TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Maluuuuu


Empat hari sudah, kami berada di tempat ini, menjalani hari hari yang menyenangkan, dan tepat hari ini, aku harus kembali pulang ke rumah, karena jatah liburan kami sudah berakhir, dan kini saatnya kami harus kembali kedunia nyata, untuk melakukan tugas lainnya.


“Zain, bangun“ Aku menyibakkan selimut yang masih menutupi tubuh Zain,


“Gak mau Kakak, aku masih mau bobo“ Zain, menangkap tubuhku, hingga tubuhku menjadi menimpa tubuhnya.


“Muach, muach, muach“ Zain menghujaniku dengan ciuman. Ck, bocah mesum.


“Zain, hentikan, ayo kita siap-siap, nanti sore kita pulang“ ajakku, sambil mencoba berdiri.


“Kakak, aku masih betah disni“ Zain merajuk lagi. Ck.


“Zain, tidak bisa kita harus pulang, aduh Zain lepaskan!“ Aku meronta, kala Zain semakin mengeratkan pelukannya.


“Aku gak mau, Kakak, gimana kalau kita perpanjang lagi masa liburannya??” Zain memberiku ide, yang jelas akan aku tolak.


“Gak, kita pulang sekarang“ Aku bangkit, setelah pelukan Zain melemah.


“Gak, gak, gak“ Zain nguel-nguel di bawah selimut,


“Ck, Zain“ jurus ampuhku ku keluarkan, memanggil namanya, dengan tatapan yang membunuh.


“Ish, istri kejam, iya iya iya!“ Zain beranjak, kemudian dia masuk kedalam kamar mandi.


Aku terkekeh, kemudian melanjutkan kegiatanku membereskan barang-barang yang akan aku bawa pulang. Terutama oleh-oleh, untuk Mamer oleh-olehnya sebuah tas cantik, untuk Pamer sebuah topi yang sangat lucu, kalau untuk mereka harus oleh-oleh terbaik lha ya, kan biar tetep jadi mantu kesayangan, hhee.


Dan untuk Tante Meta dan Om Bayu oleh olehnya berupa kaos khas daerah tempat ini, tak lupa juga buat Riyan, and the geng, aku juga sudah mengemaskan oleholeh buat mereka semua.


Di Bandara ...


“Zain, Yas!!!” terlihat dari kejauhan Pamer dan Mamer, melambaikan tangannya pada kami.


“Ish, Zain, kamu memberitahu mereka agar menjemput kita??” tanyaku mendelik pada Zain.


“Eehheee ... aku sudah sangat merindukan mereka Kakak,“ Zain berjalan mendahuluiku, kemudian berlari menuju orangtuanya, meninggalkan aku yang melongo dengan barang bawaan seabrek, termasuk hadiah penyiksaan dari Zain, juga tak luput dari genggamanku. Awalnya aku berniat untuk meninggalkannya di hotel, tapi, yah ... suami bocahku marah, dan memaksaku untuk tetap membawanya. Dia bilang aku tak mengharagainya, jika aku tak membawanya pulang. Ish ...


“Zain, gimana liburannya?? seneng??” Mamer membuka suaranya.


“Yas, terimakasih sudah menjaga Zain kami ya“ Mamer memelukku.


“Iya, sama-sama Mamah“ Aku tersenyum.


“Aduuuhhh ... gerah yaaa“ Zain membuka syalnya dengan polos.


Oh!!! noooooooo!!!!


Mamer dan Pamer untung masih cuek, tidak melihat sesuatu yang aku khawatirkan.


“Ya ampuuunnn Zain kami ternyata kepanasan, Papah, ambil kipas di dalam tas Mamah“ Perintah Mamer, Pamer menurut, memberikan kipas dari dalam tas kepada istrinya, lalu Mamer mengipasi putranya.


“Yang ini panas Mah“ Zain menunjukkan lehernya, untuk di kipasi emaknya.


Aaaaaaa!!!! tidaaaaaakkkk!!!!


Aku menutup wajahku ‘Zain emang keterlaluan!!!!'.


Mamer menghentikan aktifitas mengipasi putranya, lalu menyenggol lengan Pamer dengan bahunya, mengedikkan wajahnya, pada tanda ungu kemerahan di leher Zain.


“Uhukk ... uhukk ... uhukkk ... Mamah, apa kita sebentar lagi akan segera memiliki cucu??” tanya Pamer, Mamer tertawa penuh arti.


Mereka bertatapan, lalu saling tersenyum.


“Mamah, apa kita juga perlu melakukan bulan madu??” Pamer mengenggol bahu Mamer dengan bahunya.


“Aaaaaa ... Mamah suka jalan-jalan“ Mamer mengangguk antusias tanda setuju.


“Ya ampuunnn ternyata Zain kami, sudah dewasa, sudah menjadi pria sejati“ Mamer mencubit pipi anaknya dengan gemas.


Sementara aku???? Bolehkah aku menenggelamkan diriku di rawa-rawa??? rasanya malu bangeettt!!!.


Bersambung........................


Jangan lupa dukung terus kisah Kakak Yas dan Dede Zain nya yaaaa..... agar mereka tetap bisa update setiap hari.