TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Rencana Resepsi


“Eh, besan menurutmu bagaimana jika resepsinya anak anak kita itu, menggunakan adat Sunda?? Soalnya kami asli suku Sunda” usul Mamah Zain ketika kami duduk di ruang keluarga, sepulang dari rumah sakit.


Para orangtua masih belum mengetahui kebenarannya atas kehamilan bohongku.


“Eh, tidak bisa! resepsinya harus menggunakan adat Jawa, karena kami asli dari Jawa!” teriak Mamahku ngotot.


“Haduuhhh ... aku tidak suka dengan adat Jawa besan, terlalu merepotkan” bantah Mamer.


“Memangnya adat Sunda juga tidak merepotkan apa??” mamah mendelik.


“Stop Mamah, stop!! Zain pusing dengernya, Mamah dari tadi hanya terus berdebat masalah resepsi” Zain berdiri, menghentikan perdebatan para Mamah.


“Ish, Zain kamu tidak mengerti! semuanya harus di tata serapih dan seperfect mungkin, acara ini hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup, kalian tenang saja, semuanya biar kami yang urus okeh??” Mamah mertua memberi kode OK pada tangannya.


“Ish, ya sudah, terserah Mamah aja” Zain mendelikkan matanya.


“Jadi gimana besan?? Kita jadinya menggunakan adat apa??” Mamah mertua kembali melanjutkan obrolannya.


Sementara para Papah sedang mengobrol di teras belakang, tak kusangka, ternyata mereka bisa seakrab itu, mengingat beberapa hari yang lalu, perangai Papahku sungguh tidak menyenangkan. Mereka terlihat sangat akrab, membicarakan bisnis, dan hal-hal tidak penting lainnya.


“Kakak" Zain berbisik, mengedikkan matanya memberiku kode.


“Apa??” Aku membalas bisikannya.


Wajah zain memberi kode, menunjuk arah kamar. Aku mengerutkan dahiku “Apa??” tanyaku lagi.


“Kamar” bisiknya.


“Oh, okeh“ jawabku semangat, menghilang dari obrolan yang membosankan adalah hal terbaik bagiku. Meskipun Mamah sedang merencanakan acara resepsi untukku, tapi aku sama sekali tidak di beri kesempatan untuk memilih keinginanku sendiri. Semuanya sudah di kuasai Mamah dan Mamah mertuaku. Ya sudahlah, sebagai anak aku manut saja.


Aku berdiri, kemudian melajukan kaki, menuju kamarku di ikuti Zain.


“Ciiieeee ... hhii“ tiba-tiba terdengar tawa usil dari Mamer, aku menoleh, entah apa yang harus kukatakan.


“Gak apa-apa, kami mengerti, silahkan kalian ke kamar saja” Mamahku pun ikutan jahil, terkekeh geli melihat wajahku yang sudah memerah.


“Ehhheeee“ Zain garuk-garuk, kemudian secepat kilat menuntunku masuk kedalam kamar.


Brugh ... ( Pintu di tutup )


“Haduuhhh Kakak, celaka ini celaka!!” seru Zain sambil mengacak rambutnya, sementara aku menggeloyor menuju ranjang, kemudian merebahkan tubuhku, rasanya drama hari ini sungguh sangat melelahkan.


“Au ah, aku juga pusing mikirinnya Zain,“ jawabku so tak peduli, padahal di dalam hatiku sudah berkecamuk hebat, entah apalagi yang harus kulakukan.


“Kakak, ayo bantuin aku buat mikir, aku pusing ini” Zain terus mengacak rambutnya yang tak berdosa.


“Zain, tenang!! tteeennnaaanggg“ pintaku sambil menarik napas panjang.


“Tenang gimana Kakak?? Memangnya Kakak mau kita di pisahin lagi??” tanya Zain, menatapku lekat.


“Tidak” jawabku enteng


“Lalu??” tanyanya.


“Kita jalani saja dulu resepsinya, kalau sudah di gelar resepsi baru kita jujur” jawabku santai.


“Ah, iya juga, kenapa aku tidak berfikir begitu juga??” Zain terlihat sumringah.


“Emh, makanya, kalau mau apa-apa itu harus teeeennnaaannggg“ Aku tersenyum bangga.


“Eh, Kakak, ngomong-ngomong, berapa lama kita berpisah??” tanya Zain mendekatiku, lalu mengenggam erat jemariku.


Aku memutar kedua bola mataku “Mungkin sekitar dua minggu??” jawabku asal.


“Aaaaaa dua minggu ya??” Zain menatapku dengan senyuman mesumnya.


“Ish, awas minggir” Aku mendorong tubuh Zain yang sudah semakin rapat dengan tubuhku.


“Kakak, cara terampuh agar kita tidak di sebut pembohong, adalah membuat semua yang kita katakan menjadi sebuah kebenaran” Zain berbicara sambil mengacungkan telunjuknya.


“Ma maksudnya??” Aku menggeser tubuhku perlahan, faham dengan tujuan suami bocahku.


“Maksudnya ini Kakak”


“Zain !!! aaaaaaa, ini masih siang!!! Ampun deh!!!”


Bersambung ....................


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, terus dukung kisah dede Zain dan Kakak Yas, dengan segala apresiasi yang readers bisa, author tunggu yaaaa.... makasiiihhh ....