tante“ sapaku parau


“Wa’alaikumsalam, Kakak ini aku“ terdengar suara Zain.


“Zain, gimana keadaan kamu?” tanyaku dengan suara yang gemetar.


“Aku baik Kakak, Kakak aku besok akan datang lagi kesana, Kakak baik-baik ya tanpa aku“ Ku dengar suara Zain bergetar, seperti menahan tangis. Ah ... dia memang suami yang cengeng. Seperti aku.


“Zain, hariku akan sepi jika tanpamu“ Aku menangis terisak.


“Kakak, aku janji, aku akan mempertahankan rumah tangga kita,“ ucap Zain semangat.


“*Aku percaya padamu Zain“


“Kakak“


“Apa*??”


“*I Love you Kak“


“I love you too Zain“


“Sayang ...”


“Hhhmmhhtt Sayang*“


“Yasmin!” tiba-tiba Mamah sudah berdiri di sampingku, merebut ponsel yang tengah aku genggam.


“Mamah??”


“Jangan berhubungan dengan dia lagi!” teriak Mamah.


“Tapi mah,“


“Jangan membantah!!”


“Mah, Zain suamiku“


“Sebentar lagi akan jadi Mantan suami“ Mamah menekankan kata pada kata ‘Mantan’.


“Mamah Jahat!!”


“Ini demi kebaikanmu Yasmin!”


Mamah kembali beranjak keluar kamarku, menutup pintu dan kembali menguncinya dari luar.


“Mamah Jahat!” teriakku frustasi. Aku kembali menangis sejadi-jadinya. Entah apalagi yang harus kulakukan sekarang.


“Zain segeralah datang, jemput aku“ lirih hatiku bergumam.


Bersambung ..............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ..............